IDE itu mahal.. (Membangun Rumah di Lahan Miring)
April 24, 2008
Sudah rezekinya, Mamah menghibahkan sebidang tanah kecil untuk saya dan Mas. Kecil, lebar 8 meter serta panjangnya 21 meter. Ditambah lagi tanah tersebut miring, dengan kemiringan 45 derajat (ahhhh so` tahu derajat
). Jadi, berapakah panjang sisi miring tanah tersebut? hehehehehehe
Bukan sedang UASBN Matematika! ![]()
Yang jelas, tanah tersebut datar sepanjang 5 meter, kemudian menurun dengan kedalaman 5 meter. Kemudian datar lagi sepanjang 3 meter. Ya kira-kira gitu deh.
Ini membuat saya dan Mas kesulitan membayangkan jika kita membangun rumah di atas tanah tersebut, seperti apa rumahnya? Tak terbayang jika harus meratakan tanah tersebut, berapa volume tanah yang harus saya dan Mas beli untuk membuat lokasi menjadi rata (hayo berapa hayo!
)
Beberapa rumah di sebelah tanah tersebut, kebetulan rumah Kaka-kaka saya, bermacam-macam:
- Sistem layering, ruangan berbeda-beda ketinggian.
- Sistem rumah tingkat, jadi 2 tingkat.
Sementara banyak batasan dari Saya:
- tidak mau luas, karena tidak punya duit
- tidak mau rumah tingkat bervoid karena parno ada yang akan terjatuh
- tidak mau bertingkat tapi terkesan rumah terpisah
- tidak mau tidak ada halaman belakang
- ada beberapa pusat kehidupan, pusat pekerjaan, pusat tidur (artinya ruang tidur dan ruang kerja harus dijauhkan; sesuai dengan saran Oprah Winfrey).
Ini.. constraint banyak, padahal budjet sangat dibatasi. So` bener ya?
Karena itu saya mengontak teman saya, seorang arsitek namun spesialisasinya adalah Urban Design. Sigit namanya
. Asli Batang, magister dari Netherland (gaya yah
). Teman yang baik sekali, hehehehe, meski saya pernah pengen menggetok dia karena dalam sebuah pekerjaan dia sangat baik terhadap User; sementara saya dan Mas yang bagian uring-uringan (main Peran Good Cop Bad Cop?). No hard feeling, tak seorang Userpun dapat membuat perpecahan antara saya dan dia! Apalagi dalam hal konsultasi kearsitekan, tentu saya mengandalkan dia ![]()
Kasian sekali dia, hihihi, sudah 3 denah ditawarkan.
- masih terlalu luas, duitnya ga ada hiks
- kamar anak-anak masih kurang cahaya
- ini itu ini itu
Dasar ya ![]()
Tapi kan justru karena (saya) TIDAK punya uang, maka harus punya ide (Ide dia sih maksudnya). ![]()
Dalam keterbatasan, justru haruslah lahir siasat. Itu gunanya berilmu yah he he. Saya jadi ngeri, barangkali harga pembangunan rumah bisa ditekan, tapi biaya menghasilkan IDE (dia) yang akan MAHALLLL ha ha ha..
Catatan:
Harga rerata pembangunan rumah di Bandung adalah 2-3jt/meter persegi
Rumah 70m2 saja perlu 140jt, kosong. Belum furnitur, belum desain interiornya, jangan lupa biaya administrasi. Biaya ijin Bangunan di Bandung, kisaran 4jt.
Lumajan..
Barangkali harga arstiteknya berapa?
. Nah, bagaimana mengukur mahal tidaknya sebuah gagasan ya?
April 24, 2008 at 10:36 am
yik…
itu mah cita2 gua.. punya tanah yang bisa dibangun rumah dengan ruang berbeda2 ketinggian
bukannya lucu ya malahan…
model modern minimalis.. bagian yang belakang yang tingkat, tapi tingkat ke bawah… siga malya tea…
April 24, 2008 at 5:26 pm
ternyata susah, soalnya tanah itu memanjang; jadi banyak batasan pencahayaan (gile udah ketularan bahasanya arsitek euy)
malya, masih adakah?
arsiteknya jagoan tuh..
April 26, 2008 at 8:13 am
ada lowongan pekerjaan arsitek nih ? Dibikin sayembara saja.
May 1, 2008 at 6:11 am
Ayi, itu teh Sigit yang lulusan AR ITB tahun 93 bukan? salam ya….
August 2, 2008 at 4:06 am
salam kenal teh,
hmm…kita punya masalah yang sama…
jadi ikutan ‘miring’ mikirin lahan miring u/ bgn rumah…
March 4, 2009 at 3:29 am
hai..lam kenal.sy jg lg mau bangun rumah di lahan miring nih.
Bingung,bisa liat contoh desainnya ga?Tq
March 4, 2009 at 3:35 pm
inggit, dina halo..
ada nih desainnya; tapi gimana ngeliatinnya ya?
saya coba cari filenya, ntar di upload di sini deh..
tanah di saya ternyata super miring; membentuk sudut berapa ya; yang jelas kalo ditarik garis vertikal, ada 5m..