Digital Mark Reader di UASBN

May 15, 2008

@Unpas, menyambut Kaka yang baru pulang dari UASBN..

Wah hari terakhir ya? Besok masih ada UAS. Lumayan melegakan? Lega?

Sebetulnya kalo mau dibuat lega, ya lega. Tidak lega, ya tidak lega.

Anak-anak optimis merasa bisa mengerjakan soal-soalnya, tapi siapa yang bisa menanggung jika Lembar Jawab Komputer tidak bisa membaca tanda silang yang dibuatkan oleh anak-anak?

Ya, tahun ini Lembar Jawab Komputer menggunakan sistem silang dan akan diperiksa oleh Digital Mark Reader. Teknik DMR dan Software DMR? Yeah.. Mengandalkan software? Ahhh.. Adakah software yang bebas dari defect?

Digital Mark Reader itu sendiri; saya kutip dari ilmu komputer:

Digital Mark Reader adalah inovasi terbaru dalam memasukkan data ke dalam sistem komputer. DMR “membaca” tanda pensil, pena, maupun spidol pada posisi-posisi tertentu yang telah ditentukan sebelumnya pada isian/form sebagai jawaban terhadap pertanyaan maupun penentuan pilihan dari daftar yang telah ada. Sistem pemasukan data DMR mengekstrak data berupa ada tidaknya tanda pada form yang telah diisi menjadi informasi yang lebih bermakna.

Teknologi DMR memungkinkan kecepatan tinggi dalam pembacaan data berjumlah banyak dan menyalurkan data tersebut ke komputer tanpa menggunakan keyboard. Proses lebih lengkapnya sebagai berikut:

  1. DMR melakukan pemindaian terhadap form menggunakan alat pemindai/scanner biasa yang tersedia di pasaran, model flatbed maupun dengan feeder. Penggunaan alat pemindai yang memiliki feeder akan memperkecil waktu pemrosesan.
  2. Data berupa citra digital yang sampai ke komputer selanjutnya disimpan dan dilakukan pendeteksian keberadaan tanda.
  3. Hasil pendeteksian tersebut kemudian diproses untuk memperoleh penyajian informasi yang lebih bermakna serta sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

Ah saya sertakan saja paper dari ilkom tersebut ya, ada foto pa Ipingnya loh (hi hi hi). Bisa diambil di sini.

Pada simulasi UASBN lalu, yang diselenggararakan oleh Diknas, beberapa anak – teman-teman Kaka, mendapat nilai cukup baik ketika hasil UASnya diperiksa secara manual. Begitu hasil keluar dari Diknas, beberapa menurun nilainya. Tentu ini mengecewakan sekaligus menakutkan. Percuma dong bisa mengerjakan tapi LJK tidak bisa dibaca DMR. Indikasi anak-anak kurang tegas mencoretkan silang? Salah pensil? Ato salahkan DMRnya

About these ads

57 Responses to “Digital Mark Reader di UASBN”

  1. Jono Says:

    ayo, kita minta puspendik mempublish file gambar GIF hasil scannya! kan ada tuh gambarnya yg dibaca jadi data oleh software. Saat nya dunia akademik terbuka! Setuju????

  2. aditya Says:

    Hmm.. kalau gambar digital LJK disimpan, memang seharusnya dipublish untuk menjamin transparansi. tidak repot toh.

    Kalau memang banyak ketidakcocokan antara periksa manual (oleh masyarakat) dengan melalui software (diknas) seharusnya dilakukan pengkajian ulang peralatan yang digunakan, misal dengan pensil yang lebih bagus, software yang lebih akurat, scanner yang lebih tajam.. Sustainable development!

    Akan baik sekali jika sebelum event ujian diadakan seleksi kinerja secara terbuka terhadap peralatan yang digunakan..


  3. Ass. Wr. Wb.
    Sebenarnya diknas melalui puspendik sudah menyelenggarakan penilaian Uji/Evaluasi Teknis secara terbuka dalam Lelang Pertama, dan 4 besar hasil uji teknis dimenangkan oleh rekanan software SMR (Smart Mark Reader), berturut2 yaitu PT. Astra Graphia Tbk, PT. Sumbermulia Hasilguna, PT. Informatika Karya Indah, dan PT. Esatek. Sedangkan rekanan software DMR itu urutan ke 5 yaitu PT. Bufatra.

    Karena adanya fitnah yang berkumulatif dgn tekanan politik sgt tinggi, akhirnya Lelang 1 diulang (sampai saat ini tidak ada alasan yang jelas dan terbuka mengapa dilakukan lelang ulang) dan akhirnya lelang diganti dengan sistem Pemenang adalah Harga Terendah. Shg saat ini SOFTWARE DMR MENANG KARENA HARGA TERENDAH (penawar dgn harga paling rendah/murah), BUKAN KARENA KEUNGGULAN ASPEK TEKNIS.

    Nasi sudah menjadi bubur! UASBN sudah berlangsung!
    Jika ingin melihat kualitas DMR, maka desaklah diknas Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) agar gambar LJK hasil scan dipublish via internet, dan perhatikan puluhan ribu LJK yang diisi dengan pensil tipis, dan silakan uji persepsi Anda!
    Mgkn Anda akan bertanya-tanya bgmn mungkin sebuah jawaban yang seharusnya ditentukan dari kejelasan sebuah tanda silang, tapi ternyata saat pensil tipis dan gambar tanda silang menjadi berupa titik2 yang tidak jelas ternyata software dipaksa untuk membaca gambar LJK tsb? Layak kah?

    Sesungguhnya…

    klo HATI sudah MATI… SOLAT pun jadi ALIBI… HARTA jadi TUAN… JABATAN jadi PEDANG… FITNAH jadi PEMBENARAN… ingatlah BATIL dan HAQ itu bagai BENANG MERAH, yang MUDAH dibedakan, bukan dgn AKAL tapi dengan HATI…

    Dimas P Prabowo,S.T. (08157 22 44 100)
    “katakanlah kebenaran meski itu pahit…”

  4. Arif Rahmat Says:

    Salam kenal,
    Saya Arif, Dedengkot DMR #2.

    Hati-hati terprovokasi. Saya hanya meminta pemilik blog dan pembaca lainnya untuk tidak mudah percaya pada komentar Dimas.

    Kalau kalah tender, jangan bilang difitnah lah. Karena kenyataan yang terjadi menurut saya kebalikannya. Kalau keberatan, mekanismenya sudah tersedia kok.

    Kalau aib (Anda) disembunyikan oleh Allah, harusnya bersyukur dong. Jangan minta (atau memancing untuk) dibeberkan.

    Tender pertama diulang karena kecurangan, dan salah satu yang melaporkan kecurangan tersebut adalah perusahaan yang bawa DMR, tapi perusahaan yang membawa DMR bukanlah satu-satunya yang melapor. Artinya, perusaha yang membawa DMR serta orang-orang di belakangnya punya komitmen untuk tidak berlaku curang namun tidak lantas tinggal diam ketika kecurangan terjadi di depan mata.

    Kecurangan tersebut dilaporkan secara resmi ke pihak berwenang, dan hasilnya adalah adanya tender kedua. Bila kecurangan tersebut dibeberkan, mungkin pelakunya akan menanggung malu yang sangat besar, siapakah itu? Lebih baik di sini saya diam.

    Pada kesempatan ini saya berikan pernyataan bahwa pada tender kedua, DMR lulus uji teknis setelah diuji secara objektif oleh rekan-rekan dari Puspendik dan diawasi dengan ketat oleh utusan Inspektorat Jenderal Depdiknas.

    Mengenai kualitas pembacaan oleh software, uji teknis pada tender pertama di Depdiknas yang disaksikan oleh sekian banyak tim penilai sepakat bahwa belum ada perangkat lunak yang ‘sangat memuaskan’, bahkan oleh Mr. G, Dedengkot-nya Puspendik.

    Mengapa? Karena semua bisa terlihat, dapat dibandingkan antara hasil isian peserta dengan LJK sebenarnya, tidak seperti OMR, teknologi lama.

    Oleh karena itu, pasca peresmian DMR UASBN sebagai software resmi UASBN, Puspendik memberikan banyak masukan kepada tim pengembang DMR untuk melakukan peringkasan dan peningkatan kemudahan dalam hal scanning.

    Wajar bila DMR UASBN yang digunakan pada UASBN 2008 hak ciptanya ada pada Depdiknas. Jadi, dalam kesempatan ini, saya juga membela rekan-rekan di Depdiknas yang telah berkorban begitu banyak demi jutaan peserta UN dan UASBN.

    Software yang kita kembangkan mungkin sudah OK, tapi dalam konteks UASBN masih ada sekian banyak faktor yang turut menentukan keberhasilan di lapangan. Apa saja itu?

    1. Operator, tingkat kepandaian dan pengalaman, ikut training atau tidak, serta kemampuan mengakses/menerima informasi dan berkoordinasi dengan pusat.
    2. Komputer dan Scanner, dalam hal kecepatan, kualitas, kuantitas, keamanan dan reliabilitas.
    3. Kualitas dan validitas data pendukung yang tersedia.
    4. Perbandingan jumlah sekolah dengan petugas dan peralatan yang ada.
    5. Kerjasama dan itikad baik panitia pelaksana.
    6. Ketegasan kebijakan yang diberlakukan.
    7. Kesigapan dan pelayanan tim pemberi dukungan teknis.
    8. Faktor yang tidak terduga.

    Kita mestinya memberi penghargaan setinggi-tingginya kepada setiap operator di dinas pendidikan kota/kabupaten dan propinsi yang rela bekerja di luar waktu normal bukan demi dirinya, namun demi memberikan hasil yang terbaik bagi para peserta UASBN.

    Menanggapi penulis artikel pertama, Dinas Pendidikan Kota Bandung menurut catatan kami tidak atau belum menggunakan Digital Mark Reader (DMR) untuk UAS. Mungkin perlu diklarifikasi, software apa yang digunakan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung (atau rekanannya) saat itu.

    Semoga Yang Maha Kuasa memberikan berkah dan ampunan bagi kita semua. Mohon maaf bila ada yang tidak senang dengan tulisan ini, alasan pembuatannya sekedar untuk klarifikasi tulisan dan komentar sebelumnya.

    Terima kasih atas approval-nya.

    Arif Rahmat
    Dedengkot DMR #2
    http://digitalmarkreader.com


  5. Wah… Arif Rahmat (ini kakak kelas sy if99 ITB) sampai tahu ada kecurangan, boleh tau gak ya ada apa sebenarnya? Siapa yg curang? Pihak software SMR? Perusahaan Rekanan SMR? Panitia? atau siapa? Klo kmu tahu jgn kmu berkonspirasi ya??? ^_^
    Sampai saat ini, saya tidak tahu mengapa tender pertama dibatalkan??? dan tidak ada keterangan sampai detik ini. Tender tidak bisa dibatalkan begitu saja, landasan hukum harus jelas dan mengacu pada Keppres No.80 tahun 2003 tentang Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

    Fakta yg terjadi adalah sbb :
    ==============================
    1. SMR menang nilai uji teknis secara telak (4 besar) dari 16 perusahaan peserta lelang. Hasil lelang sudah diumumkan dimenangkan oleh PT.SumberMulia HasilGuna. Setelah melewati batas masa sanggah, lalu tiba2 tender dibatalkan tanpa penjelasan. Gila ya??? padahal Indonesia adalah Negara Hukum dan reformasi sdh 10 tahun lalu. Klo hak-hak warga tidak dilindungi, bgmn bisa berharap kewajiban dituntaskan!
    2. Ada informasi yg mengatakan terbit “Surat Sakti” yang membatalkan hasil tender pertama dari pihak Inspektorat Jenderal Depdiknas. Mengapa? ini kekuatan kumulatif antara politis dan fitnah yg sgt kuat!
    3. Dasar Hukum Pembatalan Sepihak sama sekali tidak ada, dan tidak pernah diungkapkan, seharusnya lelang hanya bisa batal bila melanggar Keppres No.80 atau tdk sesuai RKS (Rencana Kerja dan Syarat-syarat)
    4. Pelaksanaan UASBN di DKI Jakarta menuai banyak siswa nilai 0 koma dan 1 koma, stlh kepsek protes jadi 7 koma atau 8 koma karena banyaknya pembacaan LJK yg bergeser? Jgn2 ada siswa yg nilai 7 atau 8 padahal seharusnya 10? Kenapa terjadi???
    5. Salah 1 penyebab pergeseran adalah noise dan kemiringan, bukti kesalahan adalah dari sistem, bukan operator, buktinya sangat banyak dan mudah didapatkn.
    Atau coba saja DMR UASBN menscan dgn LJK miring!
    6. Dgn sistem gugur harga terendah, spesifikasi teknis di lelang ulang jelas2 menyebutkan Software mampu membaca LJK yang miring atau terotasi. Namun entah bgmn DMR bisa lolos, pdhl software UASBN 2008 klo LJK miring pada gagal baca/error semua.. ya kan? ini fakta yg mudah dibuktikan? kok bisa lolos sih?
    6. Adalah benar DMR menang karena harga terendah, tapi jgn membodohi publik dgn mengatakan menang karena kualitas…
    7. UASBN 2009 tidak ada jaminan dgn DMR lagi… terlebih ada kekacauan nilai di DKI, lalu bgmn dgn propinsi lain???
    8. DMR memfitnah SMR curang dgn menyediakan operator yg dianngap “joki” dan dilaporkan ke Irjen, perlu diketahui Alip Suratno adalah operator padahal dia adalah CV.Cipta Citra Codena, prinsipal DMR.
    Arif mungkin berkelit, prinsipal DMR yg maju ke tender adalah PT.Perismatek… nah ini makin gawat lagi… mana yg benar??? Codena atau Perismatek??? Negara bisa tertipu… Oya, perihal fitnah tsb, saya sdh sampaikan bhw tuduhan Arif byk unsur yg tidak benar dan fitnah lgsg via telp ke Pak Iping, namun beliau menolak mencabut dan mengganggap itu urusan Arif Vs Dimas, ya Oke saja! Let’s berpolemik Rif!
    9. Dulu DMR melaporkan fitnah kecurangan SMR ke pihak Irjen Depdiknas dan BNSP, bahkan ada biodata orang2 SMR segala yg dilaporkan:p Lalu, kini siapa yang bertanggung jawab secara moral bila di DKI yg merupakan barometer banyak nilai 0 koma dan 1 koma, mgkn tulisan ibu Ayi Purbasari dulu benar! ^_^
    10. Berdasarkan pembatalan tender secara sepihak tanpa ada alasan dan penjelasan, serta bahwa spesifikasi teknis DMR tidak memenuhi RKS, DMR tidak memenuhi syarat Mampu membaca LJK miring/terotasi (terotasi artinya segala kemiringan) sgt mungkin DMR mengkamuflasekan kemiringan pd Uji Teknis. Jadi tidak berlebihan kiranya ada indikasi politis.
    11. KPK kini sudah dilaporkan atas ketidakadilan yang terjadi… dan semua hanya tinggal menunggu waktu… bersiap-siap lah!

    (maaf ibu Ayi, blog nya jadi rame berpolemik ^_^)


  6. Dahulu DMR kalah dan koar-koar SMR curang krn pake JOKI di 21 website… setelah tender di ulang DMR menang… SMR juga sudah diam… demi kelancaran UASBN diam it’s ok! Tapi sudah diam tetep aja SMR diserang, ya lebah pun akan balik menyerang… Kita lihat saja! Banyak PROSEDUR yg DILANGGAR pada PEMBATALAN HASIL TENDER ke-1 dan juga PELAKSANAAN TENDER ke-2. Klo mau melanggar prosedur, ingat! KPK itu gak bisa di suap loh!

    Dimas P Prabowo
    dimas_pp@yahoo.com


  7. halo arief, halo dimas. kalian ini adik2 kelas saya :)
    silahkan diskusi di sini, feel free. gpp kan berani transparan

    anak saya sudah keluar hasil uasbnnya, dari prediksi /periksa hasil manual adalah 27.2 ternyata 26.35. belum tentu salah dmr kan ;)


  8. Berbicara ujian massal, tentulah harus bicara volume dan kuantitas besar. Misal kasus pembacaan LJK bergeser adalah se permil saja, yaitu 0.001 maka untuk tiap 10 rb ada 10 lembar, tentu yang 9990 selamat, atau terkena kasus lain lagi :p

    Setelah DMR menang pada awalnya saya diam karena berharap UASBN 2008 lancar! Itu saja! Klo pun saya mau meramaikan, apa sih susah nya mempublish di 21 website spt yg arif dulu lakukan??
    Tapi klo UASBN gagal, 200M uang negara menguap! Ya.. semahal itulah penyelenggaraan UASBN, dan saya tak rela hny krn kepentingan persaingan bisnis menyebabkan kepentingan yg jauh lebih besar gagal.

    Saya mulai publish sekarang karena UASBN sudah berakhir. Dan dengan banyaknya LJK salah pembacaan yang sangat merugikan siswa, selayaknya Kepala Sekolah, Siswa, Orang Tua, Masyarakat dan LSM Pendidikan agar lebih BERANI untuk bertanya/menanyakan atas keraguan yang terjadi agar tidak ada siswa berprestasi yang dirugikan.
    Mudah kok, Anda cukup mendatangi diknas kabupaten/kota setempat! dan meminta melihat gambar nya. Klo pun ternyata memang benar nilainya jelek, ya sudah :d (jgn terus nyogok:p)
    Bagi yg protes dan ternyata dari nilai 0 atau 1 koma menjadi 7 atau 8 kan gak jadi apes! bisa masuk SMP favorit… Ingat pepatah…

    Malu bertanya, Sesat di Jalan…
    Takut bertanya, Jeblok di UASBN… ^_^
    Trus yg berprestasi cuma bisa masuk SMP pinggiran

    Oya, untuk Arif, tolong beberkan aib kecurangan tender nya donk, biar semua jelas… Aku jg pengen tau! Buktikan kmu berani krn tak bersalah! let’s me know! jgn cuman berani spam ke milis2 tanpa cc ke aku ya:D Klo kmu benar, ya aku akan secara Gentleman datang ke Pak Iping dan Kmu untuk minta maaf, dan aku kan publish di website2 permintaan maaf ku, okey?

    Tapi klo terbukti kmu memberi data-data fitnah ke Irjen, ke Ketua Panitia, ke Website dan Milis2, maka aku akan tetap menulis sampai tahun depan…


  9. War is begun. Halo Ayi, dua-duanya mahasiswa saya loh. Btw, saya ingin tahu, bagaimana hasil pemeriksaan oleh software pembaca lembar jawaban terhadap hasil ujian UN SD kemaren? Sesuai dengan pemeriksaan secara manual kah? Jangan sampai siswa SD dirugikan oleh teknologi ya.

  10. Arif Rahmat Says:

    Data Irjen

    Data yang masuk ke Irjen bukan hanya dari perusahaan yang membawa DMR, tapi juga dari peserta lelang yang lain. Artinya, jika data yang kami miliki dipublikasikan, tak ada maknanya karena belum tentu hal itulah yang menjadi dasar keputusan Irjen. Kalau mau akurat, tanya saja ke Irjen.

    Mari Berlaku Sopan

    Dalam berjualan secara formal maupun non-formal, tim dan reseller DMR saya wanti-wanti agar tidak pernah menjelek-jelekkan kompetitor (walaupun kami tahu kekurangannya). Kami menahan diri, bahkan berusaha untuk tidak menyebut nama produk lain. Kami punya etika untuk bersopan-santun, termasuk dalam hal mematuhi aturan yang berlaku. Bila Dimas merasa dirugikan, silakan tempuh jalur hukum, jangan membuat tulisan yang mengundang kami untuk menuntut Dimas melalui jalur hukum.

    Tanggapan atas tuduhan

    Dimas berkata: Namun entah bgmn DMR bisa lolos, pdhl software UASBN 2008 klo LJK miring pada gagal baca/error semua.
    Sebuah pertanyaan yang baik, dan amat mudah untuk dijawab. Jawabannya adalah: “Dugaan Dimas terhadap buruknya DMR sama sekali tidak benar.”

    Bila tender pertama tidak dibatalkan

    Dari sisi finansial, negara rugi 5 milyar rupiah jika tender pertama tidak dibatalkan, cukupkah itu menjadi pertimbangan? Kira-kira 5 milyar itu tadinya bakal masuk ke mana ya?

    Salah alamat

    Dari uraian yang begitu panjang dari Dimas, sepertinya yang dituntut adalah Depdiknas. Artinya, kami tidak kompeten untuk menjawabnya. Yang dapat kami berikan hanya jaminan kualitas produk DMR yang insya Allah telah terbukti berhasil dengan baik jauh sebelum UASBN 2008.

    Kecurangan

    Mengenai kecurangan, saya yakin Dimas masih sadar (walaupun mungkin mengaku tidak ingat) saat saya tegur secara lisan pada waktu uji teknis tender pertama berlangsung. Detilnya saya tidak bisa berikan di sini karena dikuatirkan dapat merusak nama baik banyak orang, padahal mereka sendiri tidak sadar bahwa telah terlibat sebuah konspirasi. Saya juga tidak dapat memberikannya ke Dimas, karena Dimas senang mempublikasikan sesuatu yang sebaiknya tidak untuk dipublikasikan.

    Alip Suratno
    Alip itu trainer DMR, salah satu dari 2 rekan yang ditugaskan sebagai trainer dan pendamping operator untuk PT Binareka saat uji teknis tender pertama. Pendamping operator tidak sama dengan operator. Pendamping operator tidak boleh mengoperasikan perangkat lunak yang diujikan dan pendamping operator tidak menyentuh mouse maupun keyboard saat uji teknis berlangsung.

    DKI Jakarta
    Operator UASBN di DKI Jakarta bukanlah orang dinas pendidikan yang pernah mendapatkan training DMR, melainkan pihak ketiga yang salah satunya adalah operator dari Dimas. Lucu, bukan? Ingin tahu yang terjadi sebenarnya? Tanyakan kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

    Kalau berita yang saya terima, hasil UASBN di DKI OK, tim dukungan teknis DMR dapat piagam penghargaan dari dinas pendidikan, dan performa DMR juga OK. Kalau ada berita yang menyebutkan bahwa terjadi kekacauan, sebaiknya dipertanyakan kebenarannya serta diklarifikasi asal-usul penyebabnya.

    DMR Menang Karena Apa?
    Alhamdulillah, DMR menang karena Allah SWT menghendaki demikian. Yang telah dilakukan adalah berusaha, berdoa, serta berusaha agar doa tersebut dikabulkan, dan alhamdulillah, janji Allah SWT itu nyata. Marilah perbaiki diri, dan lebih pandai mensyukuri nikmat Allah SWT. Semoga kita mendapat ampunan-Nya.

    Arif Rahmat
    Dedengkot DMR #2
    http://digitalmarkreader.com

    Catatan: Karena tidak ada validasi dan verifikasi keamanan, komentar di blog ini dapat saja ditulis oleh orang yang tidak bertanggung jawab (alias bukan orang sebenarnya), dengan tujuan mengadu domba atau memutarbalikkan fakta. Harap maklum.


  11. Dear Alip Suratno,
    Maaf klo komentarnya membuatmu sakit hati, tapi itu lah resiko pekerjaanmu, kmu berada di dalamnya.
    Kmu ada disana dgn surat tugas mu sbg salah satu perusahaan peserta lelang, pdhl kmu tercantum sbg CV.Codena (prinsipal DMR). Kmu tidak salah, dan itu juga bukan curang! Krn bisa saja bilang kmu waktu itu bukan codena, udah resign trus kerja di perusahaan tsb, nah pointnya adalah ini semua perihal administratif, mk selayaknya di selesaikan secara administratif juga, artinya siapapun kmu klo hadir dgn surat tugas ya sah, dan dalam bahasa tender memang biasa dipahami spt itu.
    Maka saat DMR protes ke panitia lelang ke-1 dan dijawab bhw operator dilengkapi dgn surat tugas, ya memang begitu, mereka sudah benar.

    Maka klo Arif menuuduhkan orang2 SMR sbg operator itu jelas tidak benar scr administratif, mgp?
    1. Operator yg dituduhkan adalah orang prinsipal SMR jelas2 tdk terdaftar sbg karyawan/pemegang saham PT.Software Farmer Indonesia (prinsipal SMR).
    2. Semua operator bertugas dgn surat tugas nya sbg profesional, maka jelas tugas dan tggjawabnya.
    3. Bahkan Alip pun memiliki surat tugas mewakili salah satu peserta tender. Benar kan? Mgkn bisa dibilang prinsipal DMR yg maju tender kan PT.Perismatek??? Nah, itu makin gawat!!! Mana yg benar

    Sekali lagi maaf alip, yg jelas aku berjanji tidak akan memajang foto2mu di web! Aku ingin menyadarkan Arif dan P Iping, agar jelas lah yang hitam dan putih.

    Oya, sebenarnya yg kasus adalah :
    1. Tender pertama dibatalkan tanpa ada alasan yg jelas, dan tanpa ada penjelasan publik.
    2. Jika curang, apa curang nya dan melanggar landasan hukum apa? karena aturan main dalam tender jelas ada di KEPPRES No.80 tahun 2003, silakan baca di website.
    3. Semua lelang besar, harus bersih dan jernih (yaitu benar sesuai prosedur dan transparan ke publik)

    Wassalam wr wb.


  12. Pada komentar di atas, Arif Rahmat mengatakan :
    “Tender pertama diulang karena kecurangan, dan salah satu yang melaporkan kecurangan tersebut adalah perusahaan yang bawa DMR, tapi perusahaan yang membawa DMR bukanlah satu-satunya yang melapor. Artinya, perusaha yang membawa DMR serta orang-orang di belakangnya punya komitmen untuk tidak berlaku curang namun tidak lantas tinggal diam ketika kecurangan terjadi di depan mata.”

    Katakan lah Arif… apa kecurangannya? Tuduhan Operatornya itu ya? lantas… kok tiba2 bisa dibatalkan secara sepihak dan MENGAPA TIDAK MENGIKUTI PROSEDUR KEPPRES NO.80 THN 2003 ??? klo memang curang.. ya harus dibuktikan dulu donk!!!! Sepertinya kmu tau persis alasan pembatalan? Siapa seh yg kmu tuduh curang? Prinsipal SMR? Perusahaan Rekanan SMR? Panitia Lelang Puspendik?
    Jgn sembunyi dibalik power, ingat lah di atas langit ada langit… sekuat2nya power akan kalah dengan PERATURAN!!! jadi klo semua prosedur dilanggar, maka sekalipun pelaksanaannya lancar tetap saja SALAH!!! apalagi dengan banyaknya kasus yg merugikan siswa??? KLO DMR GENTLE, LAPORKAN JUGA DONK KASUS2 SALAH BACA YG MERUGIKAN SISWA KE BSNP, berani? atau kah hanya pengecut yg silau dgn uang beberapa M saja?
    Di website ada DMR Detector untuk mendeteksi cacat pembacaan… nah, Terbukti kan klo DMR TIDAK AKURAT!!! memang ini adalah buah dari spesifikasi teknis yg dilanggar!
    Cepat atau lambat, laporan itu akan masuk kok… BSNP

    UASBN sudah berlalu, saatnya mengatakan KEBENARAN!!!
    Berani???
    Pernyataan yg akan berdasarkan KEPPRES dan RKS akan dipublish dan KPK itu gak bisa di sogok loh! dan klo kamu berlindung dibalik baju Irjen spt pernyataanmu di atas, maka Irjen itu langganannya KPK!!!

  13. didin if'99 Says:

    wouw, pak rin menyebutnya sebagai war… syerem dong :D
    Arif (dan istrinya) Ema adalah teman seangkatan saya di IF, Dimas adalah adik yang bisa dibilang terasuh dengan dekat (mau ga Dim dibilang adik asuh :D). Karenanya dalam hal ini ada prihatin yang mendalam (dan semakin dalam….)

    Tiga tokoh yang signifikan disini adalah Pak Iping, Dimas, dan Arif. Mungkin yang keliatan ‘berperang’ itu Dimas dan Arif, walaupun seharusnya pak Iping punya tanggung jawab besar disini. Dari wacana-wacana diatas, saya (masih) berharap bahwa masing-masingnya adalah akademisi, adalah ilmuwann, yang (hendaknya) menjaga dan tahu (diri) dalam batas-batas ke-ilmuwan-an, ke-ilmiah-an, etika, moral, tanggung jawab, dan lebih dari itu adalah keberanian berpihak pada KEBENARAN. (Puncak pencapaian seorang berilmu adalah tahu kebenaran dan mau membela kebenaran.)

    Masalahnya disini adalah masing-masing pihak merasa mempunyai KLAIM KEBENARAN. Maka mengutip bu Ayi, silahkan berani bertransparansi secara fair. Kalau perlu mungkin silahkan menggunakan mekanisme hukum yang paling pas.

    Sepakat dengan Pak Rin, jangan sampai siswa SD dirugikan oleh teknologi. Mungkin kalau pada pelaksanaan koreksi UASBN kemarin menghadapi kendala yang –seperti arif sebutkan– dari sisi operator, saya menyarankan ke depannya (dan seharusnya sudah dipikirkan sebelumnya oleh penyedia teknologi) bagaimana membuat softwarenya compaq, presisi sesuai kebutuhan, meminimalkan atau menolkan error software yang mungkin dilakukan operator. Ini semata berdasarkan pengalaman operator data entry Pemilu 2004, dimana operatornya adalah orang2 yang kebanyakan blank, ga pernah pake komputer.

    Apalagi UASBN ini kita bicara ‘nasib’ ratusan ribu anak-anak, nilai akhir mereka ngaruh terhadap pilihan SMP nya, ngaruh terhadap pendidikan selanjutnya, terhadap kemungkinan kualitas pendidikan selanjutnya, dan perjalanan selanjutnya.. dan selanjutnya… aduh saya kok jadi ngeri ya.. begitu besarnya tanggung jawab moral (dan tentu tanggung jawab di hadapan Tuhan) Arif, Dimas, dan Pak Iping. Saya berharap ini semua lebih dari ‘sekedar’ persaingan bisnis, persaingan gengsi, rebutan pasar, ga mau kalah, dan mau jadi yang ter…
    Astaghfirullahaladziim…

    Yang terakhir, saya melihat dan sangat yakin bahwa Arif dan Dimas adalah insan-insan yang amat potensial bagi pembangunan teknologi yang bermanfaat bagi umat. Yang mungkin saja malah bisa bekerjasama, bersinergi, dan kalaupun bersaing dalam bisnis, maka persaingan itu justeru akan mengasah dan menghasilkan produk serta layanan yang lebih tinggi kualitas dan kemanfaatannya. BUKAN DESTRUKTIF seperti ini! Sayang…sayang bangeds…

    Salam prihatin,
    Didin Kristinawati Misnu (IF’99)


  14. Wah-wah jadi rame sekali, semua tak ada yang mengaku salah… polemik terjadi…
    Tender Pertama dimenangkan oleh partner SMR bernilai 19M karena 509 unit license software mark reader dan Unlimited untuk customisasi UASBN. Tender ulang adalah untuk 265 unit license software mark reader dan Unlimited untuk customisasi UASBN. Dan perlu diketahui pada tender pertama partner DMR juga menawarkan di harga 19M, setelah di ulang menjadi 14,7M pada PT.Bhinareka Tata Mandiri, dan semua juga turun krn ditender ulang semua pasti BANTING HARGA! Jadi tidak benar pernyataan 5 M masuk kemana? lagi pula kan seharusnya ada support pendampingan utk setiap propinsi?

    Oya, coba deh gambar2 komplain kepala sekolah yg di DKI di publish… dan silakan berpersepsi itu salah operator atau sistemnya… BTW, 100% pihak SMR tidak terlibat di DKI jakarta, konsultannya adalah pak Dedy yg bertindak atas nama pribadi, dan sebelum memulai nya sudah mendapatkan ijin dari Perismatek. Jadi, mau nuduh apa??? Ya klo DMR gak percaya minta saja pak Dedy mempublikasikan kesalahannya DMR… Berani??? Klo banyak siswa dirugikan, ya akui saja lah… dan mintalah maaf di dunia selagi belum di Akhirat!!!
    Ingat!!! Nilai UASBN itu untuk masuk SMP, yg sgt menentukan masa depannya?
    Bukti2nya ada banyak dan jelas sekali kok!
    BTW, ini yg membuat aku tidak respect sama sekali dgn pihak group DMR, banyak siswa yg dirugikan namun sama sekali tidak merasa bersalah! apalagi berdosa! Masyaallah…

    Berani menuntut secara hukum? silakan!!! Justru bagus, krn ini jadi jalan TOL untuk membongkar semua nya… ARTINYA SECARA KRONOLOGIS AKAN SGT JELAS lagi pula saya sedang siapkan semua materi2 pelanggaran KEPPRES NO.80 Thn 2003. Dan ingat ya, pelaksanaan TENDER ULANG TIDAK MEMILIKI LANDASAN HUKUM! klo ada, apa landasannya??? Perusahaan2 pada ikut bukan krn mengakui, tapi krn takut peluang/kesempatan lepas..
    Lagi pula Kejaksaan dan KPK juga sepatutnya tahu, agar pengusaha tidak dirugikan!

    Klo DMR bisa miring/terotasi, coba publish lah gambar pembacaan LJK UASBN yg miring 0 s.d 360 derajat, Bisa??? Atau silakan diknas kabupaten mencobanya!
    Atau mintalah diknas DKI mempublish kasus2 bergesernya pembacaan LJK UASBN saat kondisi miring?
    Dan jelaskan mgp byk siswa nilai 0 atau 1 setelah protes jadi 7 atau 8??? Pake hati donk mas…


  15. Pernyataan arif :
    “Pada kesempatan ini saya berikan pernyataan bahwa pada tender kedua, DMR lulus uji teknis setelah diuji secara objektif oleh rekan-rekan dari Puspendik dan diawasi dengan ketat oleh utusan Inspektorat Jenderal Depdiknas.”

    Padahal pada lelang pertama yang SAH, uji teknis dilakukan secara TERBUKA oleh 16 perusahaan dan partner SMR menempati 4 ranking pertama, dan DMR pada peringkat ke 5 dgn nilai teknis yg jauh!
    Namun, pada lelang ulang yang TIDAK SAH (tanpa landasan hukum), uji teknis dilakukan secara TERTUTUP, jadi TIDAK ADA SAKSI dari pihak kompetitor! Memang ini tidak menyalahi keppres dan RKS, namun DMR tidak memenuhi syarat software mampu membaca LJK dalam kondisi miring/terotasi yg MUTLAK diperlukan dalam projek massal, bahkan ini bisa dicoba oleh siapa saja dari deliverable UASBN nya. (Tidak Heran di DKI banyak pembacaan LJK bergeser! Di propinsi lain bisa lebih gawat donk!!!)


  16. Oya, satu lagi, saya kecewa berat atas Arif yang mempublish foto di :

    http://arifrahmat.wordpress.com/2008/03/20/8-joki-teridentifikasi-pada-uji-teknis-peralatan-un-depdiknas

    (Foto itu adalah mahasiswa nya pak Iping)

    padahal jelas-jelas mereka bertindak sbg profesional dgn surat tugas yg jelas, shg jelas kapasitasnya. Dan mereka bukanlah PT.SFI (prinsipal SMR) sehingga tidak ada hal Administratif yang dilanggar, kalau dituduh curang dan tanpa klarifikasi pihak lain, itu fitnah namanya. “Pembenaran Administratif” memang secara HUKUM diperlukan krn secara tegas memisahkan PERSEPSI dan meniadakan MISS INTERPRETASI sbgmn yg dijelaskan pada tuduhan tsb, sebab2 mengapanya boleh jadi itu salah!

    Dalam tender tidak mengenal ASUMSI, mengapa? didalam tender, salah ejaan saja antara surat dgn RKS (dokumen acuan) dapat lgsg menggugurkan, sehingga tidak berdasar pada ASUMSI tapi pada HITAM PUTIH (KEPPRES NO.80 dan DOKUMEN RKS/Rencana Kerja dan Syarat2)

    Oya, Pak Iping waktu itu saya minta agar Arif mencabut gambar di web nya (via telp, kala itu tender ulang belum dimulai) karena foto itu adalah mahasiswa nya beliau dan tuduhan itu adalah banyak yg tidak benarnya dan cenderung fitnah bila dipandang dari aspek hitam putih administratif. Namun saya kecewa sekali beliau menolak, dan menyatakan bhw itu urusannya Arif. Ya klo Arif Vs Dimas tidak dapat dihindarkan ya apa boleh buat?
    Mungkin orang2 IF ITB memang terlalu egois untuk mengalah!!!

  17. didin IF99 Says:

    Pak Iping…Pak Iping…..(sambil manggil-manggil)
    ditunggu tuh sama mahasiswa-mahasiswanya…muncul dong..come on…

    Pak Iping ini kan yang ngoding dan pegang source code DMR ya…
    wah pastinya jauh lebih tahu dong tentang ciptaan nya sendiri.. kudunya berani dong menghadapi ‘tuduhan’ Dimas.

    Saran buat Dimas, perangnya jangan lawan Arif doang dong, seret Pak Iping biar tampil di medan laga..sekalian gitu loh Dim kalau perang wacana sama yang buat softwarenya, jadi bisa lebih fair menilai softwarenya sendiri. Kalau jualan kan selalu kecap yang nomor satu :D

    trus kalau mahasiswanya sedang berperang, saling mengiritasi kayak gini, dia bilang itu urusan mereka…
    wah..wah..wah.. jaman sudah edannnn iki…

    salam semakin prihatin,
    Didin Kristinawati Misnu
    IF99


  18. Jasa memang tak bisa dibayar…
    Hutang Budi memang dibawa mati…

    Demi ALLAH, Tuhan atas segala ilmu… atas JASA bimbingan pak Iping dalam KULIAH Grafik, Interpretasi dan Pengolahan Citra… serta tuntutan TUGAS AKHIR beliau yang mendalam dalam kajian tsb memmerikan bekal yang sangat amat dalam… dan berbekas…
    Semangat untuk berkarya sll berapi-api, dan sampai saat ini beliau adalah IDOLA saya, demi Allah beliau Dosen Idola Saya… Istiqomah dalam berkarya… banyak berhasil meskipun terkadang gagal… Saya bangga dan hormat pada Pak Iping…

    Banyak kata2 yg selalu teringat dikala sdg “Menthog” (buntu saat coding dan cari metode) tidak ada solusi… Oleh karenanya “Saya benar-benar MALU JIKA KALAH dengan beliau” usia beliau jauh diatas saya, maka saya harus dan wajib lebih produkif dan lebih inovatif… memanglah tepat ada GURU SAYA yang menyatakan “Yang Muda Yang Berkarya, Yang Tua Membina”

    Maka jangan lah pernah sakit hati dgn saya, krn memang saya harus dan wajib MENGALAHKAN, itu pemahaman saya… Tak lama lagi, software pembaca tulisan tangan generasi lanjut dari SMR adalah Smart Form Reader segera saya launch…

    Saya bangga, hormat serta menghargai saya pahami untuk selalu berkarya yg jauh lebih baik, lebih inovatif, lebih bermanfaat, dan untuk itu saya perlu banyak bimbingan dari semua GURU-GURU saya dalam segala aspek, baik sisi TEKNIS, BISNIS, SOSIAL, RELIGI, shg semua orang adalah GURU SAYA…

    GURU adalah untuk DIHORMATI
    SIAPA PUN dia, ambil PELAJARANNYA
    GURU memang untuk DIKALAHKAN
    ITU satu-satunya CARA membuatnya BANGGA
    WAKTU adalah satu-satu nya PELUANG
    ILMU adalah satu-satunya MODAL
    SEMANGAT adalah satu-satunya causa KERJA KERAS
    KARYA adalah buah suatu PERJUANGAN
    HARTA adalah HADIAH…

    klo WANITA??? hehehe…
    pssttt…
    itu SEGALA nya…^_^

  19. didin IF99 Says:

    Subhanalloh.. ck..ck..ck..

    aduh jadi malu Dim dengan postingan saya yang rada ga sopan diatas :D

    salam takzim kpd guru-guru(ku) & all,
    Didin Kristinawati Misnu
    IF99

  20. Lusi Says:

    bukannya soal pra UASBN dengan soal UASBN berbeda?…baik jenis maupun bobot soalnya….

    kalo anak saya Alhamdulillah nilainya jauh lebih baik UASBN drpd pra UAN….waktu praUASBN nilainya dibawah 8 krn bobot soalnya memang lebih tinggi….hasil UASBN nya sendiri rata2 9,08..

    untuk tingkat kotamadya di sini pun rata-rata nilainya lebih bagus UASBN drpd pra UASBN

    jadi faktor teknologi tidak mutlak koq…hanya bbrapa persen aja berperan dalam penilaian….

    o ya perkembangan saraf motorik halus tiap anak alias cara mereka memegang pensil juga tidak sama…..

    jadi teknologi DMR…fine fine aja kali ya….

  21. Arif Rahmat Says:

    Sekedar memberikan pencerahan, DMR Detector adalah tool tambahan yang dibuat khusus sebagai jawaban atas keluhan operator di dinas pendidikan propinsi yang mendeteksi adanya beberapa kelalaian operator tingkat kota dan kabupaten dalam melakukan tugasnya. Sebelum disebarkan, hal tersebut telah mendapatkan persetujuan dan dukungan penuh dari Puspendik Depdiknas.

    DMR Detector mempermudah operator tingkat propinsi dalam melakukan pengecekan kesiapan pra-scoring, menyusun daftar perbaikan yang perlu dilakukan oleh operator kota/kabupaten, mendeteksi kecurangan yang terjadi dari segi teknis.

    Saya mohon sekali lagi, agar kita dewasa dan berkepala dingin. Pelajaran berharga di sini adalah: jangan menjelek-jelekkan sesuatu yang kita sendiri sebenarnya tidak tahu. Jika itu tetap dilakukan, yang terjadi adalah menjurus kepada fitnah. Kata Aa Gym mah, kalau ada berita, gunakan prinsip BAL: Benar, Akurat, Lengkap.

    Ini bukan lagi masalah kecap siapa yang nomor satu (istilah Didin). Ini sudah pelanggaran etika, ketika (oleh kompetitornya) DMR disebut-sebut jelek, cacat, dan hal-hal negatif lain. Semoga ini bukan disebabkan penyakit hati.

    Mohon fokus atas apa yang dipersoalkan. Tidak puas dengan proses yang ditempuh Depdiknas, silakan tuntut Depdiknas. Tidak perlu bawa-bawa DMR kan?

    Dan menurut saya, di sini bukanlah tempat yang tepat bagi penuntut untuk menuntut Depdiknas.

    Sepengetahuan saya, salah satu yang janggal bagi Inspektorat adalah mengenai jumlah perangkat lunak pendamping scanner. Pada tender pertama jumlahnya 509, lalu pada tender kedua (diperbaiki) menjadi 265, sesuai dengan jumlah scanner.

    Pesan Ibu saya: Jujurlah. Meskipun yang lain tidak berlaku jujur, tetaplah istiqamah dalam kejujuran itu. Alhamdulillah, pesan itulah yang berusaha kami terapkan dalam dukungan terhadap sekian banyak perusahaan peserta tender pertama maupun kedua di Depdiknas.

    Wallahu a’lam

    Arif Rahmat
    Dedengkot DMR #2
    http://digitalmarkreader.com

  22. pbasari Says:

    lusi
    pra UASBN untuk menentukan tingkatan soal UASBN.
    soal-soal UASBN kan berbeda tiap rayon?

    yang saya masalahin, pada saat pra UASBN antara periksa manual dan LJK, berbeda hasilnya. pas UASBN juga ada perbedaan. jadi Lusi, bukan antara pra UASB dan UASBN, tapi antara periksa manual dan menggunakan DMR. (DMR nya ini lho yang jadi polemik)

    btw selamat ya Lusi, nilainya bagus banget. di bandung, hanya sedikit yang mendapat nilai 27 lho. Jadi masuk SMP 5 Bandung?


  23. mengutip Arif “Sepengetahuan saya, salah satu yang janggal bagi Inspektorat adalah mengenai jumlah perangkat lunak pendamping scanner. Pada tender pertama jumlahnya 509, lalu pada tender kedua (diperbaiki) menjadi 265, sesuai dengan jumlah scanner.”

    Nah klo begitu alasannya, Arif harus MINTA MAAF karena mengatakan terjadi kecurangan oleh salah satu vendor software (SMR) yang menyebabkan pembatalan. Ternyata dibilangnya pembatalan karena kejanggalan jumlah.
    Nah klo pernyataanmu dari dulu begini kan lebih enak di dengar nya… Thanks b4 atas koreksi mu Arif!
    Btw, tuduhanmu itu terlanjur berkumulatif dgn kekuatan politis dan dipergunakan secara kuat untuk pembatalan. (begitu isu nya dulu)

    Hasil tender tidak bisa semena-mena dibatalkan begitu saja, karena semua sudah diatur oleh Keppres No.80 Thn 2003. Masalahnya apa tendensi pihak Irjen yang sebenarnya? Pengadaan 509 software + 265 scanner tidak menyalahi keppres, krn memang 244 software dibagikan pada propinsi yang belum memiliki software mark reader namun telah memiliki scanner yg dibagikan pada pengadaan sebelumnya.
    Hal ini harus dilaporkan ke Kejaksaan dan KPK atas pelanggaran yg terjadi. Klo pejabat yg dibawah diinjak-injak oleh atasannya, bagaimana Indonesia bisa maju?

  24. didims Says:

    weis!!! anaknya bu Lusi nilai nya 29,08.. hebat!!! selamat ya, semoga senantiasa dapat terus berprestasi sampai tingkat SMP, SMA dan di Universitas.

    Karena sebenarnya pendidikan dasar itu inti nya di tingkat SMA. Jaman saya dulu banyak teman yang NEM SD nya tinggi banget… tapi NEM SMP nya jeblok… dan sebaliknya… begitu pun pas masuk SMA, NEM SMP nya pada tinggi lalu pas SMA jeblok… dan sebaliknya…
    Jadi harus sll dipantau terus disela2 kesibukan^_^

  25. Arif Rahmat Says:

    Untuk Bu Ayi,

    Pemeriksaan UASBN di Kota Bandung (seperti halnya di DKI) dilakukan oleh pihak ketiga (kalau tidak salah UNPAD), bukan Dinas Pendidikan Kota Bandung secara langsung. Apa alasannya, saya juga tidak mengerti.

    Dengan latar belakang itu, besar kemungkinan bahwa operator scanning di Kota Bandung tidak mengikuti pelatihan penggunaan DMR UASBN maupun arahan dari pusat sebelum dimulainya proses scanning. Akumulasi dari beberapa faktor negatif tersebut dapat berperan dalam penurunan kualitas pekerjaan dan hasil scanning yang secara tidak langsung juga berpengaruh kepada hasil penilaian. Kalau (anak) ibu merasa dirugikan, tak ada salahnya melakukan cross check ke Dinas Pendidikan Kota Bandung atau Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat.

    Untuk Dimas,
    Koreksi untuk Dimas, kalau membaca hati-hati ya. Bu Lusi bilang, nilai rata-rata anaknya 9,08. Itu artinya nilai totalnya hanya 27,24.

    Jangan-jangan, yang bikin Dimas panas terus setahun terakhir ini karena salah baca seperti ini.

    Satu hal lagi yang mungkin luput dari Dimas (yang selalu membawa-bawa Keppres No.80 Thn 2003), Dimas tidak hadir pada saat Aanwijzing (tender pertama) sehingga tidak mengerti peraturan yang telah ditegaskan oleh panitia pelelangan.

    Mengenai kejanggalan jumlah software, saya sudah jelaskan bahwa itu hanya salah satu penyebab diulangnya tender. Itupun saya ketahui pada saat Aanwijzing (tender kedua), jauh setelah membantu perusahaan pembawa DMR dalam investigasi dan pelaporan kecurangan di tender pertama.

    Saya (di setiap publikasi) tidak menyebut secara eksplisit bahwa Dimas curang. Kalau Dimas merasa curang, bukan saya lho yang bilang.

    Hati-hati dalam membuat berita

    Sedikit menyimpang dari apa yang kita bicarakan, di Kompas 27 Juni 2008, terdapat beberapa data ledakan bom dari beberapa negara sejak 2001 hingga Juni 2008.

    Nomor 1 WTC dengan 3000 korban tewas, dan yang lain (Irak, Indonesia, Mesir, Spanyol) paling sekitar puluhan, 100, atau 200 orang.

    Kejadian yang menurut saya paling parah justru bukan karena bom, tetapi karena kepanikan yang terjadi akibat berita bohong, menewaskan hampir 700 orang.

    Mari kita petik pelajaran dari sana.

    Arif Rahmat
    Dedengkot DMR #2
    http://digitalmarkreader.com


  26. UNTUK ARIF, JURU BICARA DMR ^_^

    klo memang CURANG itu TIDAK ASAL TUDUH, harus dapat DIBUKTIKAN berdasarkan ATURAN!
    Dalam dunia HUKUM, harus mengacu pada HITAM PUTIH, yaitu PERATURAN. Dalam tender jelas mengacu pada KEPRES, RKS dan BERITA ACARA.
    PEMBENARAN ADMINISTRATIF memang diperlukan, untuk meniadakan MISS INTERPRETASI, dan SALAH PAHAM. Maka saat kmu protes, panitia menjawab spt memang SUDAH BENAR, dan memang TIDAK PUNYA HAK MENGATAKAN CURANG.
    Dalam tender, semua itu hitam putih, bukan ASUMSI…

    Arif tidak bilang SMR curang, tapi memajang foto orang yg bertugas sbg profesional dari parter SMR, itu kan jelas menjurus. Klo aku pajang foto Arif atau pak Iping lalu ku BURAM kan spt PENJAHAT, maka itu jelas2 merujuk, si bodoh pun tahu. Bahkan menyebut nama JAUH LEBIH SOPAN. Atau mau di coba juga? setiap sebut namamu dan beliau aku ganti foto buram saja?

    OYA, tertimonial dari berbagai diknas propinsi ATAS DMR JGN DIPUTAR BALIK KAN UTK PROMOSI. Jelas jelas diknas tau persis bahwa KEBANYAKAN MSLH KRN LJK MIRING, tuh kan… Klo gak percaya, aku dapat kiriman GAMBAR PEMBACAANNYA DMR pas MENGEKSEKUSI siswa krn BERGESER saat LJK MIRING.. tar ku PUBLISH yaaa… dan kulampirkan sbg keterangan laporan… Jumlah nya banyak banget… dari berbagai propinsi…

    ARIF boleh bicara KECAP… atau NGECAP…
    maklum, ARIF kan JURU BICARA nya DMR…
    klo PRESIDEN nya sih GAK NGECAP gitu…

    BANYAK SEKALI siswa yg MENJERIT…
    Btw… KMU KOK TEGA SIH ARIF???
    gak KASIHAN gitu? dgn siswa yg nilainya 0 dan 1
    yg protes JADI 7 atau 8, BENAR KAN? Coba JAWAB PERTANYAAN YG SATU INI? Katakan DEMI ALLAH jk berani!
    ini MORALITAS seorang CENDEKIAWAN!

    Disebabkan krn LJK MIRING lalu pembacaan BERGESER dan DETECTOR mu tak mampu mendeteksi KEJADIAN tsb…
    apalagi mendeteksi yg harus nya 9 tapi jadi 7 karena miring pada SUDUT BATAS, artinya HANYA BAGIAN PLG BAWAH YG BERGESER TEPAT SEDIKIT DIATAS TOLERANSI KEMIRINGAN.
    Jadi nilainya korupt sedikit saja!

    mari KITA LIHAT SAJA lah… BIAR WAKTU YG MENJAWAB nya… saat HITAM PUTIH BICARA, bahkan BAJU BESI POWER MU pun bisa TERTUSUK jika membela MU…

    ingat Arif! KETUA PANITIA tender ULANG mengatakan “SMR LAMBAT!” padahal DIA TIDAK MENGIKUTI SEPANJANG ACARA saat SMR PRESENTASI UJI TEKNIS, jelas2 dia bilang gitu karena pengaruh KATA-KATA MU Dkk, krn dia BUKAN ORANG TEKNIS! Ketua panitia lelang ulang, Pak Monang Sinambela hanya membuka acara lalu ditinggal keluar! dan DMR lolos UJI TEKNIS dgn CATATAN diberi waktu beberapa hari untuk PERBAIKAN, sdgkan SMR lolos tanpa CATATAN dan DIBILANG KALAH! GILA KAN? KLO SISTEM GUGUR ya tidak ada PERBAIKAN! GUGUR ya GUGUR, jgn pakai ASUMSI bisa di PERBAIKI di kemudian hari. KAN GAK ADIL!
    Lagi PULA kok sekarng klo MIRING ERROR, dulu jg kan, entah dgn cara apa kmu menutupi UJI TEKNIS nya.

    KESIMPULANNYA :
    ===============

    Arif menuduh SMR curang dgn ASUMSI NYA
    lalu SMR diam, dan tetap saja dijelek2an karena JATIM dan JATENG memperjuangkan penggunaan SMR…
    Dan TAHU kah ALASAN mgp SMR diam selama ini???
    karena HARGA KELANCARAN UASBN itu segala-galanya…
    sekarang sudah BERLALU , saat nya polemik…
    Apakah PEMAHAMAN MU , pesaing itu harus DIMUSNAHKAN?
    bicara MORALITAS… Mengapa kmu TEGA ribuan siswa DI JEBLOK KAN oleh sistem MU?
    Seolah2 lebih baik UASBN gagal daripada DMR kalah…
    BTW, kemenangan TENDER ULANG itu banyak CACAT NYA dan TIDAK ADA DASAR HUKUM nya… Cuma POWER AJAH YA?

  27. Arif Rahmat Says:

    Tender pertama vs Tender kedua

    Sepengetahuan kami, bukti kecurangan telah diserahkan oleh yang merasa dirugikan kepada yang berwenang menerima sanggahan. Apa yang diputuskan panitia benar-benar membuat semua orang kaget. Dari yang masih mempersoalkan tender pertama, malah ada yang walkout (bersama pengacaranya) karena tidak diacuhkan saat Aanwijzing tender kedua. Sepertinya tender kedua tersebut membuat tender pertama seakan menjadi tidak ada, itu yang saya pahami dari apa yang terjadi, entah apakah itu untuk menutupi aib pihak-pihak tertentu (misal pemenang tender pertama) atau bukan.

    KUHP

    Kecurangan dan persekongkolan yang telah terjadi (di depan mata kami) bukanlah perbuatan yang sepele di mata hukum. Mau bicara hukum? Silakan baca KUHP Pasal 378 dan 382 bis dengan kata kunci “tipu muslihat”, “rangkaian kebohongan”, “perbuatan curang” serta Pasal 263 mengenai “pemalsuan surat”. Saran saya, kalau Dimas mau menuntut Depdiknas, cari pengacara tangguh dulu dan siap-siap juga dituntut balik. Kesalnya kepada Depdiknas kan?

    8 Joki Teridentifikasi

    Foto? Oh yang 8 Joki Teridentifikasi Pada Uji Teknis Peralatan UN Depdiknas. Adakah yang salah? Apa benar tidak malu jika diketahui orang menjadi joki? Saya kenal dengan pria yang ada di foto itu, dan saya berasumsi bahwa saat difoto, dirinya tidak tahu bahwa sedang menjadi joki. Foto tersebut saya kaburkan agar tidak membuat dia malu. Kalau ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, ya maaf, itu di luar dugaan.

    Nama orang-orang yang menjadi joki sengaja tidak dicantumkan karena dapat mencemarkan nama baik mereka. Alasannya, pada saat mereka bertindak, mereka sama sekali tidak sadar bahwa telah terlibat dalam sebuah tindakan pelanggaran hukum.

    Dikutip sedikit ya…..
    “Terdapat 8 joki dengan kemampuan intelelektual tinggi yang teridentifikasi pada uji teknis tender pengadaan peralatan ujian nasional senilai Rp 19 milyar di Depdiknas. Mereka disusupkan, disamarkan dan disebar oleh salah satu vendor perangkat lunak menjadi karyawan dadakan pada 5 dari 16 perusahaan peserta lelang agar dapat menjadi operator perangkat lunak yang diuji.”

    Kalau mau menampilkan foto saya yang diburamkan (seandainya tertangkap basah oleh kamera sedang melakukan kegiatan yang terlarang), saya sangat senang sekali, karena dengan begitu jerawat saya tidak akan terlihat jelas :)

    Testimonial

    Astagfirullah, tulisan dari para pengguna DMR UASBN di situs web DMR UASBN tidak diubah/ditambah/dikurangi sama sekali. Kalau ternyata bernada promosi untuk DMR, alhamdulillah, semoga hal itu dapat bermanfaat bagi semua.

    Hasil Pembacaan Aneh

    Pada hari pertama pelaksanaan scanning UASBN, kami menerima laporan bahwa terjadi keanehan hasil scanning di beberapa tempat yang menggunakan DMR UASBN. Setelah diamati lebih jauh, penyebab utamanya adalah adanya beberapa variasi cetakan form UASBN asli yang berbeda dengan form UASBN uji coba yang selama ini digunakan untuk pelatihan dan pengujian DMR UASBN. Secara kasat mata sama, tetapi dalam hitungan digital, ada besaran yang berbeda.
    Pada hari yang sama, kebetulan Puspendik juga baru menyadari kesalahan template IPA yang seharusnya 40 soal, bukan 50 soal. Akhirnya ditempuh keputusan untuk menyebarkan berita agar semua operator scanning mengganti template semua mata pelajaran sekaligus. Yang berpotensi bermasalah, mungkin operator yang tidak mengganti template karena tidak terjangkau jaringan komunikasi operator DMR UASBN (atau scanning dilakukan oleh pihak ketiga sebagaimana halnya yang terjadi di beberapa kota di Jawa Barat dan DKI Jakarta). Mohon dibedakan, bahwa template tidak sama dengan DMR UASBN. Template itu bagaikan kepingan DVD, dan DMR UASBN adalah DVD Player-nya.

    Masalah? Alhamdulillah, terselesaikan

    Namanya juga operator baru, sistem baru dan pengalaman baru. Ada-ada saja permasalahan aneh, lucu, membingungkan, atau yang membuat kita tidak tenang. Ada rayon yang parah banget lho, 1 rayon image-nya negatif dari yang asli, jadi seperti klise film, yang putih jadi hitam, yang hitam jadi putih. Alhamdulillah, selamat, tanpa perlu mengulang scanning. Hal tersebut tentu tidak lepas dari peranan dan kerja sama yang baik antara rekan-rekan tim dinas pendidikan kota/kabupaten, propinsi, serta call support UASBN dari DMR dan Puspendik yang bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran mereka selama proses scanning hingga scoring UASBN berlangsung.

    DMR = Boeing

    Anggap saja DMR itu pesawat Boeing. Kami menjual pesawat yang kami buat ke maskapai penerbangan (dalam hal ini Puspendik Depdiknas). Ketika ada pesawat Boeing milik maskapai tersebut yang dikabarkan jatuh, tentu produsen Boeing (kami) tidak bisa langsung disalahkan. Kebenaran jatuhnya pesawat harus diklarifikasi, dicari lokasi jatuhnya (kejadian error-nya), lakukan evakuasi korban (selamatkan LJK), cari kotak hitam (lihat log dan data pendukungnya). (Ingatlah kasus jatuhnya Adam Air yang kata berita telah ditemukan, tetapi kemudian diralat statusnya menjadi hilang).

    Untuk setiap kasus yang sudah diklarifikasi, perlu diteliti dulu apa penyebab jatuhnya pesawat (baca: hasil scan tidak sesuai dengan aslinya). Apakah karena cuaca (faktor tak terduga), karena kelalaian pilot (operator), kesalahan penumpang (para siswa sendiri), ada teroris (pelaku sabotase), kesalahan pihak bandara (pembuat kebijakan), kesalahan pihak maskapai (Puspendik + dinas pendidikan), karena ada spare part yang seharusnya diganti tetapi tidak diganti (template DMR maupun faktor scanner), atau memang karena cacat produk (DMR UASBN). Tim investigator yang dilibatkan seharusnya tentu dari pakar Boeing, jangan dari pakar Airbus, karena orang Airbus tidak tahu menahu seluk-beluk Boeing, atau ada potensi untuk menjelek-jelekkan Boeing dan memuja-muja Airbus. Terima kasih atas perhatian Dimas ke DMR UASBN, semoga bisa mengerti perumpamaan di atas.

    Uji Teknis Lelang Kedua

    Saat DMR diuji, Dimas tidak ada. Saat buatan Dimas diuji, saya tidak ada. Yang saya ketahui hanya info dari Pak Feri (PT Prisma Teknologi Informatika) bahwa ada berita dari orang Canon yang ikut presentasi Dimas, dia mengatakan bahwa Dimas kurang lancar saat presentasi.

    Saya malah baru tahu (setelah membaca tulisan Dimas) kalau ada kata-kata tanggapan dari ketua panitia. Setahu saya, penilaian uji teknis tetap dari juri Puspendik, bukan ketua panitia, dan hasilnya adalah boolean: memenuhi spesifikasi, atau tidak .

    Apa urusan saya dengan ketua panitia? Maaf, sekedar klarifikasi, saya tidak pernah menyebut nama apalagi menjatuhkan satupun kompetitor DMR saat sesi uji teknis DMR. Tapi kalau ketua panitia pengadaan punya pendapat pribadi, belum tentu salah lho :)

    Saat itu kondisi saya sebenarnya kurang percaya diri dengan demo unit scanner Fujitsu fi-5650C yang kondisinya tidak lagi baru, tapi alhamdulillah, diberikan kelancaran oleh Allah SWT.

    Satpam vs Anggota DPR

    Ada lelucon dari pemenang lelang tender kedua: PT Binareka. Mengapa harga penawaran dari Binareka (salah satu perusahaan pembawa Fujitsu dan DMR) bisa murah?

    Kata mereka, mereka tidak sama dengan perusahaan-perusahaan lain (saingannya) yang gaul dengan anggota DPR atau Menteri. “Binareka gaulnya dengan satpam Puspendik, jadi biaya operasionalnya dapat ditekan dan dinyatakan menjadi harga terendah kedua”, begitu kata salah seorang karyawannya sambil setengah tertawa. Alhamdulillah, saat uji teknis, perusahaan dengan harga terendah pertama tidak datang. Akhirnya Fujitsu dan DMR yang lebih dahulu mendapatkan kesempatan uji teknis, dan berhasil.

    Jawaban atas kesimpulan Dimas

    1. Tuduhan kecurangan kompetitor DMR pada tender pertama telah dilengkapi bukti dan telah diserahkan oleh perusahaan yang membawa DMR kepada yang berwenang, dalam hal ini panitia pengadaan tender pertama.

    2. Yang terjadi sebenarnya (dari titik pandang tim pengembang dan pemasar DMR), di Jatim dan Jateng, justru DMR (dan kami) yang difitnah dan dijelek-jelekkan oleh kompetitor DMR. (Silakan lihat ancaman sanksi hukumnya di Pasal 310, 311, 315, 317, 321 KUHP). Selanjutnya, agar dapat digunakan pada UASBN, kompetitor DMR dengan cara yang tidak jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, tiba-tiba memiliki kunci enkripsi rahasia DMR UASBN yang seharusnya tidak boleh beredar selain di Puspendik dan tim pengembang DMR.

    3. DMR semakin dewasa dengan adanya kompetitor. Namun yang patut disayangkan, praktek persaingan tidak sehat telah dilakukan beberapa kompetitor DMR, secara sadar maupun tidak, baik berupa berita bohong, fitnah, hinaan, serta asumsi tak berdasar yang disebarluaskan kepada umum dengan sengaja untuk menjatuhkan citra DMR.

    4. Segala tuduhan dari kompetitor DMR mengenai cacat produk pada DMR maupun DMR UASBN yang tidak dilengkapi dengan bukti yang telah diverifikasi oleh tim investigasi/pakar DMR atau tidak dapat dibuktikan kebenarannya tidak dapat kami tanggapi.

    5. Tim pengembang dan pemasar DMR berusaha untuk bermain bersih, tidak pernah menyodorkan diri/berusaha mendekati secara personal kepada Puspendik/panitia pengadaan di Depdiknas. Puspendik Depdiknas-lah yang mencari sistem berkualitas secanggih DMR dan didukung oleh orang-orang yang amanah/dapat dipercaya serta dapat diandalkan, bukan mencari keuntungan finansial belaka.

    6. Setahu saya, tim DMR tidak memiliki backing di Puspendik Depdiknas maupun di Inspektorat. Justru sebelum hasil tender kedua diumumkan, kami juga masih apriori, harap-harap cemas, apakah benar hasilnya lebih bersih daripada tender pertama. Backing kami adalah Allah SWT, dan di saat-saat genting itu kami lebih berusaha mendekatkan diri kepada-Nya agar doa kami dikabulkan oleh-Nya. Alhamdulillah, maka kekuasaan siapakah yang mampu mengalahkan-Nya?

    Kalau ada doa Dimas yang belum terkabul, jangan berkecil hati, mungkin masih dalam antrian. BTW, kapan nikahnya? Atau sudah? :)

    Arif Rahmat
    Dedengkot DMR #2
    http://digitalmarkreader.com


  28. GARA-GARA BOHONG DI UJI TEKIS, YG KATANYA BISA MIRING/TEROTASI NAMUN TERNYATA DI SAAT UASBN TIDAK BISA, BANYAK SISWA NILAI UASBN NYA JADI JEBLOK KRN PEMBACAAN BERGESER. KEPALA SEKOLAH, ORANG TUA, BIMBEL, LSM, HARUS BERANI PROTES!!!”

    Mengutip KOMENTAR ARIF “Kejadian yang menurut saya paling parah justru bukan karena bom, tetapi karena kepanikan yang terjadi akibat berita bohong, menewaskan hampir 700 orang.” WAH ITU AMAT SANGAT TEPAT SEKALI !!!

    Wah itu benar sekali…
    Gara-gara kebohongan uji teknis yg katanya bisa miring, tapi ternyata saat untuk UASBN, klo LJK nya miring pembacaan jadi bergeser, A->B, B->C, dst… shg nilai jadi JEBLOK! klo memang pake HATI harusnya MINTA MAAF donk!!! buka mata hati… ini tanggung jawab moral… apalah artinya Informatika ITB klo tidak bermoral… (btw, sy IF ITB juga ^_^)

  29. Arif Rahmat Says:

    Ketika ada yang tidak mengerti dengan etika, semoga ia mengerti dengan Undang-Undang.

    Di dalam Pasal 9 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, poin i disebutkan bahwa “Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan suatu barang dan/atau jasa secara tidak benar, dan/atau seolah-olah secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa lain.”

    Masih dalam UU yang sama, pada Pasal 62 disebutkan bahwa pelanggaran terhadap pasal 9 tersebut hukumannya pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah).

    Dalam kesempatan ini kami menegur agar salah satu kompetitor DMR yang rajin mengikuti diskusi ini menyadari atas tindakannya selama ini yang begitu merendahkan DMR (hampir di setiap kesempatan promosinya). Kami tidak merasa beruntung ketika Anda mendapatkan hukuman, walaupun kami dapat menuntut Anda berdasarkan Undang-Undang tersebut. Bukan itu yang kita inginkan, dewasalah, jangan seperti anak kecil melulu. Pandai-pandailah menempatkan diri, berperilaku dan bertutur kata.

    Alhamdulillah, umumnya kami di Codena sudah menikah dan punya anak, jadi sudah mengerti bagaimana mengendalikan diri serta bersabar ketika menghadapi anak kecil. Semoga Allah menguatkan kesabaran kami dan menghindarkan hati ini dari dendam dan amarah yang tidak ada gunanya.

    Arif Rahmat
    Dedengkot DMR #2
    http://digitalmarkreader.com


  30. wah… wah.. wah…
    mentang2 DMR udah menang proyek 14,7M trus dengan “berani” nya “menggertak sambal” mau menuntut…

    weis… dulu SMR yg menang, kmu nulis2 di web dan aku gak menuntut tuh Rif…
    Pegang uang memang menjadikan orang lupa daratan…
    Menjadi merasa “powerfull”…

    btw… kok pertanyaannya gak di jawab seh???
    Benar kan banyak terjadi nilai JEBLOK karena kasus pembacaan bergeser??? katakan dengan sumpah demi Allah, Tuhan yg sering kamu sebut-sebut dalam solatmu, dan menangiskah dirimu? Iba kah dgn nasib yg JEBLOK itu? dan nilailah dirimu sendiri

    Sebelum melangkah ke aspek hukum, jawab dulu donk pertanyaan di atas…
    btw… klo sampai menuntut bagus banget tuh… Jgn di kira takut ya… itu benar2 jalan TOL dan tersibak KRONOLOGIS nya, dan aku yakin akan jadi lucu sekali Pak Iping menuntut mahasiswanya melalui mahasiswanya… dan polemik kita “THE END”, karena jangan harap aku mau berpolemik dgn “hanya” juru bicara DMR… harus langsung dengan Presidennya alias Dedengkot#1

    klo transaksi tender kemaren “CACAT HUKUM” atau terbukti “TIDAK MEMENUHI TEKNIS” dan “TERBUKTI MENYEBABKAN KASUS YG MERUGIKAN SISWA/NEGARA” siap saja batal demi hukum ya… terutama softwarenya gak masuk spesifikasi teknis minimum… (coba baca lagi kontrak nya!)

    btw, Pak Rektor ITB juga kudu tau klo hasil riset hasil itb itu sepak terjangnya gimana… “Do Anything to Win?”

    btw, kejaksaan udah dilaporkan atas carut-marutnya atas proses lelang diatas (mereka komentar bhw pembatalan itu tidak boleh), tapi gak tau apakah direspon hukum atau politis untuk meredamnya yg lebih kuat…

    diluar itu semua, jawab donk pertanyaannya! Gak kasian ya sama siswa2 SD yg jeblok, padahal jumlahnya banyak banget… Aku lagi mikir2 efek baik dan buruknya jika gambar2 bukti di publish. Pakai moralitas dlm berbisnis donk mas… It’s not about money… Gak ada untungnya utkku, tapi ini moralitas! Ngakunya dewasa, BUKTIKAN!

  31. pebbie Says:

    :( ingin sekali menanggapi tetapi sepertinya ada yang tidak terbiasa bisa berdiskusi secara sehat and looks very much like a newbie on virtual community by the way one communicates one’s idea (deleted because ad hominem).


  32. [...] ini saya baru tahu bahwa terjadi polemik mengenai perangkat lunak yang digunakan sebagai pemeriksa lembar ujian di UASBN. Agak telat [...]

  33. kuke Says:

    Oh.. ini toh yang rame2 itu, Bu Ayi?? ^^
    Sudah pada berterima kasih belum ke Bu Ayi??

  34. Ibam Says:

    Permisi..

    Saya mahasiswa Informatika ITB juga, angkatan 2003, dan kebetulan tugas akhir sama-sama dengan Pak Iping. Jujur, saya sangat-sangat kaget ketika mengetahui Dimas dan Arif kedua-duanya satu almamater dengan saya, hanya berbeda jangka waktu beberapa tahun saja.

    Saya sangat kecewa terutama dengan Dimas, yang dalam kekesalannya sama sekali tidak menghiraukan etika diskusi/argumentasi yang baik. Kata-kata sangat kasar seperti itu tidak pernah saya temukan dalam pengalaman saya di dunia Informatika ITB, baik di milis, kuliah, maupun himpunan. Saya harap etika yang saya dapat di Informatika ITB selama ini tidak akan luntur dalam lima tahun ke depan seperti yang Dimas alami.

    Akan tetapi, saya merasakan kekecewaan yang lebih mendalam ketika mengetahui bahwa perang kata-kata ini dilakukan antara kedua belah pihak yang dulunya mahasiswa Informatika ITB. Mungkin realitas bisnis dan kehidupan selama lima tahun terakhir sudah memupuskan idealisme kalian sebagai mahasiswa, tapi coba pikirkanlah apa yang dapat kalian kontribusikan kepada Indonesia jika energi yang kalian habiskan untuk berperang selama ini diarahkan untuk sebuah kolaborasi. Indonesia butuh hasil kerjasama otak-otak kalian setelah menimba ilmu di ITB, bukan pertengkaran seperti ini!

    Tanggung jawab kalian terhadap Indonesia jauh lebih penting daripada perang kata-kata dan hati antara kedua belah pihak.

    Salam,
    Ibrahim Arief
    13503038

  35. Arif Rahmat Says:

    Terima kasih untuk Bu Ayi atas kesediaannya menjadi moderator yang bersedia menyediakan waktu untuk memberikan approval atas dimuatnya tulisan kami.

    Terima kasih juga bagi Bu Kuke yang mengingatkan kami.

    Saya memilih untuk tidak meladeni pernyataan maupun pertanyaan selanjutnya dari Dimas dengan alasan padatnya jadwal dan menghindari terjadinya hal yang lebih buruk.

    Sekali lagi terima kasih.

    Arif Rahmat
    Dedengkot DMR #2
    http://digitalmarkreader.com

  36. adywicaksono Says:

    wah rame sekali

  37. datsu Says:

    wakakakakak.. ini sebetulnya siapa yang nipu siapa yang ditipu?

    siapa yang mencuri siapa yang dicuri? hihi.. introspeksi kawan2.. kata ibu saya yang sudah saya buktikan sendiri, hukum karma itu ADA!!

  38. Widya Says:

    Boleh komen dikit,
    Saya salah satu pengguna DMR yang terkadang juga bete menggunakan DMR..

    Menurut saya kelemahan DMR yang paling nyata itu adalah dari segi bentuk scanner yang dipakainya. Fisik scanner yang seperti printer membuat adanya kemungkinan kertas bergeser atau miring. Walaupun tujuan penggunaan nya tampaknya karena biaya yang jauh lebih murah

    Jadi, pengguna DMR (dalam hal ini petugas scan) emang harus mau bekerja extra untuk melakukan penggeseran image sesuai dengan settingan yang udah ada. Karena jika kertas yang di scan agak miring atau tidak pas dengan template, maka gambar yang terscan tentu tidak pas.

    So, ga bisa disalahkan juga DMR nya …


  39. Maaf, atas polemik panjang nya… di tempat ini…
    sampai2nya web ini masuk TOP di google…
    Tapi sudah di ijinkan, and feel free kata Ibu Ayi.

    ETIKA Vs MORAL
    Etika , baik sesuai norma sosial
    Moral , benar sesuai nurani

    Setiap pekerjaan yang menuntut tanggung jawab…
    Apalagi mementukan nasib orang lain
    Ketika sanggup, kan harus siap konsekuensinya
    Dulu pun saya diam…
    Tapi ketika banyak siswa yg dirugikan, (maaf, saya protes krn saya tahu) lalu apakah saya harus diam???
    Bukankah itu tanggungjawab moral?
    Maaf, ini pula yg mengurangi rasa hormat saya pada pihak2 yang rela menutup mata hati dan membiarkan
    Klo saya tahu jumlahnya Ribuan, haruskah diam?

    99% pendapat orang itu dipengaruhi oleh media…
    maka kejujuran itu diperlukan…
    dan waktu yang akan berbicara…
    mengungkap fakta dibalik polemik ini…
    Kalaupun ada kata2 saya yang “salah” yg tidak berkenan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.


  40. Ya
    saya ijinkan koq, dimas sama arief
    supaya kita (saya) lebih faham
    btw ada yang bisa lebih bahas teknis? ;)

  41. pbasari Says:

    @Widya and all
    terima kasih atas komentar dan informasinya

    @Arief
    betul, menurut rekan saya, yang melakukan proses LJK adalah pihak ke-3, Unpad(?). ketidakakuratan bisa jadi krn proses scanningnya ya? bukan salah alat?

    Oh ya, kalo di paper dikatakan, bisa membaca selain pensil. LJK kemarin harus pensil ya, jika menggunakan spidol, ada kemungkinan lebih bisa dibaca?

    @Pa Rinaldi,
    saya juga ingin tahu, dapat data darimana ya kira2. menurut rekan saya, Bandung urutan 17 se Jawa Barat, alias hasilnya kecil2. Barangkali soalnya yang sulit, ato pas scan LJK, ga akurat? :D

    kalo di sekolah anak saya, rata-rata menurun nol koma poin (termasuk anak saya) antara manual dan LJK. ada juga satu anak pintar yang bisa jadi wakil sekolah di lomba-lomba, matematikanya 5.5, nilai lainnya baik. Kasian juga. (tapi belum tentu salah LJK koq, barangkali panik pas hari H)

    Lepas dari LJK-DMR, deep inside saya tetap tidak terima anak-anak SD diharuskan UASBN. Beberapa cerita tidak menarik (sayang, tidak ada data), guru mendiktekan jawaban dll. Harus bagaimana atuh?

  42. pebbie Says:

    @Mbak ayi:di posting saya yang trackback ke sini saya sudah coba jelaskan secara teknis. bahwa kondisi yang tidak ideal (khususnya geser dan miring) tersebut secara umum sudah dapat ditangani. hanya kasus-kasus khusus yang peluang kemunculannya cukup kecil (kurang signifikan) yang dengan pengetahuan yang ada sekarang belum dapat tertangani.

    Jika kita melihat dari sudut pandang hardware yang dalam hal ini adalah document scanner, masing-masing jenis scanner (flatbed maupun ADF (yang dimaksud oleh Widya sebagai yang mirip dengan printer)) memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri (saya jelaskan juga dalam posting saya).

    polemik seperti ini seharusnya tidak hanya memojokkan software (ataupun vendornya) sebagai akar permasalahan.

    Perihal pemeriksaan uasbn ini juga seharusnya bukan permainan menang-kalah. siapapun yang terpilih juga tentunya akan berusaha semaksimal mungkin dalam memberikan pelayanan dan juga tidak akan luput dari kondisi tidak ideal. Cobalah kita ukur dan bandingkan sistem pada masa lalu dengan sistem yang ada sekarang. Pertanyaannya adalah ketika kesalahan sudah terjadi, bagaimana reaksi dari pihak-pihak yang terlibat dalam proses uasbn ini;apa solusinya?

    Sepupu saya (di bandung) juga pernah mengalami keganjilan, nilai bahasa inggrisnya jeblok sementara yang lainnya baik-baik saja. Terlepas dari hal mana yang salah (memang kebetulan di jawabannya atau pemeriksaannya), sistem yang dulu tidak memberikan penjelasan apa-apa ketika kami menelusuri hingga pihak dinas pendidikan propinsi (tentunya dengan tidak mengalami kelancaran), hasil akhirnya tetap saja tidak ada informasi yang bisa diterima (hanya ada salinan jawaban dan nilainya, tanpa ada bukti yang menunjukkan lembar jawaban yang diisi seperti apa).

    Dengan sistem yang ada sekarang yang juga menghasilkan citra dokumen hasil scan, seharusnya dari pihak yang berwenang dalam bidang pendidikan memberi fasilitas untuk komplain ataupun sekedar re-check.

    Kalau saja kita bisa saling mendukung dalam menyelesaikan persoalan besar ini dan bukan hanya saling menyalahkan. Saya harap pada pihak yang menjadi ujung tombak penyerapan teknologi (penjual, marketing, dan media) agar memberi informasi yang mencerdaskan masyarakat daripada memperkeruh keadaan dengan saling menjatuhkan seperti di dunia periklanan saat ini untuk produk industri lain (rumah tangga, makanan, telco, dst).

    Peb

    13502044


  43. @pebbie
    terima kasih atas komen dan penjelasannya
    betul ya, jika ada keganjilan hasil, harusnya bisa ditelusuri; spt komen mas jono dan mas aditya di atas.

    kolega saya juga pernah ingin menelusuri hasil un anaknya, memang luar biasa sulitnya. berkas2 ujian mungkin sudah dikilo ya. padahal itu hak siswa kan untuk melihat lembar jawabannya sendiri?

  44. Kaka Says:

    @ Arif

    Analogi banyak orang dipakai untuk resoning, tetapi hati-hati menggunakannya kamu bisa terjebak dalam logical fallacy, karena sejatinya analogi bukanlah teknik reasoning untuk membenarkan atau mempersalahkan sesuatu. Dia hanyalah cara yang mudah untuk menjelaskan sebuah fenomena dengan bantuan fenomena lain yang memiliki kesamaan objek dan sifat..

    Ketika beranalogi jangan sampai mereduksi dua sifat yang dianalogikan..

    Saya bisa gunakan analogimu dengan lebih lengkap.. benar bahwa ahli Boeing dan ahli Airbus itu berbeda, benar bahwa Boeing dan Airbus dikembangkan dengan metoda dan pendekatan berbeda. Adalah benar juga bahwa kedua pesawat itu dalam beroperasi akan menemukan externalities yang akan mengganggu performansi dari pesawat tersebut, seperti angin, human (operator) error

    Tetapi harus diingat, Airbus dan Boeing adalah merek dagang yang hidup di dunia bisnis. Sebelum itu ada, sudah terlebih dahulu ada ilmu penerbangan yang hidup di dunia akademik yang setahap demi setahap membangun body of knowledge dunia penerbangan.

    Di dalam dunia akademik baik Airbus maupun Boeing kedua-duanya bisa diaudit secara akademik yang sudah maju dari segi metodologi, dan memiliki standar-standard serta konvensi-konvesi yang baku dan disepakati disemua akademisi penerbangan

    Kalau ditemukan sebuah Boeing kecelakaan maka akan dianalisis apa penyebabnya.. kalo ternyata karena externalities maka selamatlah muka Boeing dari pencitraan produknya yang buruk karena pilot melakukan kesalahan operasional (misalnya). Lalu kemudian permasalahan lari lagi ke ranah akademik untuk diketahui human error seperti apa yang dilakukan pilot.. dan bagaimana kajian ilmu safety meminimalkan kejadian itu berulang kembali sehingga kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.

    Nah masalahnya kalau boeing kembali melakukan kesalahan yang serupa atas human error yang seharusnya bisa diantisipasi secara teknis, maka disini Boeing seharusnya menjadi pihak yang bertanggungjawab karena telah melakukan kelalaian yang mengakibatkan kerugian yang begitu besar kepada publik.

    Disini harusnya ada komite independen yang sebagian anggotanya terdiri dari unsur akademisi penerbangan yang menilai apakah Boeing technically sudah mengantisipasi error tersebut atau belum.

    Jika belum kenapa? apakah karena belum ada (ditemukan) teknologi yang dapat melakukannya atau apakah karena boeing tidak mampu menerapkan teknologi antisipatif tersebut? jika Boeing tidak mampu kenapa Airbus mampu (lagi2 ini misalnya) ?

    Nah dengan analogi tersebut, kita harusnya bisa melakukan penilaian mana vendor yang benar dan mana yang tidak benar menerapkan teknologinya.. dan ini harus menjadi keputusan hukum, vendor yang tidak layak teknologinya harus dihambat dan yang layak harus didukung. Kenapa? karena korban tidak bisa dibiarkan terus bertambah. ya tho? jadi ini ukurannya sudah bukan lagi persaingan bisnis yang sopan VS tidak sopan . Akan tetapi sudah soal benar atau salah, dan yang bisa melakukan itu adalah insan-insan akademis yang independen.

    Saya rasa di dunia software juga sama. Meskipun developer SMR tidak bisa mengaudit DMR dan sebaliknya, akan tetapi kedua software itu bisa diaudit secara teknologi maupun metodologi pendekatan-masalahnya oleh auditor Software yang terdiri dari para ahli yang independen. Apakah software tersebut sudah memenuhi standard ataupun requirements PUSPENDIK atau belum?

    Misalnya audit bisa dimulai dari kemampuan pembacaan LJK terotasi, dimana menurut diskusi disini merupakan requirement dari PUSPENDIK. Cek apakah DMR bisa? Dengan metode seperti apa DMR melakukannya? demikian juga berlaku untuk SMR, OMR dll.

    Begitulah seharunya diskusi ini bergulir, lebih kearah teknis seperti permintaan bu ayi sebagai pemilik blog. Bukan kearah personal yang membahas apakah sudah menikah dan punya anak atau belum. Kalau Arif tidak mampu masuk ke wilayah teknis lebih baik tarik pak Iping sebagai dedengkot 1.

    Begitu juga untuk kawan Ibam, seharunya sebagainya anak IF anda masuk ke area ini.. urusannya bukan lagi sopan vs tidak sopan, negeri ini sudah banyak hancur karena urusan sopan vs tidak sopan ini seringkali mengalahkan urusan benar vs salah.. sehingga orang2 lebih memilih untuk tidak bertanggungjawab atas kesalahan yang penting sopan!

    Pengusaha mencari Laba, Politisi mencari Kuasa, Cendekiawan mencari Kebenaran

    Kaka
    “Bukan anak IF-ITB”


  45. TEMA FILOSOFI
    Untuk menjelaskan sesuatu hal, ada 2 pendekatan, yaitu Analogi dan Kronologi.
    Analogi yg kurang pas seringkali mempelesetkan dan menjadi justifikasi membenaran. Perumpamaan pada analogi terlalu menggunakan asumsi-asumsi padahal kondisi jauh berbeda. Nilai Benar Vs Salah berdasarkan Analogi sangat dipengaruhi oleh pengalaman, aliran kepercayaan, budaya/etika serta moral. Tak jarang yg terpeleset menggunakan Analogi untuk Cuci Otak dan Mendogma, sehingga dalam polemik publik sebaiknya bersifat kronologi yg lugas, mengacu pada basis konvensi hitam putih yg sama, tidak abu-abu, tidak ambigu, dan mono persepsi.

    Pengadilan kasus Amrozi adalah satu2nya proses peradilan yg jaksa menggunakan perumpamaan2 didalam tuntutannya. Ya, itu kan masalah sosial, politik dan agama… Namun dari kaidah hukum, ditentang tuh… Karena analogi itu multi asumsi dan dpt diperdebatkan.

    MISAL: (Saya coba beranalogi, tp ini mgkn byk salahnya ^_^)
    Pesawat Boeing 737 seri 200 spesifikasinya bermesin jet super kuat dan berkapasitas 200 orang. Tetapi ketika dalam kondisi penumpang full dan Hujan Angin saat landing resiko malfunction kesetimbangan antara daya angkat dan kecepatan masuk angka yg membahayakan. Andaikata pada kondisi itu hanya 1:100 akan jatuh dan kondisi itu hanya terjadi 1:100 kali pendaratan. Maka peluang adalah 1:10000 pendaratan mengalami kecelakaan.
    Bgmn kah persepi Anda?

    Tentu saja solusinya Sederhana! Ubah spesifikasinya!
    Dari 200 penumpang jadi pada batas aman (misal :100 penumpang) sehingga maskapai akan mengoperasikan pesawat tsb pada kondisi aman.

    Senada yg terjadi di UASBN, akibat vendor mengklaim spesifikasi softwarenya mampu membaca miring/ terotasi, operator scanning menjadi kurang merapatkan tray tumpukan LJK nya, sehingga beberapa LJK terscan miring dan jawaban bergeser! Padahal marker ada!

    MARKER itu bagaikan RODA dan STIR mobil…
    Pada SMR ke 4 Roda adalah Kotak Pojoknya…
    dan stir nya adalah 1 Kotak lain pada salah satu sisinya…

    Ya ini salah satu analogi saya, mungkin metode yg lain, lain pula analogi nya… Tapi biasanya klo posisi relatif penumpang thd stir itu konstan, tak peduli mobilnya belak-belok atau jungkir balik.
    Itulah rahasianya mengapa pembacaan marker oleh SMR bisa me-mapping LJK secara tepat pada segala sudut kemiringan tanpa distorsi.

    Marker memang digunakan untuk mencari parameter2 interpolasi yg mengarahkan pada mapping pembacaan, tapi kan tidak semua yang berstir itu mobil offroad…
    Untuk melintasi medan tanjakan berbatu, sungai, lubang, harusnya kan spesifikasi SUV, trus yg di deliver MPV… ya klo kecelakaan masa’ yg disalah sopirnya? trus nasib penumpangnya yg gak tau apa2 gimana?

    Ada pertanyaaan yang simple sekali yang tidak berani dijawab… yg saya nanti-nanti terus. Banyak kasus dimana siswa nilai jeblok krn pembacaan LJK bergeser… ya kan? jawaban A->B, B->C, dst..
    Soalnya mudah, bukan dengan akal menjawabnya, tapi harus dgn hati, yaitu itikad baik dan rasa tanggungjawab… (spt insan P4 dulu :D)
    a. Tentu Benar
    b. Belum Tentu

    Oya, krn ini analogi maka saya akhiri dengan “Wallahualam bi shawab” dan Mohon maaf klo analogi ini salah dan dapat menjerumuskan persepsi ke fitnah. Analogi ini hanya contoh bahwa analogi itu multi persepsi.


  46. BERANDAI ANDAI… YA SEKEDAR ANDAI KATA…
    (Tanpa mengurangi rasa hormat saya ke Beliau)

    Ijinkan saya berandai-andai ya…
    Andaikata… awal tahun 2003 dulu DMR sudah ada..
    dan Dimas yg mengusung DMR…
    serta Arif yg mengusung Click Report…
    dan bukan sebaliknya…
    Mungkin statusnya saat ini adalah Dimas yang jadi “Pahlawan” dan Arif yg jadi “Pengkianat” buat beliau…

    dan mungkin saya yg akan sms ke Arif “Susah deh klo mau silaturahmi, Kmu kan sudah dicap sbg Pengki”
    alhamdulillah, terakhir saya silaturahmi sebelum tender, saya masih diterima…

    dan mungkin Beliau di UASBN kemaren bisa bersantai… tak perlu memprogram, cukup membimbing, saya yg mrogram semuanya, saya bayangkan every body happy…

    Andaikata dulu saya tidak tertarik ke komputer grafik… dan tidak kuliah interpretasi citra dan tidak TA di bidang grafik, maka SMR juga tak akan dibuat pada feb 2006…

    Andaikata saya tidak kerja di PAU, misal di software house, mgkn juga ilmu grafik saya tidak nambah, tidak ada proyek jaringan PLN, tidak ada waktu luang jeda antar proyek, dan tidak akan ada SMR…
    dan tidak ada yg sakit hati pada saya…

    Andaikata…
    SMR adalah yg pertama kali, dan tidak ada persaingan… mungkin teknologi SMR juga akan pas-pasan… dibuat tanpa idealisme…

    Andaikata…
    Solar Scan Pro, Remark Office, Scanable Office, dan banyak merek sotware buatan luar masuk dulu ke Indonesia dan bercokol menguasai market.. mungkin SMR tak akan ada…

    Tapi jalan itu kan misteri illahi…
    Byk cabang jalan lain… Tapi semua seolah2 terarah.
    Saya juga kadang klo dipikir2 bingung juga…
    kok malah SMR yg jd utama, padahal program ini dibuat iseng2 modifikasi dari desainer program sistem informasi general (mirip access tp untuk semua jenis DB) dan kini malah produk turunannya yg utama ^_^

    Kalo pun hanya ada 2 tipe manusia…
    Andai hanya ada Pahlawan atau Penghianat, dan apa yang saya perbuat saat ini menyakitkan hati, Saya mohon maaf yg sebesar-besarnya, Semoga saya bisa menjadi Pahlawan pada skenario yg lain…

  47. dvh Says:

    Numpang liwat…

    Selalu ada alasan bagi pecun%#@!. Jadi ingat waktu kalah dalam pertandingan futsal, BT banget lihat striker utama mainnya sedang jelek [mnrt saya sedniri] dan MAKSAIN diganti dengan saya, eh ketika menggantikannya tetap nggak bisa berbuat banyak (baca: nggak lebih baik).

    Sikapi saja semua dengan lebih dewasa, dan yang terpenting intropeksi diri masing2

    Salam,
    DVH
    Bukan Anak IF
    Bukan Anak ITB Asli

  48. dvh Says:

    Maaf tadi cuma inisial, nama saya Devid Hardi. thx moderator

  49. Anton Wijaya Says:

    Salam,

    Saya seorang pemakai DMRnya mas arief, sudah sekitar 2,5 tahun, selama ini dmr yang kami pakai sangat memuaskan, bagi kami software itu sangat berguna, membantu kami menyelesaikan pekerjaan yang baru selesai dalam seminggu menjadi selesai dalam beberapa jam saja.

    Untuk pertentangan ini apa lagi terjadi dalam keluarga ITB, sebaiknya masing-masing kembali untuk saling bersaing dengan sehat saling mengembangkan aplikasi yang lebih mampuni, bukankah ini akan mengankat harkat dan martabat bangsa kita, yang selalu di cap sebagai pembajak berbagai aplikasi.

    Untuk Mas Dimas, sabar dan kembangkanlah aplikasi anda, menjadi aplikasi yang lebih hebat, belajar dari kekurangan yang lain.

    Untuk Mas Arief, juga sabar, tingkatkan apa yang anda peroleh, dengan kepercayaan yang telah diperoleh, terus pertahankan kepercayaan itu.

    Salam, Peace


  50. DEAR ALL
    Selalu ada 2 sisi mata uang, sisi atas dan bawah.
    Itu lah mengapa cara pandang harus selalu berimbang, bagi yg kontra dgn apa yg saya ungkapkan, saya tetap appreciate dan say thanks.
    But people have to know that I said the thruth!

    TECHNICAL PROBLEM
    Pada mark reader, technical main problem adalah kemiringan/rotasi, goresan tanda silang yang kecil dan pensil tipis.
    Kemiringan diatasi dengan model penanda interpolasi dan fungsi yg mampu menghasilkan sudut rotasi teta 0 s.d 360 derajat, skala X, dan skala Y.
    Pensil tipis diatasi dengan gambar grayscale/color.
    Goresan/silang kecil diatasi dgn distribusi statistik.

    RELAKAH KEBENARAN MENGALAH DEMI ETIKA?
    Bagaimana pendapat Anda bila dalam 1 propinsi ada ribuan LJK yang bergeser/salah pembacaan? sebut saja ada 2000. Bukankah siswa dan diknas dirugikan?
    Jika Anda tau maka diam dan tutup mata atau komentar?

    http://rapidshare.com/files/133988293/1.jpg.html

    http://rapidshare.com/files/133988294/2.jpg.html

    http://rapidshare.com/files/133988295/3.jpg.html

    http://rapidshare.com/files/133988296/4.jpg.html

    Jangan berpikir knp tidak dilaporkan saja, tapi diknas mana yang mau di daerahnya terjadi keributan?

    Terjadi hal ini, maka solusi dibuat dgn cara mendeteksi/mengecek string data jawaban yg banyak spasi(kosong)atau huruf *(ganda). Alhasil ribuan LJK diketahui yg bergeser atau pensil tipis bisa diselamatkan, awalnya cukup melegakan, namun cara ini tidak berhasil untuk LJK yg jawabannya bergeser! krn tetap ada isiannya hanya saja A->B, B->C, C->D, D->Kosong.
    Kompetitor tau pasti bahwa SMR mengatasi problem ini dengan jauh lebih baik, namun MENGAPA TIDAK RELA?

    LELANG ITU PERANG POWER KEPENTINGAN&POLITIS
    Pada proses lelang ulang UASBN 2008, spesifikasi adalah software mampu membaca LJK miring/terotasi. Oleh karenanya penolakan panitia&PPK dgn cara mengabaikan surat sanggahan atas tuntutan 6 perusahaan untuk evaluasi teknis ulang (hanya perlu 1 hari) sungguh sangat mengecewakan dan banyak mengandung muatan politis. Pengabaian atas kebenaran klaim bahwa software pemenang tidak memenuhi spesifikasi minimum berakibat fatal pada pelaksanaannya.

    SMR BERJUANG AGAR SOFTWARE AKURAT SAAT LJK MIRING, SETELAH MENANG LELANG, LAYAKKAH DIDHOLIMI?
    Berikut gambar LJK dirotasi, dan dibaca software SMR.

    http://rapidshare.com/files/133988297/uasbn_miring.jpg.html

    TRICKY SEHAT VS JAHAT
    Btw, saya belajar dari PT. Astragraphia dalam iklim bisnis yg kompetitif kita harus tricky. Ada 2 jenis tricky, yaitu tricky yang sehat dan tricky yang jahat. Berbeda? Sangat!
    Tricky yg jahat adalah melemahkan lawan.
    Tricky yg sehat adalah memanfaatkan kelemahan lawan.

    SILAKAN UJI PERSEPSI ANDA PERIHAL MORAL(BENAR SESUAI NILAI) VS ETIKA(BAIK SESUAI BUDAYA)
    Saya tau software lain lemah dalam akurasi saat LJK miring/terotasi, maka saya berjuang untuk membuat terobosan hal ini, dan ini menjadi nilai eksklusif.
    Saya tau software lain menggunakan black white shg pensil tipis menjadi putih, dan jawaban menjadi dianggap kosong, maka saya menggunakan grayscale/color.
    Tetapi saya tidak pernah memperlemah dgn mengatakan hal-hal yang tidak benar. Sbgmn pesaing SMR diwebsite resminya menulis pd UASBN file grayscale 150 dpi berukuran rata 400KB. Padahal ukuran file hanya 40KB s.d 90KB.
    Contoh LJK grayscale sbb:

    http://rapidshare.com/files/133998501/contoh_file_grayscale.gif.html

    METODE FORM MAPPING UTK FREE ROTASI (0-360 DERAJAT)
    Untuk dapat memappingkan posisi isi suatu form, diperlukan 2 hal, yaitu :
    1. Model Penanda
    2. Metode Pemetakan
    Software SMR berhasil menciptakan metode pemetakan yg mampu memapping form LJK pada segala kondisi kemiringan. Tanggapan beranekaragam, ada yg menyatakan apresiasinya dan ada pula yg menyatakan sakit hatinya.

    SAYA MANUSIA BIASA… SAYA TIDAK RELA DIDHOLIMI… NAMUN JIKA ADA KATA2 KASAR, SAYA MOHON MAAF
    It’s okey!
    No matter what they did…
    I am still standing here…
    Keep fighting on my new agenda…
    Developing Smart Form Reader… The Latest Technology of Vector Based Interpretation for Handwriting Recognition. Genuine method made in Indonesia.
    Mohon maaf atas kata-kata kasar, saya manusia biasa.

  51. Tri Gunarto Says:

    Wah rame juga nih … saya nggak sempat baca semuanya .. bisa makan waktu 2 jam baca debat di atas ..
    Untung rekanan saya tidak jadi maju tender … karena katanya sudah terjadi perang besar saat tender ..

    Oh iya saya lupa memperkenalkan diri …
    Saya pembuat software scanner LJK juga … saya beri nama “Scanner Periksa Nilai”, jauh dari DMR or SMR walaupun pernah saya baca di wikipedia dianggap peniru DMR. Tapi nggak masalah …. malah tambah top bisa meniru DMR yang terkenal HEBAT.
    Saya membuat software ini sudah lama niatnya … tapi baru terpacu pada saat teman saya yang punya bimbel meminta saya untuk membuat software periksa LJK.
    Akhirnya dalam waktu 1 bulan (3 tahun lalu di bulan puasa) saya sudah bisa testing …
    Saya baru tahun ada DMR sekitar 2 bulan kemudian di iklan koran Kompas (kalau tidak salah) ..
    Iseng saya cari di internet versi demonya …
    Untung program saya dari tampilan beda jauh … jadi seharusnya tidak dianggap penjiplak .. apalagi saya kan dari UI bukan dari ITB … hehehehe :)

    Oke deh salam kenal semua …
    Saya cuma berharap kita sebagai anak negeri saling bersinergi memberikan solusi terbaik untuk negeri ini
    Jangan ribut masalah tender, rezeki sudah ada yang mengatur. Jangan saling gontok2an gini .. malu sama programmer luar negeri yang sudah bisa bikin software super canggih ….
    Kita masih ribut di software yang cuma deteksi warna hitam dan main rotasi matriks … :)

    Buat Mas Arif saya sempat liat Mas sekilas waktu acara microsoft di Blitz …. mau negur nggak sempat …
    Buat Mas Dimas .. saya senang sekali jika bisa kenal dengan Anda … software Anda bisa jadi inspirasi buat saya .. (jangan dianggap nyontek ya) … saya buat software juga ambil ide sana-sini .. nyontek warna dan icon windows.

    Sekali lagi Salam untuk Semua

  52. Ayub IF01 Says:

    Hmm…
    Aku kenal mereka semua…

    It’s OK, semua masih dan akan terus belajar…
    Belajar untuk tidak menggunakan Agama tuk membenarkan asumsi.

    Kenapa ga coba ketemu aja langsung, sambil dtemani kopi dan pisang goreng, aku kenal mereka ko, dan sepertinya mereka hanya salah paham aja!

    [yang jauh dan kangen pisang goreng]

  53. PALUI STMIK BJM Says:

    disini saya tidak berpihak dgn DMR atau SMR, pertanyaan saya:

    untuk mas dimas:
    1. Form Reader yg mau direlease nanti, apakah lbh bagus dari Abby Form Reader?

    2. Kenapa nama software yg anda bikin mirip dgn punya DMR (beda D sm S)?

    3. Betulkah software SMR yg anda buat memang murni berdasarkan hasil pemikiran anda sendiri atau mengembangkan (menympurnakan) produk yg sdh ada, karena saya melihat layoutnya mirip dgn punya DMR? ataukah komponen atau unit yg digunakan sama dgn DMR? dan setau saya keduanya sama2 dicompile dgn Delphi..

    untuk mas arief:
    1. Setelah mendownload video (flv) DMR, ternyata fasilitas auto rotate DMR harus dilakukan scr manual, hrsnya kan kalo auto rotate hrs memang purely automatic tanpa campur tangan pengguna (pakai image editor jg bisa), bagaimana kalo LJK yg discan ada ribuan dan terbalik semuanya kan repot…

    2. Apakah nama DMR meniru punya pegasus florida (DMR – Digital Mark Recognition)?

    • Arif Rahmat Says:

      @PALUI STMIK BJM, thx atas pertanyaannya.
      1. Anda boleh berpendapat, tapi saya juga boleh berbeda pendapat. Menurut saya, yang namanya otomatis tetap harus ada cara untuk mematikannya. Seperti halnya autopilot pada pesawat atau cruise control pada kendaraan mewah. Dan itulah yang diterapkan untuk DMR. Bila yang Anda lihat di video DMR adalah adanya menu untuk mengaktifkan/me-nonaktifkan autorotate, itu bergantung pada status/keadaan sebelumnya. Contohnya autorotate/autoreverse dimatikan bila banyak coretan tambahan oleh pengawas ujian di pinggir LJK yang mengacaukan deteksi terbalik atau terjadi kesalahan pada pencetakan LJK sehingga penanda terbaliknya salah posisi atau hilang sama sekali.
      2. Digital Mark Reader (DMR) telah mendapatkan hak cipta dan merk dagang sehingga HaKI-nya dijamin oleh pemerintah. Nama DMR telah kami gunakan sejak tahun 2003. DMR tidak meniru nama dari produk lain. Kalaupun ternyata ada kemiripan, silakan dicek siapa yang duluan. Jika Digital Mark Reader tidak lebih dulu, kami tegaskan bahwa itu di luar kesengajaan.

  54. Aldi Says:

    wah, panjang sekali debatnya, sampe pusing bacanya.

    UNTUK MAS ARIF :

    1. Mas Arif, kenapa Anda terkesan melebih-lebihkan DMR unggul? padahal sejatinya itu kan hanya software biasa saja, buktinya banyak sekali yang buat di Indonesia, bahkan banyak yg kualitas nya lebih baik. Bukankah DMR itu hanya Skripsi? belum Thesis apalagi Disertasi kan?

    2. Mas Arif, merasa arogan sbg yang pertama dan merendahkan yang lain, tentu sikap itu tidaklah mulia! Inovasi itu senantiasa tumbuh dan berkembang, DMR hanyalah inovasi dan pasti lah diakui atau tidak, terinspirasi dari Scanner OMR yg sdh ada dikampus saya sejak belasan tahun lalu. Esok nanti dan pasti, DMR dan yg lainnya akan jadi teknologi usang.

    3. Mas Arif, di websitenya, mas Dimas menyatakan membuat software pemindaian UASBN 2009, apakah ini sama dgn DMR UASBN? Klo iya, mengapa DMR senilai 19M tidak dipakai lagi? Kerugiannya besar sekali bagi negara. Apa benar DMR tidak digunakan lagi th 2009? Tuduhan di atas menyatakan DMR tidak kualified utk pekerjaan skala nasioanal?

    4. Mas Arif, saya tertarik utk membuktikan debat di atas, stlh studi banding pada bbrp website, tidak ada satupun pernyataan bahwa spesifikasi DMR adalah mampu membaca LJK saat miring/terotasi. Ini berarti DMR Underspek? (menurut saya jelas sekali istilah “rotasi” adalah segala derajat putar kemiringan, dan bukan auto rotate yg manual on/off spt pada DMR
    yg mas Arif jelaskan). Yang saya baca, fitur rotasi ada di website SMR nya mas Dimas, tapi tidak di websitenya DMR.

    5. Mas Arif, apakah benar hasil uji teknis terbuka di lelang pertama DMR urutan ke 5 dan posisi 1,2,3,4 adalah SMR? Lalu apakah benar bahwa DMR menang dalam lelang ulang sebagai Harga Terendah? dan apakah benar lelang ulang dengan uji teknis tertutup? Apakah fitur2 yg didebatkan tsb diujikan dengan benar? atau krn tertutup jadi tdk diujikan?

    6. Mas Arif, menurut Anda, apakah SMR itu menjiplak DMR? jika iya pada hal/bagian apa? semuanya? source codenya? idenya? dan bukankah ada UU HAKI yg bisa Anda gunakan? Apakah SMR dibuat bersamaan dgn DMR? Fitur apa yg dijiplak? DMR dan SMR lebih baik mana menurut Anda? Apa yg ada di DMR dan tidak ada di SMR? lalu bgmn dgn milik pak Tri Gunarto?

    UNTUK MAS DIMAS :

    1. Mas Dimas, menuduh lelang cacat hukum, cacat spesifikasi, ada konspirasi, dan menimbulkan kerugian keuangan negara, serta merugikan ribuan siswa ujian UASBN krn nilai jadi jeblok adalah tuduhan yang serius, dan haruslah diiringi juga dengan publikasi bukti-bukti yang kuat. Ada tidak bukti2nya? link di website ini sdh expired.

    2. Mas Dimas, jika lelang dibatalkan tanpa ada alasan jelas dan tidak diberitahukan secara terbuka, jelas itu adalah pelanggaran hukum dan menodai kepastian hukum tata niaga di Indonesia. Apa Anda benar2 tidak tahu alasan batalnya? dan apakah mas Arif juga tidak tahu alasannya? peserta yg lain apakah ada yg tahu? atau tidak tahu semua? lalu mgp pada diam saja?

    3. Mas Dimas, apa benar Anda adalah pembuat software UASBN 2009? dan apakah DMR juga digunakan untuk UASBN 2009? Jika benar DMR tidak digunakan lagi krn alasan diatas, tidak perlu debat spt diatas, jelaslah siapa yang benar dan yang salah!

    Jika ada kata2 yang kurang sopan kpd mas Arif dan mas Dimas, saya mohon maaf. Sebaiknya debat diskusi spt diatas segera diselesaikan.

    -Aldi-

  55. Dimas P P Says:

    @Ayub : thankz ya Ayub! ^_^ ya maklum lah, masih pada emosional, umur ku waktu itu baru 25th, makin tua tentunya makin bijaksana…

    @Pak Tri : wah, andai kita bisa berjumpa dan berdiskusi… tentulah saya sangat butuh pengalaman dan motivasi dari Bapak. Atas tuduhan itu, Sabar dan dimaafkan ya Pak, kalam itu lebih luas dari seluruh daun dan laut… Oya, facebook bapak yg mana ya? ada 5 yg bernama sama… saya di add ya pak.

    @Palui : halo pak, D = Dulu, S = Sekarang, klo yg MDMR = Masa Depan (shg buatnya ga jadi2, krn utk masa depan) just kidding ^_^, nama SMR itu diambil dari masukan banyak pihak kala itu pak…
    Engine Designer dan Reader SMR itu sepenuhnya dibangun dari awal…

    @Aldi : iya, saya yg buat software utk UASBN 2009
    Alhamdulillah, semuanya lancaaaaaaaarrr ^_^
    tertimonial positif dari berbagai diknas prop (Sumut, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, DIY, NTB, hingga ke Kalimantan, Sulawesi dan Irian) membuat saya bersemangat:D Puassssss Tak Ternilai…

    @All : ayo, saat nya kita berkarya… Sukses 2010

  56. life cover Says:

    Woah! I’m really loving the template/theme of this site. It’s simple, yet effective.
    A lot of times it’s challenging to get that “perfect balance” between superb usability and visual appearance. I must say you’ve done a excellent job
    with this. Additionally, the blog loads super quick for me on Firefox.
    Superb Blog!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: