Iklan Bank yang Menyebalkan
May 22, 2008
Sudah lama sih merasa terusik.. Baru sempat dituliskan sekarang.
Ya, ada iklan bikin saya sebal! Padahal backsoundnya lagunya Ruth Sahanaya, lagu kesukaan saya: Andai kau datang. Tapi lihat visualisasinya, sebal! ![]()
Bukan apa-apa.. tersindir neh
kenapa jadi sensi begini?
Tergambarkanlah, sepasang suami istri, dengan satu anak..
- Ketika anak masuk SD, sang ibu menjual kalung untuk biaya masuk.
- Ketika anak masuk SMP, sang ibu menjuallagi perhiasannya
- Ketika anak masuk SMA, sang ayah menjual mobilnya
- Ketika anak masuk Kuliah, sang ibu dan ayah.. menjual rumahnya ! Tergambarkan.. ayah berangkat kerja, naik motor butut, kehujanan. Ibu mengantarkan pake payung. Anak menatap. Halaman rumah tertuliskan: Rumah Dijual..
Ya, itu iklan tabungan pendidikan tuh dari salah satu Bank (ga usah disebut ya, nanti temen saya yang kerja di Bank tsb ngambek, hihihihi
). Pesan moralnya: Makanya, rencanakan ! nabung ! Daripada jual-jual..
Saya sebelnya:
- Tersindir nih.. Apa yang harus saya jual? Boro-boro ! Baru mau ngumpulin aset, eh kepikir nanti akan dijual kan?
ha ha ha..
- Iteuh geura, ayah-ibu, cemberutttt dan lesu. Anak jadi lesu. Kenapa lesu sih? Bukannya para orang tua harusnya semangat 45 membiayai pendidikan anak sampai titik darah penghabisan? Ah jauh pisan sama perjuangan Lintang dan kawan-kawan dalam Laskar Pelangi

Pendidikan (yang bermutu) memang mahal, apa boleh buat. Yang salah siapaaaaa anak-anak? Apalagi di universitas nanti. Saya juga tidak terbayang jika (nanti) harus sampai menguras semua aset (emang punya aset? nah tersindir lagi kan!
) demi pendidikan anak. Tapi ini perjuangan Bung! Risiko jadi orang tua ! Jangan cemberut atuh, apalagi di depan anak..
Saya sendiri suka siiih marah-marah lihat kamar Kaka berantakan penuh buku bertebaran di mana-mana. Bukannya belajar biar pintar seperti Aldi, Bintang atau mendapat beasiswa seperti Trixie, putrinya Molly (hihi, maaf ya Bu Molly, Trixie dijadikan contoh). Terus kaka berdalih.. “Susah mah! Mereka itu pintar2 ! ” Hehe, memangnya Kaka ga pintar?
. Dasar pendalih ! Tapi omel2 saya ini dalam koridor emak-emak koq (saya juga pendalih ya, hihihi). Rasanya kalo jadi emak ga ngomel, kurang sempurna ![]()
Saya juga suka koq bilang, “huih, biaya sekolah kamu m ahal Ka! Jangan disia-siain ya, bantu Mamah – Papah, bukan bantu cari uang. Tapi kamu harus senang di sekolah, baik-baik sama teman.. Urus adik kamu, supaya Mamah – Papah tenang bahwa Neng ada yang urus, ada yang sayang. Urusan uang, tenannggggg.. “
Padahal sih, rieutttt alias pusing
. Melihat iklan saja sudah membara.. Aduh !
Uang, dicari barangkali malah makin sulit. Ga dicari, emang akan datang sendiri?
. Tapi selama hayat masih di kandung badan, otak masih bisa disuruh berputar meski bantuan berbotol-botol kratingdaeng, yuk atuh semangat ! Pusing, tapi soooo exciting.. Tak ada yang lebih pantas menikmati hasil jerih payah ini, kecuali anak-anak kita. Ya kan?
Mari kita lawan itu iklan ! EH apa mari kita nabung pendidikan? Ahhh jadi kemakan iklan niiih hehehehe ![]()
(mengamati topi baru dan seragam baru SMP Kaka. Cool. Anak gue sudah SMP euy !)
Tx tuk pa azrl atas tulisan-tulisan the journeynya..
May 22, 2008 at 10:34 am
itu iklan kurang rasional, bapak saya aja yang petani gurem bisa nyekolahin 3 anak sampai PT msh menyisakan warisan rumah+tanah, padahal ga nabung+asuransi, yang penting kerja keras plus doa/ibadah. soal asuransi/bank ndak musti. nabung? ya dikondisikan aja… bisa dalam bentuk tanah…
May 23, 2008 at 6:38 am
kalau saya, sebelnya liat tampang orangtuanya. Kesannya gak ikhlas banget deh, mengorbankan hartanya demi sekolah anaknya.Masa anaknya dicemberutin. Ya beban lah, sama anaknya. Kalau mau disalahkan, ya orangtuanya. Kenapa gak investasi. Kacau….
May 31, 2008 at 4:18 pm
Iya para orang tua calon mahasiswa ITB juga semangat 45… Semangat 45 juta. Hehehe…
July 8, 2008 at 4:09 pm
Knapa ya dulu-dulu… hanya tinggal ortu sebelah saja… mengandalkan gaji guru SD saja… masih bisa membiayai sekolah anak-anaknya sampe PT?… padahal tak ada beasiswa atau warisan… tapi sekarang… anakku mau kuliah saja ortunya masih mencemaskan biaya? (ada yang ga beres nih dengan manajemen keuangan keluarga… )