Anggaran Belanja Rumah Tangga

April 8, 2008

Safir Senduk (ketik reg safir kirim ke sekian sekian) memberi tips melalui SMS (sampai kapan saya akan terus berlangganan SMS content ini? ), terdapat 4 (empat) pengelompokan penggunaan dana:

  1. bayar hutang
  2. biaya operasional sehari-hari
  3. tabungan
  4. investasi

Terurut berdasarkan prioritas. Artinya, bayarlah hutang-hutang terlebih dahulu, baru membelajakan pendapatan anda untuk keperluan lainnya. Tapi saya pikir, sisihkan dahulu untuk tabungan dan investasi. Saya coba petakan ke-empatnya ke dalam pengelolaaan pos di diri saya sendiri

Pertama. Hutang, nah. Ada beberapa cicilan yang tidak penting yang harus saya bayar tiap bulan . Saya tidak cukup punya keberanian untuk berhutang . Lebih baik sabar menabung (tapi ternyata menabung juga tidak pandai ). Terbukti, saya tidak punya hutang rumah, mobil, atau modal usaha. Barangkali memang penakut, tapi saya tahu saya memang belum mampu melakukannya (berhutang) koq.

Kedua, biaya operasional. Ini rasanya yang masih harus banyak ditata. Biaya operasional yang paling mahal adalah di anak-anak, terutama biaya pendidikan dan makanan. Pendidikan untuk Kaka menghabiskan seluruh gaji saya sebagai pengajar di Unpas. Sungguh. Mudah-mudahan saya tidak termasuk orang tua yang ‘memaksakan diri’ untuk memenuhi kebutuhan pendidikan sekolah yang semakin mahal ini. Dasarnya adalah:

  • anaknya memang suka, betah, nyaman di sekolahan
  • post mana yang saking pentingnya hingga menghabiskan jatah biaya pendidikan? sejauh ini, belum ada. –artinya memang saya memaksakan prioritas sekolah tersebut kan?

Tidak/belum/tidak_mau bermasalah dengan (biaya) pendidikan; yang penting operasional lainnya harus tertata. Makanan misalnya, ini lebih sulit, ya karena kami memang hobi makan . Inilah tidak enaknya tinggal di Bandung, makanan dimana-mana begitu menggoda . Belum lagi masalah selera. Ternyata, mengubah selera itu sulit, misal makan mie merk harus indomie. Ganti ke mie yang lebih murah, perbandingan antara kepuasan selera dan pengehematan yang dilakukan tidaklah significant. Yang terjadi, kembali ke indomie , tapi dengan kuantitas yang dikurangi (lagian makan mie sering-sering kan ga sehat? )

Tak sekedar makanan, tentu masih banyak pos lain. Beberapa pos anggaran sering saya coba diturunkan, tapi (umumnya) kembali digunakan (beginilah hidup jika tak mampu KONSISTEN! ). Misal, rencana tidak menggunakan HP, Internet, telepon . Pos untuk dokter sering saya langgar. Pos pemeliharaan juga sering dilupakan he he he. Baru rumah tangga, sudah ruwet. Apalagi Belanja Daerah dan Belanja Negara ya?

No 3. Tabungan, hm, saya termasuk yang kurang pandai menabung. Yang ada adalah pura-pura menambung, dan setelah terkumpul, tabungan tersebut digunakan untuk biaya operasional (no 2). . Tambal sulam, gali lubang tutup lubang. Kasian deh.

No terakhir, investasi. Nah, barangkali ini belum bisa saya pikirkan dari sekarang. Mungkin saya telat? Ntah lah. Beberapa informasi saya dapatkan, macam-macam investasi seperti unit link, emas, tanah. Investasi ini dapat digunakan untuk mempersiapkan dana pensiun, dana pendidikan, naik haji, dan macam-macam keperluan (masa depan) lainnya. Ntah lah, saya tidak begitu mengerti detail

Begitulah 4 kategori pos anggaran belanja rumah tangga yang saya ketahui. Diperlukan keahlian tersendiri untuk mengelola keempatnya. Mudah-mudahan tercipta keseimbangan diantaranya. Yang jelas, kebutuhan hidup di depan mata tak bisa ditunda, kerahkan seluruh semangat untuk mensiasatinya!

-a-

9 Responses to “Anggaran Belanja Rumah Tangga”

  1. auvaintan Says:

    Yi… kirain istriku saja yang masih pusing dengan manajemen keuangan rumah tangga… tapi ayi lebih terbuka koq… bisa berbagi tips dan trik dengan yang lain. Yooo atuh kita belajar bersama…


  2. Saya juga termasuk yang tidak mau banyak berutang, kartu kredit pun auto debet semua…. (ha-ha-ha, tipe nasabah kartu kredit yang paling tidak disukai oleh Bank). Tapi sampai batas yang tidak memberatkan ada juga positifnya, secara tidak langsung sama saja dengan menabung yang ‘dipaksakan’.

    Ini pengalaman saya, tidak mau punya cicilan yang memberatkan, tapi kadang berutang ke Bank perlu juga sekali-kali. Biasanya saya ambil jangka pinjaman yang paling panjang, sehingga cicilannya jadi kecil, tapi saya juga tidak mau punya utang terlalu lama. Itu hanya strategi saja. Ketika saya punya uang yang tidak terduga, saya segera lunasi utang tadi, tidak dinikmati sebagai utang terus menerus.

    Alhamdulillah sudah beberapa kali saya berutang dan bisa melunasinya jauh hari sebelum batas waktu yang seharusnya. Yakinkan pada saat akad kredit, bank tidak memberikan penalti pelunasan yang tinggi. Hati-hati, ada bank yang mengenakan pinalti yang luar biasa mencekik!!!

  3. pbasari Says:

    Auva, Arief
    ga ada yang memalukan kan dalam ketidakmengertian terhadapa apapun juga kan? jadi, mari mari berbagi.

    Pa arry, hehehe, terima kasih sharingnya.
    sebenernya, rugi kan pa, melunasi cicilan sebelum waktunya? karena cicilan2 di awal kan umumnya besar porsi untuk bunga? jadi ketika akan menulasi, walah, koq jumlahnya seperti tidak berkurang😀


  4. Kalau dicicil terus lebih banyak bunga yang kita bayar dan kita punya utang terus. Jadi memang kembali kepada kita. Buat saya prinsipnya sederhana, kadang kita perlu berutang ke Bank karena punya keterbatasan, tapi targetnya ngga mau punya utang. Itulah komprominya versi saya. Semua tujuan tercapai. Rugi-rugi dikit, jangan terlalu dipikirkan, ujung-ujungnya yang mau kita miliki bisa kita dapatkan dengan halal.

  5. pbasari Says:

    pa arry,
    betul juga ya. mending dilunasin; toh tidak dilunasin artinya malah bayar bunga terus2an.

    ada sih yang pernah kami lunasin, kalo memang masih panjang cicilannya. ada juga yang tanggung nyicil hehehe.

    pernah nyicil pake skema syariah ga pa?

  6. Ardiansyah Says:

    Sharing informasi, udah coba software MyFamily Accounting untuk manajemen pengelolaan keuangan keluarga secara profesional? Layak di coba tuh, please visit http://www.metasoft.co.id.
    Baca juga review produknya di Detik http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/08/time/163357/idnews/920291/idkanal/406


  7. syariah? belum pernah…
    bisa berbagi info?


  8. […] beliau tidak puas dengan Speedy. Saya kabita dong, tapi sepertinya masih kemahalan buat saya. Anggaran Belanja Rumah Tangga harus disiplin! Nah, berhubung ada info Axis gratis GPRS 100MB sampai dengan Mei 2008 (sebelumnya […]

  9. Toto Suharto Says:

    Karena saya mah belum direpotkan sama yang namanya APBRT, jadi saya cuma ingin berbagi informasi saja…😀

    Ada tips dari James Gwee, seorang pakar Marketing, untuk masalah APBRT ini. Katanya, “Pay for yourself first”:
    1. Sisihkan sebagian dari penghasilan untuk ditabung
    2. Gunakan sisanya untuk membayar/membiayai berbagai kebutuhan
    3. Jika masih kurang,
    a. Increase a revenue
    b. Reduce a cost (sesuai kebutuhan)

    Akan berhasil klo kita disiplin plus mau sedikit sengsara. Rada repot buat kita yang hobby kuliner dan mesti nginet dengan biaya sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: