Bersama Kita Bisa

April 10, 2008

Bukan koq, bukan kampanye SBY; sekarang kita dalam masa kampanye Pilkada; kampanye Pemilu nanti lagi. Hore, banyak kampanye!

Kamis,
Terpekur karena tidak tahu harus melakukan apa..

  • Mas, kuliah tambahan dengan mbak Eva.
  • Kaka, tadi pagi mengatakan akan pulang bersama Zian dan Kukuh.
  • Neng, bersemangat pulang sekolah akan ke rumah Andika, sepupu sekaligus teman TK nya.

Biasa bersama-sama, setidaknya dengan salah satu dari mereka. Kini, koq hampa? [backsound: Hampa, Ari Lasso].
Harusnya ini saatnya ‘me time’! Sendirian, apa yang harus saya lakukan?

@Unpas, di ruang rapat. Pun sendirian. Merenung..
Sudah berapa tahun bergabung di sini? Oh, hitung saja umur Neng. 4 tahun 4 bulan.
Betul, 15 hari setelah melahirkan Neng, saya datang ke tempat ini untuk menandatangi kontrak sebagai staf pengajar di sini. Dengan gaji UMR: S2 tidak dilihat, pengalaman lain pun tidak penting. It’s oke. Saya hanya minta satu hal saat itu:

– Boleh cuti kah? 1 bulan saja.. Rasanya jahitan sehabis melahirkan ini belum kering benar.

+ Tentu tidak! [Gile lu, baru masuk udah minta cuti]

Syukurlah rekan-rekan di sini tidak membebani saya dengan hal-hal lain selain mengajar. Tapi mengajar 9 SKS, identik dengan 27 jam minimum. Karena kuliah baru, tentu perlu persiapan lebih dari yang pernah dibayangkan. Belum lagi berbagai rapat yang diwajibkan (tapi ternyata tidak hadir juga tidak terkena punishment apa-apa toh, kecuali kehilangan ongkos rapat 10rb perak ).

Yeah. Move on, move on!

Mengajarlah saya, dan masuk ke lautan konflik internal standar kaum ibu: antara bayi dan bekerja. Tentu, saya beruntung karena..

  • Saya tidak harus menghabiskan waktu di tempat kerja dan meninggalkan bayi dengan pengasuhnya.
  • Saya tidak harus memeras ASI dan dimasukkan ke botol-botol.
  • Bahkan Saya tidak harus terpaksa memberi susu botolan (dan langsung dicibir karena dianggap tidak mampu memberi ASI); tidak ada masalah bakteri Sakazaki tohhhh..

Ya. Lokasi Unpas yang 10′ dari tempat tinggal, membuat saya memilih lari-lari pulang dan pergi antara Unpas dan rumah. Bahkan, Neng saja yang dibawa ke Unpas bersama Mas di lantai 1 dan saya berlari ke lantai 4 untuk mengajar.

Neng sering saya bawa ke Unpas. Sekotak kecil tempat sholat di pojokan ruangan, saya akuisisi menjadi ‘day care’ untuknya. Saya bawakan alas, selimut, bantal, buku, mainan dll. Dan saya berharap mudah-mudahan tidak menganggu siapapun, saya ‘bayar’ dengan melaksanakan berbagai tugas sebaik-baiknya.

Tentu ada beberapa kritik: ngapain bawa-bawa anak, mendingan cepat kerja, terus cepat pulang. Iya sih, tapi dengan prinsip tidak ada pasukan asisten bin baby sitter DAN minimasi merepotkan keluarga; saya tetap pilih: membawa Neng Rifqa sebisa-bisanya ke mana pun saya pergi.

Bodoh kali ya, preferencenya. Tapi.. Ya sudah lah, toh sudah saya lakukan

Tak terasa, sudah tahun ke-4 di sini. Selain menjadi sangat familiar dengan tempat saya bekerja, Neng tampak selalu siap ikut serta ke mana pun saya bawa bekerja. Mudah-mudahan dia nyaman, setidaknya, dia bisa asik sendiri [padahal tidak saya suguhi komputer dan game-game nya loh]. Tentu, tidak mudah untuk bisa seperti ini . Tapi ini buah sangat manis untuk saya. Saya pernah bisa membawa dia ke luar kota untuk bekerja, 5 hari berturut-turut. Saya dan Mas presentasi, Neng di mushola bersama Kaka.

Buat saya, ini surga. Bisa tetap bersama anak, tetap bisa bekerja, bahkan tetap bisa bertemu manusia (emang ketemu siapa?). Maksudnya tidak hanya di belakang komputer..

Tentu juga, tidak tanpa resiko. Kritik pedas tentu mengalir. Ais, kalo saya, Mas, Neng sudah fit in dengan kondisi seperti ini, why bother? Kecuali jika saya mengganggu. Jangan-jangan emang mengganggu (ya maapppp). Dan saya pun bukan tidak sedih karena merasa seharusnya_saya_menghabiskan_waktu_bersama anak-anak_saya, bukan_anak-anak_saya_yang_mengikuti_saya. Tapi kalo saya menangis, apa orang akan membantu? Ya enggak lah. Ini kan resiko pilihan hidup. Biasa aja. [MOVE ON MOVE ON!]

Nah. Once open the time; Neng sakit dan sampai harus diopname di Hermina (tahun lalu), tak kuasa saya menangis sejadi-jadinya karena tentuuuu: merasa bersalah. Hehehehehehe. Tidak menangis di depan Neng lah tentu. Menangis karena sensi terhadap komentar: I’ve told you! Jangan bawa-bawa anak! Kasian!

hehehehe. Pahit. Dasar emak-emak, defaultnya: sensi

Sekarang Neng sudah sekolah. Sebagai waktu pagi, dia asik bermain dengan teman-teman TK nya. Siang, bersama saya atau Mas beganti-ganti. Sore, ketika Kaka pulang, kami bergabung menjadi ber-empat. Surga di rumah, meski itu adalah rumah Ibu saya .

Konsekuensinya salah satunya adalah ketidakefisienan di sisi:

  • waktu, tenaga, uang: karena selalu wara-wiri [berdua|bertiga|berempat]
  • perlu koordinasi, dan [kadang] tidak tercipta keteraturan
  • miskin uang, miskin produktivitas.

Hey! Dosa kah jika [seorang Magister tapi] miskin dan tidak produktif? Ups, kurang produktif lah. Nego bolee kan . Atau itu tidak ada hubungannya antara miskin/tidak produktif dengan mengurus anak-anak tanpa bantuan? ha ha

Entah lah. Yang jelas; ini kan pilihan? Selama masih bisa bersama-sama, kenapa harus tidak bersama? Toh, lihat. Sekarang saja Neng sudah bisa ‘ngelayap’, sementara Kaka yang memang sudah ABG, sudah asik bersama teman-temannya.

Suatu saat, saya dan Mas akan ditinggal oleh keduanya..

[mudah2an Mas tidak meninggalkan saya yah ]

Jadi, nikmatilah sekarang masa-masa bersama ini. Ya kan? Selagi bisa.

Bersama kita bisa!

One Response to “Bersama Kita Bisa”

  1. orangkecil Says:

    Jaga kekompakan ya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: