Mencari KPR Syariah

April 24, 2008

Jika ada waktu, saya dan Mas berkunjung ke Bank-bank, meminta informasi mengenai Kredit Perumahan/KPR. Tahun lalu sudah meminta informasi. Tahun ini juga menyempatkan meminta informasi. Minta informasiiii aja terus, kapan apply nya?

Jika mengenai KPR, saya pilihkan Bank yang memang sudah berpengalaman dengan KPR. BTN misalnya (halo BTN, saya sedang promosi). Namun tertarik dengan syariah, saya juga melirik skema syariah. Syariah murni, ada di Muamalat misalnya (hehehehe, promosi lagi ). Gabungan keduanya, tentu ada di BTN Syariah.

Datanglah kami ke Bank Syariah, dihadapi customer service yang manis itu. Berhubung manis, saya persilahkan Mas yang lebih banyak bertanya-tanya (istri yang pengertian kan)

Disebutnya transaksi Sistem Akad, ada akad jual dan ada akad membeli. Dari sumber-sumber yang saya baca ada tiga jenis transaksi sistem akad:

  1. Murabahah; Gambarannya adalah seseorang membeli sepeda seharga Rp. 1.000.000,- kemudian dia jual dengan keuntungan Rp. 100 ribu
  2. Wadhi’ah; Gambarannya adalah seseorang membeli sepeda seharga Rp. 1.000.000,- kemudian karena terdesak kebutuhan, maka dijualnya dengan harga Rp. 900.000,-
  3. Tauliyah; Gambarannya adalah seseorang membeli barang seharga Rp. 1.000.000,- lalu dijual dengan harga yang sama.

Menurut sumber yang saya baca, transaksi-transaksi di atas diperbolehkan dengan kesepakatan para ulama, kecuali poin satu (murabahah) di mana sebagian kecil ulama memakruhkannya. Namun yang rajih adalah boleh dan ini adalah pendapat mayoritas ulama. Bank yang saya dan Mas kunjungi pun menggunakan Skema Murabahah.

Secara definitif, Murabahah adalah akad jual beli yang mengharuskan pihak penjual menyatakan berapa marjin (tingkat) keuntungan yang diperolehnya dari jual beli tersebut kepada pihak pembeli. Mekanismenya, setelah para pihak menyepakati kualitas, kuantitas, harga dan waktu penyerahan obyek transaksi, pihak penjual akan menyerahkan barang terlebih dahulu, sementara pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan para pihak.

Untuk perumahan, BTN Syariah sudah menyiapkan skema Murabahah. Nilai rumah diperkirakan, kemudian margin ditetapkan untuk waktu yang sudah disepakati; misalnya 10 tahun. Nilai setelah margin kemudian dibagi dengan 10 tahun tersebut. Cicilan tetap setiap bulannya.

Bayangan saya, nilai rumah setelah margin, anggaplah harga rumah pada 10 tahun yang akan datang. Jika kendaraan; berarti seharusnya harga mobil ketika 5 tahun yang akan datang juga kan? Hihi, karena kendaraan umumnya mengalami depresiasi; saya pikir tidak ada margin malah seharusnya berkurang ha ha ha.. salah ya

Baik rumah maupun kendaraan, rumusnya tetap: (harga sekarang + margin keuntungan)/jumlah tahun.

Ada hal yang menarik dari beberapa sumber yang saya baca, terdapat gambaran-gambaran sebagai berikut:

  1. Calon pembeli datang ke bank, dia berkata kepada pihak bank: “Saya bermaksud membeli mobil X yang dijual di dealer A dengan harga Rp. 90 juta. Pihak bank lalu menulis akad jual beli mobil tersebut dengan pemohon, dengan mengatakan: “Kami jual mobil tersebut kepada anda dengan harga Rp. 100 juta, dengan tempo 3 tahun.” Selanjutnya bank menyerahkan uang Rp. 90 juta kepada pemohon dan berkata: “Silahkan datang ke dealer A dan beli mobil tersebut.” Transaksi di atas dilakukan di kantor bank.
  2. Sama dengan gambaran pertama, hanya saja pihak bank menelpon showroom dan berkata “Kami membeli mobil X dari anda.” Selanjutnya pembayarannya dilakukan via transfer, lalu pihak bank berkata kepada pemohon: “Silahkan anda datang ke showroom tersebut dan ambil mobilnya.”
  3. Sama dengan gambaran sebelumnya, hanya saja pihak bank datang langsung ke showroom membeli mobil tersebut dan berkata kepada pihak showroom: “Berikan mobil ini kepada si fulan (pemohon).” Sementara, akad jual beli dengan tambahan keuntungan antara pihak bank dan pemohon sudah purna sebelum pihak bank berangkat ke showroom.
  4. Sama dengan yang sebelumnya, hanya saja pihak bank datang ke showroom membeli mobil tersebut dan berkata: “Biarkan mobil ini di sini sebagai titipan.” Lalu pihak bank mendatangi pemohon dan mengatakan: “Pergi dan ambil mobil tersebut di showroom.”
  5. Seorang pemohon datang ke bank dan dia butuh sebuah barang, maka pihak bank mengatakan: “Kami akan mengusahakan barang tersebut.” Bisa jadi sudah ada kesepakatan tentang keuntungan bagi pihak bank, mungkin pula belum terjadi. Lalu pihak bank datang ke toko dan membeli barang selanjutnya dibawa ke halaman bank, kemudian terjadilah transaksi antara pemohon dan pihak bank.

Penjelasan dari sumber mengatakan:

  • 1 dan 2 Menurut penulis, Hukum dua jenis transaksi di atas ini adalah haram sebab pihak bank menjual sesuatu yang belum dia terima
  • 3 Menurut penulis, Hukum transaksi inipun haram, sebab pihak bank menjual sesuatu yang tidak dia miliki. Hakikat akad ini adalah pihak bank menjual nominal harga barang (90 juta) dibayar dengan nominal harga jual (100 juta) dengan formalitas sebuah mobil, dan ini adalah riba fadhl.
  • 4 Menurut penulis, Hukum akad ini juga haram, sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli barang hingga barang tersebut dipindahkan oleh sang pedagang ke tempat mereka sendiri. Maka transaksi di atas termasuk menjual sesuatu yang belum diterima.
  • 5 Menurut penulis, pihak bank telah memiliki barang tersebut dan tidak dijual kecuali setelah dipindahkan dan dia terima barang tersebut. Hukum transaksi ini dirinci:
    – bila akadnya dalam bentuk keharusan (tidak bisa dibatalkan) maka haram, karena termasuk menjual sesuatu yang tidak dia miliki.
    – bila akadnya tidak dalam bentuk keharusan dan bisa dibatalkan oleh pihak penjual atau pembeli, maka masalah ini ada khilaf di kalangan ulama masa kini:
    a. Mayoritas ulama sekarang membolehkan transaksi tersebut, sebab tidak mengandung pelanggaran-pelanggaran syar’i. Ini adalah fatwa Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dan Al-Lajnah Ad-Da`imah.
    b. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin melarang transaksi ini dengan alasan bahwa akad tersebut adalah tipu daya menuju riba, dan beliau memasukkan akad ini ke dalam sistem ‘inah bahkan lebih parah lagi.
    Menurut penulis, hakikatnya adalah pinjam meminjam uang dengan bunga, di tengah-tengahnya ada sebuah barang sebagai formalitas. Kenyataan yang ada, pihak bank sendiri tidak akan mau dengan cara ini. Dia pasti membuat perjanjian-perjanjian, saksi-saksi, dan jaminan-jaminan atas barang tersebut.

Gambaran kelima di atas hampir tidak bisa dijumpai di bank-bank yang ada, kecuali dengan bentuk keharusan (tidak bisa dibatalkan).

Jadi? Hihihi.. saya belum bisa menyimpulkan apa-apa
Dan ketika saya menanyakan apakah ada Skema KPR tapi di tanah milik sendiri? Ternyata TIDAK ADA!

Menurut Mbak Customer Service, jika tanah kosong, apanya yang diakadkan kan rumahnya belum ada?
Tapi bukannya KPR dengan tanah dari developer juga rumahnya belum ada? Yang diakadkan kan bukan hanya tanahnya saja? bangunannya juga kan?

hihihihi
Banyak yang Saya dan Mas belum mengerti
Wallahu a’lam bish-shawab yah

One Response to “Mencari KPR Syariah”

  1. Abu Irsyad Says:

    Assalamualaikum lalu kira-kira ada ga pemilik perumahan yg mau langsung menjual tanpa melibatkan pihak bank toh kita tau sendiri dilema diatas dan untuk saya pribadi kebutuhan akan rumah huni ini yah tau sendiri lah dari pada ngontrak terus yg belum ada kepastianya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: