Nyai Itu Sudah Tidak Ada (Teh Ninih dan DT)

April 24, 2008

Jum’at, Sabtu lalu.

Open House TK Khas DT ini berlangsung sederhana.
Meriah jika dinyatakan sebagai kegiatan lokal, sepi untuk nama DT yang (pernah) besar

Ibu-ibu panitia berkeluh, sulitnya mencari sponsor.
Kasak-kusuk masih menerpa DT; menyebabkan saya lebih suka menghindar sebagai seksi sibuk (alesan!).
Tapi tentu saya berpartisipasi , mengikutsertakan Neng dalam Lomba Mewarnai dan Peragaan Busana Muslim

Lomba mewarnai, lokasi di Darul Haj, aula yang sering sekali digunakan untuk berbagai kegiatan. Neng tanpa persiapan. Anak lain dengan piranti lengkap, Neng tengkurap saja tak lupa lirik sana lirik sini [Dasarrrr]. Diselingi pipis, tak separuh gambar selesai diwarnainya

Di sela kesibukan anak-anak menggambar dan mewarnai, plus ibu-ibunya yang penuh instruksi sana-sini (ini yang mau lomba, emak apa anak? ) saya mendengar suara yang khas menyapa semua. *Ouch* ada Teh Ninih. Meminta semangat dan sedikit memberi wejangan, tak lupa minta maaf pamit karena harus bekerja: siaran di MQ-TV.

Entah kenapa setiap melihat Teh Ninih; hati saya menangis. Barangkali karena melihat deretan giginya yang selalu ditampakkan setiap berbicara dan tersenyum. Lepaskan dari semua beban, terutama karena AA Gym tak terlihat lagi di sekitar DT. Sibuk di Depok? Yah. Ibu Rini sudah pindah ke Depok. Putranya, Ditra, tidak terlihat lagi ada di TK di kelas B. Nyai itu sudah tidak ada di seputar DT . [Sudah tahu kan kalo Aa memanggil Ibu Rini dengan sebutan Nyai?]

Akhirnya, pindah juga kan? Kenapa harus pindah ketika sudah dinikahi Aa?
Kenapa tidak pindah saja sebelum gonjang-ganjing ini terjadi di DT sehingga “disolusikan” dengan Aa menikahi Ibu Rini?

AH, bukan urusan saya..

Saya teringat akan acara agama di TV pagi hari. Ibu-ibu bergantian menelepon menangisi bahwa suaminya akan dan atau sudah menikah lagi. Sang narasumber mengatakan:
seorang wanita tidak bisa meminta cerai jika suami meminta ijin untuk menikah lagi
tapi
ketika sudah terjadi poligami, carilah ketidakadilan sang suami
jika menemukan, baru BOLEH minta cerai

Betulkah? Apa saja parameter ketidakadilan tersebut? Bagaimana bobotnya?

Terbersit di benak saya ketika melihat Teh Nini, sepertinya Infotainment menginginkan adanya ketidakadilan tersebut [yaitu Aa lebih sibuk di tempat Ibu Rini], sehingga berhaklah gugatan cerai itu dilayangkan. Hati ini berasa busuk, karena memang itulah yang ada; secercah harapan bahwa tak satupun Poligami akan berhasil PUN itu terjadi pada seorang Teh Ninih.

Teganya saya berpikiran seperti itu. Teganya saya berharap seperti itu . Ampun ya Gusti. Ampun . Maafin saya Teh, maafin saya . Karena itu saya selalu ingin menangis melihat Teteh, menangisi harapan jahat saya, mencari dukungan dan pembenaran. Padahal itu bukan hak saya, bukan kewajiban saya .

AH, bukan urusan sayakah?
Maafkan saya, maafkan saya..

@Unpas, sepi.
Selamat hari Kartini, btw..

2 Responses to “Nyai Itu Sudah Tidak Ada (Teh Ninih dan DT)”


  1. […] sudah di luar keberminatan saya. Meski, deep deep deep inside, jujur: saya pernah berharap (pada tulisan saya beberapa waktu lalu) poligami Aa bisa segera diakhiri. Bagi saya: Tidak ada poligami yang berhasil, pun ini menerpa […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: