Terhantui UASBN

April 24, 2008

Senin, 21 April 2008 (hari Kartini?)

Pagi-pagi sudah di Unpas, seorang rekan baru hadir dan menyapa:

“Tumben ada.. Kemana aja? Kirain pundung.. “

Hehe, memang minggu lalu saya hanya mampir ke Unpas hari Kamis setengah hari. 1/2 hari saja dari biasanya 4 hari hadir. Karena pundung? Mungkin . Tapi yang jelas, minggu ini minggu UTS, boleh kan meliburkan diri? Kalaupun badan saya ada di Unpas, jiwa saya meronta merana entah kemana dan kenapa. Percayalah.. ini gara-gara UASBN! BEU [Cangcuter, iklan Flexy].

Segitunya?

Kenapa kepala saya penuh cekokan soal-soal ujian berstandar nasional tersebut ya?

Bukan saya yang akan ujian, tapi anak saya! Namun empati, membuat saya yang justru kelimpungan dan stress karenanya. Bukan apa-apa. Nah, mengatakan anak saya cukup pintar nanti kesannya narsis . Mengatakan anak saya gak cukup pintar, ih sama anak sendiri koq tidak mengharga (nanti dimarahin Ka Seto). he he. Masalahnya, Kaka, yang saya kenal termasuk anak yang selaluuu saja bilang:

  • bisa Mah!
  • sudah Mah!
  • gampang Mah!

padahal, ternyata..

  • bisa = bisa ngerjain, ga tau bener apa ga (alias ngasal)
  • sudah = sudah set set set, alias minimalis. maklum, jika sudah artinya bolehhhh maiiiin gameeee..
  • gampang = ya gampang, tapi tidak teliti, tidak diperiksa ulang, tidak dicermati jebakan-jebakan, masak kata KECUALI aja kelewat

Argghhh

Apakah memang saya terlambat? Menjelang ujian, saya baru pontang panting. Sementara kelas 4 dan 5, memang tidak saya fokuskan ke pelajaran. Lost. Harusnya justru kelas 4,5 itulah serius, karena materi UAS adalah materi kelas 4, 5 6. Hiks

Niat saya yang tidak membesarkan seorang Prince – yang harus saya layani dan fasilitasi agar dia berfokus ke pendidikan serta penuh prestasi. Saya cuman pengen anak yang baik hati dan bahagia, tahu berteman dan membantu sekitar. Tapi standar keberhasilan tetap harus dari hardskill sang anak. Standar Kompetensi Lulusan sudah ditetapkan. Dan akan diujikan di 3 hari Ujian Akhir Sekolah. Dan akan Berstandar Nasional. *OUCH*

Barangkali memang sudah seharusnya dihadapi.

Jadi jadi.. maafkan saya jika saya tak ada di mana-mana.. [GR lu, siapa yang nyariin? ]

Kalaupun jasad ini ada, tapi hati ini tak kan kentara. Saya sedang sibuk belajar bersama *hihihi*

One Response to “Terhantui UASBN”

  1. NURHASNAH Says:

    Assalamulkm, Teh Ayu, saat ini rasanya perasaan teteh seperti yg ditulis di atas dapat kupahami, sebab sprtinya perasaan itu jg yg akn menemaniku thn dpn. Gadis kecilku akan mengikuti USBN ini. Waahhh… bener deh belum ujian aja umminya udh repot dg mcm2 pikiran, gmn thn dpn ya??? BTW gmn Kaka, saat itu udh asyik di sekolahnya yg baru kan? Selamat, ya, teh, setdknya sekrng sdh lebih baik lagi. Doakn Afinaku tahun dpn jg bs sukses melampaui USBN ini. Syukran, jzkillah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: