Setelah UASBN

May 15, 2008

Hari ini hari terakhir UASBN. Kaka sudah pulang ke Unpas dan sedang asik main game. Padahal masih ada UAS dua hari lagi! 4 pelajaran lagi!

Dasar anak-anak..

Legakah setelah UASBN? Ya belum, kan belum ada hasilnya. Apalagi kali pertama LJK dengan sistem silang menggunakan DMR, iklan pinsil 2B yang mem_bulat_hitam_kan LJK jadi tidak update ya

Tapi ada yang jauh lebih meresahkan untuk saya dalam UASBN ini. Rekapitulasi dari materi yang begitu banyak mengejar berbagai standar kompetensi lulusan, kelulusan 6 tahun berproses ditentukan dalam 3 hari dan nilai UASBN, LJK dan DMR, kecurangan dan lain-lainnya..

Dengan adanya UASBN ini saya ibarat menonton pertandingan Thomas Cup dimana bola (eh koq bola sih?) berpindah antar pemain. Cepat sekali. Ini adalah ketika para pengambil kebijakan (Diknas? BSNP) mengutarakan kenapa ada sistem UASBN..

  • Pelaksanaan pendidikan di SD ngawur! seenaknya, anak 5 tahun sudah boleh belajar SD!
  • Guru ngajar sekedarnya!
  • Rasain, makanya ada UASBN.. ketauan kan kalo tidak bisa mencapai standar?

Dan pemain dari lapang sebelah, para pemerhati pendidikan dalam forum ini itu ini itu mengatakan..

  • Enak aja minta-minta standar, penuhi dulu kebutuhan minimum para guru! sekolah!
  • Enak aja main standar, tiap sekolah kan berbeda prosesnya? Gimana bisa distandarkan?
  • Enak aja, terlalu! Guru itu sudah susah! dipersusah lagi! Terlalu [Rhoma Irama Style?]

[Bayangkan doung kalo Laskar Pelangi harus UASBN, Bu Mus pasti pontang panting. Dan ribuan bu Mus ada di antero negeri ini. TEGA ya nyalahin guru.. ]

Dan para emak, seperti saya, menjadi penonton menengok ke kiri memperhatikan apa kata para pejabat; mengengok ke kanan menyimak apa kata para pelaksana (Guru dan pemerhati pendidikan). Terus saja, kiri – kanan, kiri – kanan, kiri – kanan. Nyaris seperti lagunya Project Pop Leng geleng geleng. Ouch tidak, ini kan lagi melihat pertandingan Thomas Cup! Masalahnya, kapan endingnya? Nilai 21? Owh, selesainya UASBN hari ini? Atao nanti ketika lembar LJK dikembalikan? (emang akan dikembalikan?)

Terpikir, kenapa saya tidak ada di satu sisi lapangan saja kemudian mengamini satu pihak. Bahkan harusnya saya ADA di lapangan tersebut dan berperan sebagai pemainnya. Sisi yang mana? .. Tidak tahu.. Sungguh! Saya tidak tahu..

Ato mending seperti sekarang lah, tertib pasrah.. Yang penting sudah usaha maksimal. Panutlah apa yang sudah diaturkan.. buat anak nyaman dan damai

Yah itu paling aman.. itu tugas utama emak-emak..

Tapi sungguh, pendidikan di kita ini! Dengan sejuta masalahnya!.. saya ingiiiin sekali tidak sekadar menjadi penontonnya Dan pasrah saja karenanya..

Kamu juga?

3 Responses to “Setelah UASBN”

  1. Jaya Says:

    Menurut anak ibu, adakah kecurangan selama pelaksanaan UASBN ?

    Salam

  2. fath Says:

    iya mbak, kenapa juga ada uas bn ya..palagi anak-anak sd.mi tuh kan gimana ya…. ada les juga biasa aja..

  3. Andar Says:

    Kapankah Pendidikan di Indonesia tidak carut marut gini,belum layakkah indonesia menggunakan teknologi tinggi,atau tinjau lagi dech sistemnya…kacauuuu.,.otak anak2 okey,hasil tak sesuai karena sistemnya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: