Memimiti Meneliti

May 18, 2008

Jum’at, sehabis ngajar. Menunggu sore hari, ada janji dengan teman di Ohlala (nyam nyam). Tiba-tiba HP berdering, owh pa PD-1. Menanyakan kesediaan saya mengikuti Workshop Penyusunan Proposal DP2M (DP2M? Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Dikti), Sabtu 17 Mei 2008, menggantikan rekan yang lain. Di Kopertis IV, di Jatinangor bow. Seperti biasa saya bilang, BISA ! Hehehehe..

Lost karena tidak tahu GIMANA MIMITINYA (memulainya -red) menulis atau memulai penelitian. Meski sudah mengenal si cantik Fenny sang Doctor Pisang dan Ria Moedomo yang bersuara lembut itu; betul-betul inspiring women di bidang penelitian; saya masih ga tahu mimitinya meneliti

Penelitian itu apa SIH? he he he. Pertanyaan ini ga perlu dilontarkan TERUS, tapi PRAKTIK DONG! Iya, tapi gimana mimitinya..

Yeah. Ntah lah..

Barangkali saya besar di lingkungan perkuliahan di mana dosen-dosen saya itu selain mengajar, juga sibuk menjadi praktisi dan konsultan. Image bahwa dosen yang rajin mroyek itu sangat KEREN di mata saya, apalagi dia bisa bercerita banyak tentang hal-hal di luar sana (apalagi kalo sudah bicara hal yang off the record). Tapi saya ga pernah dicontohkan meneliti itu keren, karena memang sayanya saja yang tidak mengerti sih..

Setelah menjadi dosen swasta 4 tahun lalu, dan mengenal Tridharma yang didengung-dengungkan; saya merasa harus menyeimbangkan ketiganya. Meski saya tidak mengerti: emang dosen itu punya 3 sisi yang sempurna? Spiderman aja cuman jadi Peter Parker dan Spiderman. Oh ya, pernah jadi Venom sih ya; jadi memang 3 dimensi. Dosen itu harus bisa mengajar, meneliti, dan mengabdi (istilah mengabdi dihaluskan: layanan kepakaran). Idealnya, semua itu sinergis saling mengisi. IDEALLL sekali. Istilah Pa Husni Sastramihardja mah, ilmu meringankan tubuh. Oh seandainya aku bisa punya ilmu seperti itu.. Saya masih harus satu-satu mendalaminya..

Tentu, semua juga bilang tugas dosen yang pertama adalah MENGAJAR (dan MENDIDIK). DOH! Membuat mahasiswa bisa Softskill dan lain2nya itu juga tugas dosen sebage pendidik? OMG hehehehe.. Ngajarin konten dan kompetensi pengajaran saja sudah lumajjjaaannn kerja keras. Mau berbicara tentang struk gaji, jadi merasa ga ETIS

Memang, saya merasa ngajar saja sudah babak belur, bukan hanya karena content mata kuliah yang terus-terusan dikejar-kejar kemajuan teknologi. Tapi juga karena tuntutan KOMPETENSI, yang justru makin saya ga bisa men JAWABnya: kompetensi kuliah kamu ini apa?. Aahhhh mengerikan (tapi sekaligus memacu semangat yang membara). Jadi, bau-bau paedogogy jadi incaran saya. Sampe berpikir, ah saya kuliah S3nya pendidikan aja ahhh. Sama sang Babeh, Pak Ahmad Sanusi, mantan rektor IKIP / UPI (1966-1971), saya aja belom lahir waktu itu ha ha..

Sekarang, mengajar sudah lumayan (rasanya haha), ada barisan asisten, instrumen pembelajaran, alat bantu dll. Kompentesi sudah teraba-raba lah. gimana biar tercapai, nah itu baru harus praktek. Tapi saya sudah tidak begitu merasa babak belur banget (untung tidak biru-biru, nanti saya adukan tentang Kekerasan Dalam Ajar – Mengajar).

Berikutnya, ya ini. MENELITI . Target: ya untuk S3 dong. Pa Yusuf Kurniawan kolega di Unpas, sang kriptographer (hehehe), mengatakan dia suka meneliti setelah sambil S3 koq. Patut dicontoh. Dulu sih, s3 dulu, sambil topik digali. Sekarang, harus jelas dulu kan topiknya apa, proposalnya mana. Nah, saya, sudah 1 tahun berlalu, saya masih ga mulai meneliti atau mendapatkan topik riset boro-boro proposal

Saya tahu, bukan karena sibuk mengajar atau urusan administratif kestrukturalan yang membuat saya jadi ga sempat meneliti. Tapi saya JUGA sibuk mencari uang di luar sana. Proposal yang dibuat itu ya proposal untuk kebutuhan menjawab Kerangka Acuan Kerja (KAK). Atau TOR. Dosa? Ga kan? Boleh kan? (kalo juga ngaku sibuk ngurus anak, ga bisa ditolerir ya? itu kan urusan semua emak-emak )

Beberapa teman bilang, ya udah, praktek proyek di luar sana itu jadi penelitian kamu. Hehehehehe. Susah euy, karena masih ada GAP antara dunia luar yang cenderung pragmatis dengan bidang yang ingin saya dalami.. itu mah salah saya ya . Susah menjelaskannya.. Dan apa emang bidang yang ingin didalami itu sudah saya tetapkan? TIDAK TAHU koq.. huuu..

Kemudian gencar hibah-hibah dari DIKTI. Wah saya semangat sekali mengenainya. Betul, daripada sibuk proyekan, mendingan ikutan hibah-hibahan. Daripada Lembaga Institusi / Yayasan, sibuk cari mahasiswa dengan berbagai strategi sampe membuat kelas karyawan sabtu-minggu, kan mending mendapatkan hibah-hibah. Kali Meski sekali-kalinya membuat hibah PHK A1, ga keterima hehehehehe, langsung merasa bodoh deh. Tapi Unpas mah dapet loh, PHK Institusi dan TIK. Keren kan? Tapi bukan saya yang membidaninya

Kemudian banyak lagi iming-iming hibah-hibah, penelitian, buku ajar.. semua program mengencourage dosen agar mau melaksanakan penelitian (dan pengabdian masyarakat). Duitnya ada koq, katanya. Meski di panduan tercantum jelas, tidak untuk HONOR peneliti hihi (dan kemudian orang-orang mengotak atik supaya bisa mendapatkan honor). Koq saya jadi makin rieut? Tapi rieut yang positif, kalo sudah rieut artinya ada pertanyaan, jika sudah ada pertanyaan artinya sudah sudah tahu apa yang saya tidak tahu! Daripada blank

Nah sekarang, DP2M. Ya sudah deh, yuk semangat. Mari kita mimiti meneliti. Mari mari buatkan proposal, yak.. proposal penelitian !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: