Menonton Laskar Pelangi

October 9, 2008

Hari minggu lalu, hari-hari terakhir puasa; aku, mas, kaka, dan neng menyempatkan menonton Laskar Pelangi di Blitz PvJ. Jarang-jarang aku menonton di Bioskop, terbatas biaya dan waktu, kecuali film Kartun dan Serial anak seperti Harry Potter dan Spiderman yang kami sempatkan. Film Indonesia? Eu, belum ada yang kutonton hihihi. Bukan tidak cinta produksi dalam negeri, tapi aku prefer mencari aktivitas yang bisa dilakukan berempat: 2 orang dewasa dan 2 anak-anak. Makanya, menonton Laskar Pelangi memenuhi kriteria ini.

Menjelang film, mas dan aku sibuk mereka-reka, apakah akan menggerakkan hati beku ini seperti bukunya? Bagaimanakah para laskar pelangi itu wujudnya? Sesuai yang dibayangkan? Kalo Neng, aku iming2in kita mau melihat si Bolang dari Belitong (Bolang: Bocah Petualang, serial petualangan anak diputar di Trans7, fave nya Neng).  Sementara Kaka, aku usik karena dia blm juga menamatkan Buku Seri pertama Andrea Hirata itu. Bukan salah bukunya, tapi memang nih anak susah sekali diminta membaca detail. Ugh. Sudah jagoan skimming dan scanning rupanya😀. Buat dia, yang penting main ide ceritanyanya, bukan alurnya..

Ketika film diputar, mataku tak berhenti berkaca-kaca.. aku dibiuskan oleh pemandangan yang indah, setting tahun 70-an (ups, kenapa Ikal menggunakan kaos berkerah? Rasanya kaos Polo musim di tahun 80-an di anak kota?); gambaran buram kesenjangan kehidupan yang coba diangkat. Hm.. ya, seperti yang aku bayangkan. Oh, sepertinya film difokuskan mengangkat kehidupan guru; sehingga hal yang lebih mencabik hati ini, yaitu kehidupan “raja-raja jawa” di PN Timah dengan penduduk asli; tidak begitu terekspos.. [Maklum, /me pro sosialis ha ha ha]

Film berlanjut. Aku mulai keberatan, ketika dialog tentang guru begitu dikedepankan. Film menjadi berat. Neng tidak bisa menikmati. Padahal ketika aku membaca bukunya; tidak perlu eksplisit, aku sudah BISA merasakan kegetiran-kegetiran itu. Mungkin kalo di film harus dinyatakan dengan jelas ya? Dialog Cut Mini dan Ikranegara, Tora, Slamet Rahardjo yang aku cari-cari di buku, ga ada tuh hihihihihi..

Tapi selanjutnya, itu semua terbayar dengan pemandangan yang indah, cerita tentang anak-anak laskar pelangi yang menyempurnakan bayanganku tentang mereka. Yah mirip si Bolang, dan Neng pun bisa menikmati. Kaka pun tersipu-sipu akan kisah Ikal-Aling. Aih, ABG banget sih.. Anak-anak asli Belitong yang mempesona..

Dan akupun makin tidak keberatan karena perbedaan buku dan filmnya. Juga tidak keberatan ketika anak yang terekspos sebatas Ikal Lintang Mahar, toh memang itulah yang teristimewa. Yang di buku banyak berlatarkan kelas 2 SMP, sedang di film adalah cerita tentang anak kelas 5. Di buku, dikatakan ada guru kelas 4, guru-guru, adik kelas dll; artinya tidak hanya ada 11 murid saja di Sekolah Muhammadyah, tapi di film benar-benar diekspos bahwa segelintir itulah murid-muridnya. Di film, pak Harpan dimatikan, ups. Di buku, sampe A Kiong disunat dan menikahi Zahara, tetap disebut dan bahkan ketika Mahar meluncurkan buku kan (dan Ikal sudah ke Perancis).

Lama-lama pun, ah. why bother dengan perbedaan itu semua. Aku sama sekali ga keberatan🙂. Malah merasa mendapat dua kisah sekaligus. Dua-duanya menoreh hatiku, terpatri dalam-dalam. AH senangnya..

Terima kasih untuk Andrea Hirata yang sudah mengarang buku ini, terima kasih kepada Miles yang sudah mewujudkannya menjadi film.

6 Responses to “Menonton Laskar Pelangi”

  1. letzgo Says:

    klo diekpos semua anggota laskar pelangi bisa-bisa ceritanya sampe lebaran tahun depan bu🙂

  2. Yanti Wyant Says:

    kayaknya setiap novel yg dijadiin film suka beda, film Harry Potter yg terakhir aja beda jauh ama bukunya….buku yg tebal kudu dipress untuk kurang lebih 2 jam…hehhehehe😀

    enjoy

  3. Oemar Bakrie Says:

    Saya dan anak2 pengen nonton waktu menjelang lebaran tapi masih penuh sesak … sekarang belum nemu kesempatan lagi. Mudah2an nanti bisa nonton dan menikmati juga, biar nggak kalah sama SBY … hehehe.

    Maaf lahir batin juga ya Bu, kalau2 saya salah komentar.

  4. yaniwid Says:

    Ayi baca bukunya juga? Setelah nonton kecewa nggak? Saya baca bukunya… Jadi males nonton karena takut kecewa… Seperti AAC…

  5. TSW Says:

    mengaku sbg alumni pendidikan bermoral, seharusnya penulis kisah laskar pelangi mengakui dengan jujur bahwa sebagian dari ceritanya adalah fiksi belaka, dan tidak menyembunyikan fakta tersebut demi popularitas atau motif ekonomi.

  6. cekeysh Says:

    taun 70an udah ada kaos polo Yi, gw udah pake🙂

    btw, hanya satu yang gw kuciwa di pelem ini…ngapaaaiiiin lah si tora sudiro dipasang? muka nya dia di extravaganza ama di laskar pelangi engga ada perbedaannya…whehe….menurut gw, aktingnya kalah jauh sama anak-anak.

    Yi, blog lu gw link di tempat gw ye.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: