Nenek Cantik

February 3, 2009

ah judulnya memang sengaja provokasi. dari blog stat, terlihat bahwa posting saya mengenai mahasiswi cantik merupakan top search karena kata “mahasiswi” dan atau “cantik”-nya itu .  ini pasti orang-orang yang mencari mahasiswi dan atau cantik. padahal saya murni menceritakan mahasiswi saya, bukan trik untuk meningkatkan statistik seperti  yang pernah di-tips kan orang e-marketing, yaitu memberi judul yang mengandung kata yang banyak dicari orang (cantik, sexy,  bugil, mahasiswi, dan sejenisnya) untuk blog/situs kita, khususnya situs untuk berjualan. sumpah; saya tidak tertarik akan tatacara demikian (sah sah aja kali ya?)

dan kali ini juga bukan dalam rangka agar kata cantik dikenali ke mesin pencarian  tapi karena saya sedang senang menjadi seorang nenek dan mengklaim diri sebagai nenek yang cantik (narsis?)

alhamdulillah, 2 minggu lalu, keponakan tersayang, Anna, melahirkan putra pertamanya. agak rumit karena ada masalah dengan ari-ari yang melilit-lilit; harus dilakukan operasi sectio. putra pertama, cucu pertama, buyut pertama. demikan semua orang berlomba menyambut kedatangan “sang serba pertama”

ada yang mengatakan, anak pertama memang segala-galanya, sehingga sangat dipuja. anak kedua kurang ditunggu, tapi putra ketiga dan selanjutnya; siap dipusti-pusti lagi. really? pasti yang mengatakannya adalah anak kedua

tapi ada juga yang putra pertama dengan keadaan serba werit, susah, tapi putra kedua sudah mulai membaik, sehingga mendapatkan segala sesuatunya lebih baik. finansial, kematangan, dan semuanya –  lebih pengalaman. demikian juga untuk putra ketiga dan selanjutnya. oh ya? . tetep enak di anak ketiga dan keempat ya?

teh Ninih, isti pertama Aa Gym pemilik pesantren Daarut Tauhid, sering menceritakan tipsnya dalam mengasuh 7 anak. anak pertama sulit, kedua sulit, ketiga dan seterusnya cenderung sudah biasa  alias agak-agak cuek2 dan dicuekin (?) hehehe.. mungkin maksutnya, Teteh menjadi lebih cooolll dalam menghadapi ketujuhnya karena sudah merasa sangat berpengalaman  dan mahir [tapi teutetup saja kan, tidak ada kata ‘mahir’ dalam berbagai suami ]

saya tidak tahu -eh bukan tentang berbagi suami, tapi tentang 7 anak ya!- anak saya baru dua; harus ditanyakan kepada yang ber-anak empat, tujuh, dan lebih. tapi sebagai anak ke-9 dari 10, hehe, saya bisa merasakan kurang dan lebihnya dalam komunitas keluarga besar. kalo mau dilihat patheticnya, ya gitu deh serba ga kebagian fokus. jika mau dilihat enaknya, keadaan finansial dan keadaan (dunia) lebih baikan

jadi? rasanya enak kali ya jadi anak pertama , threadoffnya adalah ketika perhatian dirasa terlalu berlebih, ekspektasi semua orang terlalu banyak; jika tidak didukung mental yang kuat; kita tidak kuat menerimanya. ah mudah-mudahan cucu pertamaku – yang cool itu – akan tumbuh kuattt seperti kita semua. amin. dan mudah-mudahan saya bisa menjadi nenek yang baik  – dan tentu cantik

btw ada yang bilang bercita-cita mempunyai empat anak, sulung semua . nah? [aku ga ikutan!]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: