Ketika Belajar Filsafat

October 24, 2009

Kepala saya gosong.. rambut sudah keriting. (Nah ga mungkin kan, kalo kepala gosong; pasti rambut sudah gosong pula?).  Lagian rambut saya ga keriting..

Padahal baru beberapa minggu berinteraksi dengan beliau di kelas Filsafat Ilmu Pengetahuan. Bukan soal interaksinya! Yang cenderung ngalur ngidul dan penuh tawa. Tapi, substansi materinya. Berapa buku dan materi filsafat yang tiba-tiba ada di kamar saya, tanpa saya baca – tentu- karena sudah terlanjur TIDUR. (With all due respect ya, bukan salah buku Filsafatnya, karena buku apapun pasti saya akan terus tertidur koq, sumpah).

Pusing😀.  Menurut sang dosen, kita harus belajar filsafat agar seorang engineer tidak menjadi cetek. Cetek😀. Wa soal cetek mencetek, saya ahlinya kan? Shallow is my middle name bo`. Kenapa harus berat-berat sih, xixixi, kalo hidup sudah berat; kita sembunyikan kerumitan dan tampilkan kesederhanaan! Itulah abstraksi kan?! Menganut Pareto, tuangkan 20% dan abaikan 80%; abaikan yang tidak significant dan relevan!

Eh cetek ga sama dengan berabstraksi deng.. Dan bagaimana seseorang itu tahu dirinya shallow kalau tidak mengetahui hal-hal yang mendalam😉.

Yang jelas, saya SENANG sekali🙂

Filsafat ternyata merupakan mencari atau memperoleh jawab atas berbagai pertanyaan lewat penalaran sistematis yang kritis, radikal, refleksif, dan integral. Radikal, artinya sampai ke akar ya, Ini kan sesuai dengan berbagai pertanyaan di benak saya yang (kadang) tak kunjung habis.

Horeee.. banyak bertanya dan berpikir relasi kausalitas, ternyata gak apa-apa. Meski orang akan mengatakan kita keriting! (Rambut saya tidak keriting, i’ve told u!). Tapi.  Yang salah adalah, saya bertanya-tanya untuk hil-hil yang tidak mutu dan tidak penting, sementara para filsuf mempertanyakan alam semesta, sains, dan lainnya.

Harusnya semua pertanyaan yang bersifat radix itu ditujukan untuk hal yang kita teliti, kita pelajari, yang akan membawa manfaat bagi umat dan bangsa ini. Amin😉. Lupakan hal yang ga penting dan tidak relevan, dan tentu tidak manfaat.

Sooo? Cetek jangan, ruwet untuk hal yang ga perlu juga jangan. Mungkin itu yang bisa saya simpulkan. Karena mempertanyakan apa yang seharusnya dinyatakan perlu, saya ga bisa jawab😛. It’s all up to u kah?

Dan satu lagi, koq saya ga bisa menceritakan apa yang sudah saya pelajari ya. Nyerah deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: