Terakhir bertemu Aa Gym

November 1, 2009

Puasa lalu, saya masih hadir ke buka bersama alumni SMP 12 Bandung di kediaman Aa Gym. Tentu, karena Aa Gym ini alumni beberapa tahun di atas saya. Beberapa rekan (wanita) menolak hadir, karena faktor Aa. Oh ya?🙂

Tapi saya tetap hadir. Bukan  mau ketemu Aa, bukan mau buka bersama, tapi karena memang kebetulan bisa hadir. Saya pun datang bersama Neng.

Neng senang sekali, karena TK DT ini sekolah pertama dia. Gedungnya nampak sudah direnovasi. Tempat main tampak ada beberapa mainan baru. Syukurlah, adalah hak anak-anak untuk mendapatkan tempat yang layak untuk bermain sambil belajar.

Saya pun senang, karena bertemu dengan beberapa kawan SMP, yang namanya pun mungkin saya ga ingat hehehe. Juga ada beberapa kawan di luar angkatan, termasuk Aa Gym. Alhamdulillah, masih ada silaturahmi.

Pertemuan buka bersama dilakukan di Aula Darul Hajj. Rasanya tumben sekali Aa ceramah dihadiri oleh hanya segelintir orang. Atau jangan-jangan saya yang tidak tahu bahwa yang biasa hadir di ceramah Aa memang hanya segelintir. Aa masih seperti biasa, banyak bercerita tentang episode hidup; dan tentu dari aspek positif yang bisa diambil. Misal, sejak DT terpuruk, Aa merasa tidak diperbudak media lagi. Ntah pembenaran, ntah memang fakta. Saya terima karena hanya Aa dan Tuhan yang tahu akan kebenerannya, bukan urusan saya. Aa juga menceritakan bagaimana pelan-pelan terjadi berbagai kebangkitan dan pertolongan, khususnya aspek finansial di DT.

Sepertinya, Aa ingin mengesankan: aku baik-baik saja.

Maka dari itu, saya dapat membayangkan kegeraman beliau ketika baru-baru ini berita tersebar🙂. Aa Gym digugat cerai Teh Ninih. Berita itu dinyatakan pitnah (p seperti pada panta, bukan pespa).  Tapi A, tidak akan ada asap jika tidak ada api, betul?

Barangkali ini sudah di luar keberminatan saya. Meski, deep deep deep inside, jujur: saya pernah berharap (pada tulisan saya beberapa waktu lalu) poligami Aa bisa segera diakhiri. Bagi saya: Tidak ada poligami yang berhasil, pun ini menerpa seorang teh Ninih ! Betapa jahat dan busuknya saya ya?

Sementara awal-awalnya, beberapa saat setelah berita pernikahan kedua Aa, saya masih bisa menuliskan pendapat dengan netral. Tapi sejalan dengan waktu, justru ketika saya berkecimpung sekilas dengan warga sekitar DT (saat Neng masih bersekolah di DT), timbul rasa ketidakterimaan. Betapa banyak warga DT  yang terkena dampak. Betapa getir saya melihat Teh Ninih selalu tersenyum dan bersemangat jika berceramah dengan mencontohkan Geriya putri terkecilnya.

Mungkin bukan urusan saya, karena saya bukan keluarga di sana dan tidak terkena dampak apa-apa (kena juga sih, sekolah agak kesulitan hehehe); saya  hanya sebatas mantan orang tua murid. Itu pun sebentar, karena tahun berikutnya saya pindahkan Neng ke TK Salman Al Farishi dengan berbagai pertimbangan – bukan karena faktor isue-isue di DT loh !

Dari dulu saya hanya pembicara dari luar, pengamat. Ini hanya sekedar empati untuk Teh Ninih.

Sekarang? Saya hanya bisa mohon ampun dan dijauhi untuk segala hal yang di luar kuasa saya. Buat saya, tetap: Poligami, adalah suatu ketentuan Tuhan, yang maha sulit. Bukan untuk dikecam, tapi bukan untuk dipergunakan secara parsial. Dan saya memilih menghindari (memikirkannya), karena (sudah basi; dari SMP saya wondering tentang poligami ini. How come?) masih banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: