Eudaimonisme

December 8, 2009

Merupakan teori etika klasik. Dikemukakan oleh filosof besar Yunani, Aristoteles (384-322 SM). Dalam bukunya, Nicomachaean Ethics, ia mengemukakan bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengerja suatu tujuan sedang tujuan tertinggi terakhir hidup manusia adalah kebahagiaan (Eudaimonia).

Namun Aristoteles beranggapan bahwa tidak semua hal bisa diterima sebagai kebahagiaan. Banyak orang menganggap kesenangan sebagai kebahagiaan, ada yang menganggap uang sebagai kebahagiaan, dan ada pula yang menganggap nama tenar sebagai kebahagiaan. Menurut Aristoteles kesemuanya itu bisa disebut tujuan tetapi bukan tujuan akhir. Kita berupaya memperoleh uang untuk mencapai tujuan lain, supaya kelihatan mapan misalnya. Pertanyaan “apa itu kebahagiaan” masih tetap tak terjawab.

Seseorang, menurut Aristoteles, mencapai tujuan terakhir apabila apabila menjalankan fungsinya dengan baik. Jika manusia menjalankan fungsinya sebagai manusia dengan baik, ia dapat mencapai tujuan terakhirnya yaitu kebahagiaan. Dari situ muncul pertanyaan, “apa fungsi yang khas dari manusia”, “apa keunggulan manusia dibanding makhluk-makhluk lain”. Aritoteles menjawab “akal budi atau rasio”. Karena itu manusia mencapai kebahagiaan dengan menjalankan dengan sempurna kegiatan-kegiatan rasionalnya.

Kegiatan-kegiatan rasional manusia harus disertai keutamaan. Bagi Aritoteles ada dua macam keutamaan, keutamaan intelektual dan moral. Keutamaan intelektual menyempurnakan langsung rasio itu sendiri, sedang dengan keutamaan moral rasio menjalankan pilihan-pilihan moral yang perlu dalam hidup sehari-hari.

Dalam menentukan pilihan-pilihan moral, rasio menentukan jalan tengah antara dua ekstrem yang berlawanan. Dengan kata lain, keutamaan adalah keseimbangan antara kurang dan terlalu banyak. Misalnya, keberanian adalah keutamaan yang memilih jalan tengah antara sikap gegabah dan pengecut, kemurahan hati adalah keutamaan yang mencari jalan tengah antara kekikiran dan pemborosan. Keutamaan yang menentukan jalan tengah itu oleh Aristotles disebut “phronesis” (Kebijaksanaan praktis). Menurut Aristoteles, manusia adalah baik dalam arti moral jika selalu mengadakan pilihan-pilihan rasional yang tepat dalam perbuatan moralnya dan mencapai keunggulan dalam penalaran intelektual.

taken from “Menyoal Objektivitas Ilmu Pengetahuan”.

link terkait:

http://forumkuliah.wordpress.com/2009/01/23/perkembangan-teori-etika/

http://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/15/akhlak/

2 Responses to “Eudaimonisme”

  1. imron Says:

    makasih atas komentarnya….

  2. pbasari Says:

    sama-sama mas imron, saya yg berterima kasih sudah mendapatkan info di situs mas imron


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: