Utilitarianisme

December 8, 2009

Merupakan teori etika klasik. Aliran ini berasal dari tradisi pemikiran etika di Inggris dan kemudian hari  berkembang meluas ke negara-negara lain. Aliran ini dipelopori olah tokoh Empirisme Inggris David Hume (1711-1776) dan mendapat bentuk yang lebih matang dalam pemikiran Jeremy Bentham

Jeremy Bentham

(1748-1832). yang dituangkan dalam karyanya yang berjudul Introduction to the Principles of Morals dan Legislation (1789). Bentham  memulai pemikirannya dengan mengatakan bahwa manusia menurut kodratnya tunduk pada dua penguasa, yaitu kesenangan dan ketidaksenangan. Menurut kodratnya manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Siapa yang tidak setuju dengan rumus Bentham ini justru akan membenarkannya.

Karena menurut kodratnya menusia terarah pada kebahagiaan, maka suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk sejauh dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Bentham meninggalkan prinsip kesenangan individual dengan menekankan bahwa kebahagiaan menyangkut seluruh umat manusia. Bentham mengemukakan prinsip utilitarian yang berbunyi the greatest happiness of the greates number, kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Berdasarkan prinsip itu, ia mengembangkan kalkulus kebahagiaan dengan menerapkan prinsip kegunaan secara kuantitati. Sumber-sumber kesenangan dapat diukur dan diperhitungan menurut  intensitas dan lamanya perasaan yang ditimbulkan,  kepastian akan timbulnya perasaan itu, jauh dekatnya perasaan kemurnian dan jangkauan perasaan dan lain sebagainnya. Sebagai absah secara moral apabila kesenangan melebihi ketidaksenangan secara kuantitatif. Moralitas semua perbuatan menurut Bentham dapat diperhitungkan secara matematis-statistik.

Etika Bentham yang sangat kuantitatif diperhalus oleh Jonh Stuart Mill (1806-1873). Mill juga seorang utilitarian namun ia mengeritik pandangan Bentham bahwa kesenangan dan kebahagiaan  harus diukur secara kuantittatif.

Jon Stuart Mill

Ia berpendapat bahwa kualitas perlu dipertimbangkan juga karena ada ksenangan yang lebih tinggi mutunya dan ada yang lebih rendah. Selain itu, Mill juga berpendapat bahwa kebahagiaan yang menjadi norma etis adalah kebahagiaan semua orang dan monopoli satu individu saja. Kebahagiaan satu orang tidak boleh dianggap lebih penting dari kebahagiaan orang lain. Mill mengemukakan satu rumus moral: everybofy to count for one, nobody to count for more than one. Perbuatan dinilai baik apabila kebahagian melebihi ketidakbahagiaan, dimana kebahagiaan semua orang yang terlihat dihitung dengan cara yang berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: