Hiperemesis Gravidarum

June 2, 2010

2 Juni 2010.. Astaga! Sudah memasuki pertengahan 2010? Waktu berlalu sedemikian cepatnya. Where have you been?

Tak terasa kehamilan saya sudah menginjak 24 minggu, aka 6bulan. Alhamdulillah, the baby’s fine. Minggu lalu beratnya 800gram, sibuk berputar-putar dalam genangan air ketuban yang insya allah cukup.

Sudah jalan-Nya, diamanahi tuk mengandung anak ke-3 di usia ke-38 ini (IH! Tua! :D). Diawali dengan warning-warning, bahwa risiko mengandung di atas35 adalah bla bla bla.. Membuat saya up and down. Antara excited dan super parno; wong hamil di usia produktif (20-an akhir dan 30-an awal) saja tidak luput dari rasa was-was. Apalagi ini, 38!! Tua sekalee.

Mungkin perkara ketakutan ini, ditambah akumulasi beban ini itu (standar usia menjelang 40) membuat saya akhirnya benar-benar dalam kondisingedrop. Memang, kehamilan pertama dan kedua pun membuat saya menjadidrunken mommy (mabuk-mabukan); tapi kehamilan yang ini koq parah ya? Serasa drunken master. Sampai berat badan menyusut ~5kg (horeee), tidak bisa makan, tidak bisa tidur, tidak bisa berakvitas, nyaris dehidrasi (don’t you know: dehidrasi membuat otak menjadi lemot! -saya carikan referensinya ya). Otomatis tidak bisa berpikir (sebenernya, ga dehidrasipun saya sudah lemot. Tapi itu rahasia).

Saya semakin terpuruk, serasa memasuki lingkaran setan. Merasa harus menyelesaikan berbagai hal, semakin dipikir semakin membuat stress dan tetap tidak bisa diselesaikan. Tahu bahwa tidak ada gunanya untuk sewot, akhirnya saya pun berdamai dengan diri. Mencoba melupakan semuanya: nilai T, hutang pekerjaan, hutang rupiah (ga lupa koq, pending), dan toleran dengan sekitar. Relaksasi.

Syukurlah, anak-anak sangat manis. Mas sangat baik *hugs*; mas yang mengurus anak-anak dan tentu mengurus saya. Membelikan semua makanan, pun mencarikan kedondong (yang ternyata saya ga suka :P). Selain berdamai, kunci utama adalah: tetap makan dan minum. (karena ga makan dan minum jadi lemas, lemas jadi tidur, tidur terus membuat semakin lemas, semakin lemas akhirnya ga sadar).

Dalam hal asupan, sedapat mungkin saya melakukan sesuai tatalaksana dan petunjuk: misal makan sedikit tapi sering, hindari makanan berlemak, dst dst. Apapun saya upayakan dimakan, meski dimuntahkan semua😀. Selera makan dibangkit-bangkitkan, dengan banyak melihat-lihat menu dan gambar makanan yang sepertinya lezat.  Meski setelah ada, tetap tidak menggugah. Selera kuliner dikerahkan semua daftar jajanan bandung dimobilisasi mulai dari mie ayam sakinah sampe dengan rawon bakar toko yu. Meski, mie ayam ga tersentuh, rawon dimakan dagingnya seuprit.  Sementara jika nasi tim, dimakan nasinya dan dagingnya mas yang makan. Ah, yang penting, tetap hidup!  Tetap makan dan makan serta minum (meski keluar lagi), pura-pura makan! Btw. Ada satu penyelamat, makanan yang benar-benar kemakan: roti kismisnya Rotiku. Empuk dan tidak mengenekkan. You save my life *hugs*.

Aneh, dulu-dulu ga gini-gini amet😦. Berbagai muntah (maaf) terasa; mulai dari muntah makanan yang baru masuk – masih segar (maaf), muntah kering karena kurang air – bikin sakit perih,  muntah setelah ada jeda – sudah hancur bercampur asam lambung (maaf). Bahkan muntah air saja karena tidak ada makanan. Semuanya harus sampai isi perut terkuras, habis dan tinggal pahit-pahitnya asam lambung. (disclaimer: jangan membaca ini  jika sedang menikmati  makan siang).

Ternyata ini masuk hiperemesis gravidarum? Maybe. Lalu? Yah saya lalui saja sambil berpikir ah pasti akan segera berlalu. Jangan lebay, kan memang harus dilalui. Alhamdulillah, sekarang sudah berlalu, meski mulut masih pahit-pahit (harus terus mengunyah :P). Sudah bisa beraktivitas dan mencicil hutang-hutang serta melupakan kenangan pahit dengan aneka rasa muntahan agar bisa menikmati makan😉.

Tentang hiperemesis; dari berbagai referensi, saya resumkan mengenai hiperemesis ini. Semoga bermanfaat.

Hiperemesis Gravidarum (HG)

Definisi

Mual dan muntah merupakan gejala yang wajar ditemukan pada kehamilan triwulan pertama. Biasanya mual dan muntah terjadi pada pagi hari sehingga sering dikenal dengan morning sickness. Sementara setengah dari wanita hamil mengalami morning sickness, 1,5 – 2 % mengalami hiperemesis gravidarum, suatu kondisi yang lebih serius. Hiperemesis gravidarum sendiri adalah mual dan muntah hebat dalam masa kehamilan yang dapat menyebabkan kekurangan cairan, penurunan berat badan, atau gangguan elektrolit sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan membahayakan janin di dalam kandungan. Pada umumnya HG terjadi pada minggu ke 6 – 12 masa kehamilan, yang dapat berlanjut sampai minggu  ke 16 – 20 masa kehamilan.

Penyebab

Penyebab dari hiperemesis gravidarum belum diketahui namun diperkirakan berhubungan dengan kehamilan pertama; peningkatan hormonal pada kehamilan, terutama pada kehamilan ganda dan hamil anggur; usia di bawah 24 tahun; perubahan metabolik dalam kehamilan; alergi; dan faktor psikososial. Wanita dengan riwayat mual pada kehamilan sebelumnya dan mereka yang mengalami obesitas (kegemukan) juga mengalami peningkatan risiko HG. Faktor risiko terjadinya hiperemesis gravidarum diantaranya adalah :

  • Level hormon ß-hcg yang tinggi. Hormon ini meningkat cepat pada triwulan pertama kehamilan dan dapat memicu bagian dari otak yang mengontrol mual dan muntah
  • Peningkatan level estrogen. Mempengaruhi bagian otak yang mengontrol mual dan muntah
  • Perubahan saluran cerna. Selama kehamilan, saluran cerna terdesak karena memberikan ruang untuk perkembangan janin. Hal ini dapat berakibat refluks asam (keluarnya asam dari lambung ke tenggorokan) dan lambung bekerja lebih lambat menyerap makanan sehingga menyebabkan mual dan muntah
  • Faktor psikologis. Stress dan kecemasan dapat memicu terjadinya morning sickness
  • Diet tinggi lemak. Risiko HG meningkat sebanyak 5 kali untuk setiap penambahan 15 g lemak jenuh setiap harinya
  • Helicobacter pylori. Penelitian melaporkan bahwa 90% kasus kehamilan dengan HG juga terinfeksi dengan bakteri ini, yang dapat menyebabkan luka pada lambung

Derajat hiperemesis gravidarum

Hiperemesis gravidarum terbagi atas beberapa derajat sesuai dengan tanda dan gejala yang dialaminya, yaitu :

  • Derajat  1

Muntah terus menerus (muntah > 3-4 kali/hari, dan mencegah dari masuknya makanan atau minuman selama 24 jam) yang menyebabkan ibu menjadi lemah, tidak ada nafsu makan, berat badan turun (2-3 kg dalam 1-2 minggu), nyeri ulu hati, nadi meningkat sampai 100x permenit, tekanan darah sistolik menurun, tekanan kulit menurun dan mata cekung

  • Derajat  2

Penderita tampak lebih lemah dan tidak peduli pada sekitarnya, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit kuning. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tekanan darah turun, pengentalan darah, urin berkurang, dan sulit BAB. Pada napas dapat tercium bau aseton

  • Derajat  3

Keadan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat, dan tekanan darah turun. Pada jabang bayi dapat terjadi ensefalopati Wernicke dengan gejala: nistagmus, penglihatan ganda, dan perubahan mental. Keadaan ini akibat kekurangan zat makanan termasuk vitamin B kompleks. Jika sampai ditemukan kuning berarti sudah ada gangguan hati

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan keton urin (air seni), serta elektrolit darah.

Tatalaksana

Tatalaksana hiperemesis gravidarum sangat beragam tergantung dari beratnya gejala yang terjadi. Tatalaksana dini dapat berpengaruh baik pada pasien. Ketika menatalaksana ibu dengan HG, pencegahan serta koreksi kekurangan nutrisi adalah prioritas utama agar ibu dan bayi tetap dalam keadaan sehat.
Pasien dapat dirawat karena mual dan muntah yang berlebihan disertai koreksi untuk gangguan elektrolit dan cairan. Pemberian nutrisi oral (melalui mulut) dapat diberikan pada pasien secara perlahan-lahan, dimulai dengan makanan cair, kemudian meningkat menjadi makanan padat dalam porsi kecil yang kaya akan karbohidrat. Saran-saran yang diberikan pada ibu yang mengalami HG adalah:

  • Menyarankan ibu hamil untuk mengubah pola makan menjadi lebih sering dengan porsi kecil
  • Menganjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dan teh hangat dan menghindari makanan berminyak serta berbau lemak
  • Jika dengan cara diatas tidak ada perbaikan maka ibu hamil tersebut diberi obat penenang, vitamin B1 dan B6, dan antimuntah
  • Perawatan di Rumah sakit bila keadaan semakin memburuk
  • Cairan infus yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein. Bila perlu ditambahkan vitamin B kompleks, vitamin C, dan kalium
  • Terapi psikologis apabila penanganan dengan pemberian obat dan nutrisi yang adekuat tidak memberikan respon

Pencegahan

Wanita yang mulai mengkonsumsi vitamin sejak kehamilan dini dapat menurunkan risiko hiperemesis gravidarum. Satu kali gejala HG muncul, maka perlu penatalaksanaan sejak dini agar tidak terjadi perburukan.

4 Responses to “Hiperemesis Gravidarum”

  1. cekeysh Says:

    llloohhh, ternyata gitu ya Yi…daku kira dikau sedang happy happy ye ye menikmati kehamilan diusia senja yang udah experienced ~haha,mangaaap bukan ngeledek,lagi kagum ini~…enjoy it as much as you can yaa, time does fly, in a short time it will be over!

    • pbasari Says:

      hai bu guru.. ini mabuk, happy, experienced (baca: usia senja :D).. sptnya sudah diambil korelasinya, apa berbanding lurus apa gemana. tq yak, so far so good, happy-happy saja lah (abis apa lagi? :P). life is good kan😉 (iklan LG dehh).

  2. elah dj Says:

    selamat ya bu dozen, happy mom…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: