Tumpukan-tumpukan

September 26, 2010

Old post.. Juni 2010

@Ohlala Bistro, kontemplasi

Belakangan, saya (so`) sibuk berkutat dengan berbagai tumpukan frustasi.  Tumpukan cucian, strikaan, dan tumpukan paper. Cucian piring dan alat masak sih tidak seberapa, karena warga rumah dibiasakan mencuci piring dan gelas sendiri. Sementara alat masak, kan pake happy call (tertawa termakan iklan). Ah, masaknya juga ga macem-macem penuh bumbu (wong bawang goreng  aja saya ga suka mual).

Tumpukan cucian baju sih cingcay, tinggal masuk-masukan ke mesin cuci. Tapiiii tumpukan strikaan masih menyisakan stress tak terkira babak belur. Oh lord, I really need an iron man berdoa (aka tukang strika). Apa beli mesin strika adalah solusi? Atau kapankah robot strika diciptakan dari lomba-lomba robot itu?

Saya dan mas mereka-reka mana penyedia jasa cuci kiloan yang memberikan layanan strika. Ato kita cari bibik strika saja? Saya bahkan terpikir untuk bisnis laundry saja sekalian hehe.. ga peduli BEP atau tidak kali ya hi..hi..hi

Bayangkan, 1 tumpukan cucian beberapa hari (4 orang x nset baju x nhari) bisa menghabiskan waktu 2-3 jam setrika. Time consuming banget terkejut! Tapi sebenarnya setrika sih masih bisa kompromi. Ga harus semua distrika kan? jangan bilang siapapun. Lagian ada beberapa tips dari para ibu, misal: langsung dilipat dan disimpan di lemari. karena tertumpuk-tumpuk, maka akan tampak rapi sendiri malaikat.

Ah sudah lah. Toh ketika tumpukan hasil setrikan itu rapi dan wangi, puas rasanya. Puas puas puas. bangga diri

Nah, tumpukan satu lagi nih, tumpukan paper dalam bentuk softcopy lah yang saya ga tahu harus diapakan saya tidak tahu. Pa Ucok, aka Dr. Zainal Hasibuan yang baik hati itu,  dalam chit chat ringan pernah mengatakan kepada saya:  kalo ingin riset, ya harus banyak membaca tumpukan paper, 300 paper.

Walah waduh!, ngumpulinnya aja saya masih ga karu-karuan, nyasar sana nyasar sini. Ini paper relevan atau tidak? Ini paper tentang apa ya? Pernah nemu, eh bahasa spanyol. Hualah, yang bahasa inggris saja saya ga ngerti karena secara content susah dimengerti, berasa berkomunikasi dengan alien alien.

Saya mencoba teknik mengumpulkan, mensortir, mengeprint, menskimming (membuat ringkasan), dan menata dalam tulisan sendiri. Tapi ampun, malah hanya bisa scanning-scanning. Setiap  membuka tulisan maka terlintas adalah, oh ya saya pernah baca nih paper ini, tapi tentang apa ya? 6 bulan berlalu, 6 bulan berlalu lagi. Begini-begini terus? menangis

Mengerikan, saya jadi teringat pesan dosen saya: kamu salah jalanwajah tanpa emosi. Jadi jadi? Perpaduan antara /me yang lemot, culun ga tahu jalan dan ga gengsi bertanya, plus memang bukan hal yang mudah dipelajari; bin bonus godaan sana sini setan yang tentu saya prioritaskan [ps: kalo saya bilang: kan buat keperluan hidup – kalo ga kerja ya ga bisa  bayar bill toh – nanti disangka melow bin lebay bersiul; ato mata duitan mata duitan. Padahal kan biasa aja ya?]

Yeah, seperti juga tumpukan cucian dan strika  yang saya tabahkan untuk diselesaikan, tumpukan paper ini juga akan saya selesaikan dengan tabah damai. Jalan yang sesat itu, pasti saya temukan ujungnya. I will survive!!  Meski waktu tak kan  bisa menunggu time out. Hiks.

Oh Lord.. I need a miracle..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: