Bimbel, or Not Bimbel

December 19, 2011

that’s the question..

Lihat-lihat lagi blog WP ini, teringat karena ditulis pada masa-masa kaka Rifqi menghadap ujian SD, UASBN namanya, UN tingkat SD yang pertama kali diberlakukan di Indonesia, dilengkapi dengan Lembar Jawab Komputer (LJK) yang dicontreng, bukan dihitamkan oleh pensil. Meragukan, mengkhawatirkan ! Heboh rasanya saat itu😀.

Teringat dulu, terpikir apa perlu ya bimbel dalam menghadapi UN itu. Soalnya Rifqi kan sekolahnya di SD Swasta, berangkali ada materi-materi yang terlewatkan dari standar UN. Tapi koq aneh ya, anak SD saja sudah bimbel😀😀. Jadi saya memutuskan tidak membimbelkan kaka Rifqi dan toh lolos juga UN nya.

Sekarang dia sudah kelas X, atau kelas 1 SMA. waktu kelas IX atau kelas 3 SMP, saya sertakan bimbel agar bisa menghadapi UN tingkat SMP; tujuannya supaya lebih terlatih dan terampil menghadapi soal-soal, Ya, buat saya, bimbel itu untuk pengayaan, latihan soal. Materi latihan sudah disusun sedemikian, sehingga anak mencapai tingkat keterampilan tertentu pada tahapan tertentu. Jangan remehkan metode latihan, buat saya latihan soal adalah setengah dari proses pembelajaran, sisanya adalah pemahaman materi. Jadi bagaimana mau terampil, kalo tidak paham materi dan boro-boro berlatih soal. Tapi asalkan latihan tersebut disertai feedback ya, agar tahu letak kesalahan dan ketidakpahaman. Masalahnya memang banyak yang terpaku pada latihan soal, jadi semacam menghapalkan soal tetapi tidak ke core materinya. Anak jadi terampil menyelesaikan soal, tetapi sebenarnya tidak paham, Kalo sudah begini, yang salah siapanya? Bimbel, sekolah, anak, ortu? atau kurikulum aja deh yang salah😛 *dicemberutin pembuat kurikulum nih he he

Nah sekarang, di kelas X semester I ini, ternyata banyak teman-temannya yang sudah mengikuti Bimbel. duh anak baru masuk sekolah, sudah dibimbelkan. Baru saja menyesuaikan diri dengan lingkungan yang serba baru. Ga cukupkan materi dari sekolah? Ga cukup kah tugas dari sekolah? Oh, atau bimbel itu justru untuk membantu memahami pelajaran sekolah dan membantu mengerjakan soal-soal dan tugas ya. Saya lihat, banyak bimbel yang menawarkan “kelas private” dengan harga yang lebih mahal dari SPP SMA yang sudah SBI ini (Sekolah Berstandar Internasional, bukan Berbiaya Internasional ya :D) SPP rasanya sudah mahal, tapi bimbel yang berjamuran ternyata lebih mahal lagi ! Barangkali memang sudah kebutuhan anak? Ditambah lagi adanya penjurusan, IPA – IPS, semakin membuat gencar ibu-ibu membimbelkan putra putrinya. lho koq ibu2nya ya? Soalnya kelihatannya anak-anaknya sih asyik2 dengan kegiatan di luar pembelajaran he he.. anak SMA gitu loh, you know lahh. Dan kenapa harus sampai bimbel ya, apa anak-anak ga bisa belajar bersama saja? atau pengayaan bersama guru-gurunya? Ada sih responsi dengan guru, tapi anak-anak malah ga memanfaatkannya karena cenderung tetap tidak paham😛

Saya sendiri masih galau, bimbel atau tidak perlu ya. Saya sendiri udah ga kuat menemaninya belajar fisika biologi dll😀 dan melihat anak-anak orang ikut bimbel, koq jadi was-was, ya ga sih?😀 Jadi, bimbel or not bimbel nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: