Ketika Ibu Bertanduk

April 13, 2012

Rasanya kepala ini langsung bertanduk melihatnya mengoprek laptop.. marahYa, maen game main game ! Kalo ga salah game Warcraft or something like that lah. Bagaimana tidak mangkel, kalo sudah asyik begitu; lupa semuanya. Boro-boro belajar, makan dan sholat pun harus dipanggil-panggil menunggu. Susahnya menerapkan aturan pada anak yang sudah beranjak remaja, padahal dulu (ketika sd smp) terdapat kesepakatan bahwa bermain game tidak boleh dari 2 jam sehari dan dilakukan pada akhir minggu saja. No warnet nggak boleh (meski suka ngabur2 juga ke warnet frustasi). Sekarang? Jam 6 sudah pergi sekolah, selesai jam 2-3, lalu kegiatan ini itu ini itu, magrib lewat baru pulang, sesampainya di rumah? Main game ! menangis

Kapan belajarnyaaaa.. Bagaimana dengan nilai yang di bawah kkm, bagaimana dengan jalur undangan yang mengharuskan ranking 10 besar di kelasnya pada semester 3, 4, 5, 6? Dengan persaingan yang sedemikian ketat, belum lagi pesaing di kelasnya sendiri. Tahu kah kamu nak, sementara kamu main game, ribuan anak sedang berbondong2 ke bimbel yang bonafide macam Daniels (8 juta setahun bo`mata duitan), sibuk belajar belajar, dan menggapai bintangnya ! (atau anak lain juga sebenernya main game ya? Atau twitteran?) menari Hehehe.. ibu aja yang gak tahu. wek. bersiul.

Demikian lah kalo ibu sudah bertanduk. Tapi percuma ibu mengomel cerewet. Ngomel masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Toh anak sudah tahu, sudah pintar untuk tahu yang ibu omelkan adalah benar. Tapi yaaa ntar aja kali ya.. Toh masih lamaaaa. mengantuk

Hadeuh. Apa ini gara-gara saya menyekolahkannya full day selama 9thn ya? waduh!Semua aktifitas pembelajaran dilakukan di sekolah. Anak masuk 7.30 pulang jam 16.00. Sampai rumah hampir magrib. Karena semua tugas dan remedi sudah dilakukan di sekolah, ya di rumah tinggal main dan istirahat. Saya tahu, beberapa anak, di rumah pun terus mengulang pelajaran dan mengerjakan soal. Tapi kaka tidak begitu. Rifqa sih begitu, dia mengerjakan tugas dan belajar, meski sudah seharian dia di sekolahan. Meski ketika smp, banyak juga pelajaran yang diselesaikan kaka di rumah, banyak sekali tugas dan kegiatan. Sampai-sampai week end pun dipakai untuk bertemu dengan teman-temannya. Entah rapat, entah mengerjakan tugas. Saya curiga sih berpikir, mungkin mengerjakan tugasnya 1 jam, lalu ke warnetnya 4 jam, nonton bareng2nya 6 jam hehehe. Tahu lah, ABG hi..hi..hi.

Beginilah ketika perpindahan pola 9 tahun full day school. Sma ini tidak full day lagi. Bahkan belajarnya hanya sekilas2 tanpa pengayaan. Tiba-tiba soal2 yang dikeluarkan begitu sulit. putus asa.Semester 1 saya anggap memang masa-masa penyesuaian. Ok lah kalo kesulitan pola-pola. Lingkungan baru, teman baru, guru baru, pola baru. Ketika euphoria pesta awal-awal sma melanda kaka, dengan sibuk ekskul ini itu dan happy hours dengan teman2nya, saya biarkan saja. Tapi ini sudah semester 2 ! Koq masih euphoria? Jangan2 selama2nya ya euphoria itu hehehehe.. kado

Aduh ibu stress. Tapi kalo ibu stress, kaka cuman bilang: doain aja mah, doain malaikat. Lha. Ya ibu mau doain gimana kalo kalo kakanya main game wae tidak mau dengar. Ya ya, saya tahu, bukan main game ala anak2 kecanduan game dan warnet itu lah. Saya percaya kaka dan teman-temannya adalah anak-anak yang masih punya tanggung jawabnya. Masih sekolah dengan tekun, mengerjakan tugas, menyelesaikan pr, twitteran janjian menyelesaikan soal. Belum lagi ekskul yang positif seperti menjadi penjelajah alam atau jadi anak band. Dan menurut saya, tidak ada yang salah dengan main game dan internet. Tapi jangan banyak-banyak ! phbbbbt Ini bagaimana supaya main game itu digantikan dengan membuat game. Ah, sepertinya koding dll koq tidak menarik ya buat kaka. Apa contohnya, ibu dan ayah ini kutu buku, tidak menarik buat dia? Huaaaaa.. Ibu sensiiiii.. menangis

kalo gitu, ibu harus beli ASUS TRANSFORMER !! metal!! (ada hubungannya ga sih.. mungkin biar ibu tampak kerrrrenkeren)

-a-

One Response to “Ketika Ibu Bertanduk”


  1. […] berita pak Wid dengan kegiatan sang anak, itu energi yang sangat negatif, hanya memperpanjang serial Galau sang Ibu. Kaka akan baik-baik saja, pun teman-temannya. Di Jamadagni justru anak-anak diberi pelajaran […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: