Emil jangan kau pergi

March 2, 2016

Emil jangan kau pergi, tinggalkan diriku sendiri.. Emil jangan kau lari.. 💔💔
(back sound: “Cinta Jangan Kau Pergi”, By Sheila Madjid 🎶🎶).

Sengaja post ini late, karena menghindari berita “kekinian” tentang Ridwan Kamil dan DKI1; daripada saya #baper 😢

withEmilYa, sesungguhnya saya mengikuti dan membaca segala sesuatunya. Deep inside, ada keyakinan akan Emil yang saya kenal; namun who knows? 😶

Ridwan Kamil – Emil teman SMA saya, sekelas waktu kelas 1. Hanya 1 tahun. Dulu dia membuat saya kesal, 2 kali. Pertama, dia menjadi anak kesayangan guru sejarah, bu Yoyoh. Padahal bu Yoyoh ini guru saya waktu SMP dan teman baik mamah saya. Bu Yoyoh tahu saya pandai sejarah tapi malah Emil yang jadi anak kesayangan bu Yoyoh (sirik pisan ya saya ini 😂😂). Kedua, ketika ulangan fisika. Ada guru, baru lulus ITB, yang masih idealis atau apapun namanya, memberikan pengajaran dengan cara dan soal yang luar biasa menyulitkan dan tidak membahagiakan. Saya ingat, kami ke rumah sahabat kami Ita untuk belajar bersama. Emil datang, nyusul, wajahnya keruh. Ntah sakit atau ntah pusing dengan materi. Lalu dia pulang duluan, sementara kami melanjutkan belajar bersama. Ketika ulangan, tentu, tidak ada anak yang bisa. Ketika dibagikan, saya mendapat nilai 1 bulat; dan Emil mendapat nilai 4, nilai tertinggi sekelas. Mengesalkan. Emil yang menurut saya belajarnya sebentar (tapi mungkin dia belajar lagi di rumah) mendapat nilai tertinggi 😤.

(Sebenernya saya kesalnya dengan guru Fisika tersebut sih, membuat anak seperti saya yang mudah merasa tertolak #baper; oleh pelajaran yang sungguh sebetulnya saya sukai. Bukannya di-encourage. Sejak itu saya ga suka Fisika. Jadi. Jangan tanyakan soal gelombang ke saya! Atau listrik hukum Faraday atau apa lah. Awas ya! 😡😡)

Back to Emil. Ya, cuman itu kisah saya yang saya ingat tentang Emil. Selanjutnya kami tidak pernah ada irisan lagi. Sampai kemudian saya membangun rumah, arsitek yang keren ini (saya tuliskan namanya ya: Sigit Wisnuadji, AR93 ITB) bercerita banyak tentang Ridwan Kamil dan Urbane. Prestasinya, karya-karyanya, tulisan di koran dll. Ternyata Emil sudah menjadi sosok yang luar biasa 😱😱.

Sekitar tahun 2008, saya bertemu Emil lagi di kegiatan reuni SMA 3 angkatan 90. Emil yang pertama kali menawarkan kantornya untuk kami panitia berkumpul. Mengantarkan saya, Rai, dan Fenny survey lokasi. Mengajak ke café fave nya untuk rapat, serta mengajak ke “Rumah Botol” sebelum dan sesudah reuni itu 🍶🍶.

Dalam satu kesempatan pertemuan, sekilas Emil mengatakan keprihatinannya akan “kasus Trendi” pilwakot Bandung. Saat itu saya turut menyimak pilwakot; dimana waktu itu ada Pak Arry Arman (dosen STEI ITB) mencalonkan diri sebagai wawali dan saya turut membantu mengumpulkan KTP. Pak Arry dan pasangan tidak lolos, tetapi pasangan “Trendi” pak Taufik (dosen SITH ITB) dan pak Abu Sauqi kalah dengan meninggalkan kasus (bisa dibaca di sini). Saya pernah tuliskan tentang pemilu walikota itu di sini. Ya saya gerah dengan Bandung yang ga tau akan dibawa kemana. Emil juga gerah, saya tahu itu. Emil lalu melakukan kontribusi perubahan dengan membangun BCCF yang mewadahi berbagai komunitas; sedangkan saya (cuman) sibuk kuliah. Saya ingat, Emil pernah bilang: “komunitas IT mah rada eksklusif ya?” Haa.. tentu saya jadi pengen bantu bantu dan bantu; tapi apa daya.. prinsip saya menyatakan: kalo sudah mulai, ga boleh berhenti sampai selesai! Tidak boleh PHP, you know?😎😎 Lagian komunitas IT, relawan IT (sekarang), dan blabla itu sudah membludak dan banyak sekali merapat ke dia toh? Semua orang bisa menjadi orang IT toh #baper deui.

Jadi, ketika Emil mencalonkan diri sebagai Walikota, saya sangat senang. Jangankan Emil, pak Arry pun saya bantu dengan tulus. Dan ketika Emil menang (dan PKS tentunya); saya termasuk warga yang sangat bahagia. Dan ketika popularitas Emil semakin meningkat, dijadikan bahan aduan kaum pendewa “haters – lovers” dan berbagai hal lainnya; saya hanya bisa berdoa: semoga Emil tetap amanah dan tetap rendah hati.

Tidak hanya satu dua orang menyampaikan hal-hal terkait Emil kepada saya; saya upayakan bisa disampaikan ke ybs ntah via siapa 🙈. Sungguh, saya tidak ada akses langsung ke ybs 😇 dan sungguh, kalau pun ada akses; saya tak sampai hati merecokinya dengan berbagai hal sementara dia sedang bekerja 😔. Terakhir ketika dia diajang-ajang untuk maju menjadi DKI 1 – meninggalkan Bandung yang masih belum pulih; tak sampai hati saya melihat dia menjadi bahan diskusi sana sini plus hate speech dari para “haters-lovers” itu 😓.

Saya tahu Emil tidak sempurna, banyak hal belum sempurna tapi saya percaya Emil tahu bagaimana harus bersikap menuju ke kebaikan-kebaikan. Dan ketika dia mengambil keputusan tentang DKI1; saya senang, ternyata apa yang tersimpan di “deep inside” ini; ternyata masih sama. Alhamdulillah🙏 . Semoga tetap amanah Emil, keep humble dan keep work hard 💛💛💛 .

(back sound: masih “Cinta Jangan Kau Pergi”, By Sheila Madjid 🎶🎶).
Catatan: foto reuni ITB, 2010. Emil, saya, dan Ade dalam gendongan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: