Sampah digital

November 7, 2016

Barusan. Saya lihat FB seseorang, yang kabarnya ditemukan meninggal pagi ini dalam kondisi tidak semestinya πŸ˜”. Mahasiswi cantik. Dan saya pun menyesal telah membuka FB ybs. Betapa tidak nyamannya, membuka FB seseorang yang telah tiadaΒ πŸ˜–πŸ˜– . Am sorry, so sorry.. πŸ˜₯πŸ˜₯

Lalu terbayang oleh saya, ketika saya meninggal nanti. Orang bisa melihat FB saya, mengambil kesimpulan (sesuai presepsinya) tentang saya berdasarkan postingan saya yang random dan geje. Lalu menggoogling nama saya, dan menemukan blog ini penuh dengan mumble tak berarti. Ha! πŸ˜ͺ

Meaning, bahwa kita (kita? Elo, kalee πŸ˜“) akan mewariskan artifak tak berguna di dunia maya ini, ketika kita nanti telah tiada. Ais, google selalu mencatat ya? Damn you! Sudah lama saya ingin sekali memiliki blog yang bermanfaat bagi banyak pihak, lalu status FB yang menginspirasi, dan Twitter dengan quote yang indah masuk ke dalam hati. Nyatanya? Ha! Saya cuman bisa berkontribusi nyampah. #shameonme.

Begitulah. Ketika para penggiat lingkungan disibukkan oleh sampah organik dan non organik, saya disibukkan oleh sampah digital ini. Mungkin secara kapasitas, storage tak akan terbatas. Tapi secara kebermanfaatan data, kebayang, jutaan sampah (data dan informasi) terpampang nyata di depan mata kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, dan jutaan generasi berikutnya (Eh sampai jutaan?) Yang dengan mudahnya ditemukan berkat deep learning dari mesin pencari yang dilengkapi dengan kemampuan natural language processing.

Inilah dunia nyata yang saya harus hadapi. Ya. Meski maya, buat saya ini adalah masalah yang nyata.

Seorang teman membayangkan, bahwa anak-anaknya akan merasa bahwa kehidupan dunia maya itu lah dunia nyatanya. Bingung kan? Maksudnya, generasi z sekarang berhadapan langsung dengan serba maya berkat internet yang tak terbatas jarak dan waktu. Mereka bercakap-cakap via line, ngobrol via snapchat, stalking instagram, menonton fb go live atau youtube. Lalu ngobrol dengan google assistant via google Allo (itu mah gue!)

Less humanis? Don’t know. begitu kan generasi berikutnya ini? Ketika teknologi menguasai dunia (sebenernya sih, katanya kucing yang menguasai dunia ini; tapi ini rahasia); bukankah tugas kita untuk tak takluk begitu saja dengan teknologi? Kita yang harusnya mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya! (lalu aku panik karena dari kemarin hp ku ngehang! Puasa hp? Iyya, makanya nge blog lagi πŸ˜‚). See? Seorang aku pun, tak kuasa berdaya menghadapi kebergantungan pada hp dan internet. Gimana anak-anak ya?

Penelitian temanku tentang penggunaan gadget menunjukkan, orang menggunakan HP / internet lebih dari 12 jam sehari. Selain game, chat, medsos, dan belanja online.. tentu mereka menggunakannya untuk update informasi. Kebayang? Ragam data dan informasi. Lalu bumbu hoax, ocehan geje, gambar rekayasa, dan broadcast an mesg yang semua hal yang tak bisa ditelusuri kebenarannya. Bahwa, sejatinya kebenaran itu tak pernah ada. (Sebentar.. Am dizzy). Ribuan wacana tentang cyber army, perang informasi, dan semua hal terkait di dalamnya. (Lalu aku sibuk kepoin Donald Trumph).

Itu. Itu yang akan dihadapi oleh kita dan anak-anak kita. Bagaimana kita membekali mereka? PR besar πŸ’¬πŸ’¬

PS: Bahagialah mereka yang bergelut di bidang big data, open data, mesin pencari dan mesin pembersih; text mining, opinion mining, deep learning. Dan lain lain lain sebagainya. Semoga bisa termanfaatkan untuk kebaikan dunia, bukan kebalikannya. Aku? Aku mah nge blog aja ga bener gini.. πŸ˜£πŸ˜‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: