Di Sabuga kemarin, di kala jeda, unit angklung memainkan lagu “You’ll be in my heart” 🎢🎢. Itu OST film Tarzan, tahun 1999. Saya pun tersenyum, itu “lagunya si kakak” 😍. Iyya, usianya baru 3th kala itu, dan suka sekali lagu (dan gamenya 😑). Mother-son-moment antara Tarzan dan ibunya (yang Gorila), buat saya mengesankan. (Dan tetiba saya jadi merasa menjadi Gorilla 😳).

mother-moments-tarzan-kala-and-tarzan

Ingatan saya mundur ke belakang ketika kakak masih kecil.. dia saya carikan sekolah terbaik, agar saya punya partner dalam membesarkannya πŸ˜‡. Sebetulnya dia sudah kelas 1 SD, sayang sekolahnya menjadi tidak kondusif, pindah menjadi jauh dari rumah dan semakin menjauh dari rute kerja saya. Saya harus pindahkan. Saya lalu lakukan survey sekolah, dengan mendatangi satu persatu sekolah yang masuk area pilihan. Dan saya langsung jatuh hati pada satu sekolah pada langkah jejak kaki saya yang pertama di sana πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜.

Read the rest of this entry »

Minggu lalu, Kaka, putra saya yang sudah kelas 6, sedang Pra-UAS II. Persiapan menjelang UAS BN 2008.

Yah, sementara orang-orang meributkan tentang Pilkada, atau tentang UU-ITE, atau tentang Blogger Negatif; saya sebagai emak-emak , tentu prioritas adalah “meributkan” UAS BN, BN-nya sendiri adalah singkatan dari Berskala Nasional, sesuai standar Badan Standar Nasional Pendidikan Nasional

Sebenarnya ini UASBN ini (rasanya) biasa saja, seperti EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) yang saya alami ketika saya bersekolah, tahun 84, kan? Saya lupa, apa bedanya UN-Ujian Nasional (yang dihebohkan itu) dengan EBTA (jaman dahulu)? Kan:

  • Sama-sama tidak dinyatakan tidak lulus sekolah jika tidak lulus EBTANAS
  • Sama-sama mengandung soal berasal dari “pusat”
  • Rasanya, sama-sama juga pilihan berganda?

Duh saya lupa jaman saya SD dulu, hehehehehe . Yang jelas, soal-soal bergandalah yang dikeluhkan oleh para Guru dan Ibu eh plus Bapak juga lah [hari gini, pendidikan anak masak cuman urusan sekolah atau ibu-ibu, please deh, bapa-bapa siaganya mana?]. Menurut yang saya tangkap, soal-soal berganda tidak mampu mencerminkan kemampuan sang anak yang sesungguhnya. Adakalanya sebenarnya sang anak tidak faham, tapi terlatih untuk menyelesaikan soal dengan cepat. Apalagi memang Bimbingan Belajar yang menjamur, banyak yang melatih mencari solusi yang cepat, daripada menekankan pemahaman. Read the rest of this entry »