werdhapura.penataanruang.net

December 11, 2009

pekerjaan di akhir tahun ini..

*fiuh*

Advertisements

Masih omong-omong tentang mimpi, sudah tahu kan sequel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi akan segera difilmkan. Dengan tokoh utamanya Ariel Peterpan. Wah. Alamat Mas ga mau nemenin nonton film ini :D. Maklum, ada gitu suami yang ngefans sama Ariel?

Dan saya pun, ketika ketika membaca buku Sang Pemimpi, membayangkan tokoh Arai  yang super gila, nekad, pantang menyerah.. dan jelek dan galing :D. Cocok gitu dengan Ariel? hehehehe.. Itu mah gimana mbak Mira Lesmana sajah lah. Saya pun tak terbayang ada sosok yang akan pas sesuai imajinasi saya tentang Arai tersebut. Tokoh Arai ini kuat sekali.

Mungkin saja sih cocok, toh Ariel kan sang pemimpi juga, bisa dijadikan contoh. Siapa yang menduga dia yang dari kampung (eh, Bandung itu kampung ga?) bisa menjadi artis sebesar ini toh? Lagu2nya bernilai sekian-sekian bikin senyum para produser. Suaranya yang menggumam, bikin ce-ce kelepek-kelepek. Liriknya, lumajan lah; meski ga seantik lirik Kla dan seanggun karya Taufik Ismail (ya iya lah); tapi lumayan aneh bikin merenung. Yang jelas, Ariel ini bikin sirik suami-suami saja hehehehe.

Dan lihatlah Ariel ga dandan, bener2 culun ternyata hehe. Dekil dan ga ganteng. [Terbukti prinsip: ganteng dan cantik itu berbanding lurus dengan banyaknya uang, alias perawatan bo`]

Mudah2an Ariel memang menjiwai perannya sih, jangan sampai kehadirannya hanya sekadar dalam rangka menjadi nilai jual film. Bisa-bisa malah mematahkan harapan para sang pemimpiers tuh, skeptis lagi deh sama hidup ini.

Omong-omong lagi, emang sosok Arai itu masih ada?

In My Dreams

December 9, 2009

.. all i know is that you love me.. in my dreams.. (sounds pathetic? hihi)

bicara bermimpi, sungguh. saya tidak tahu caranya bermimpi :/

apa yang ada di depan mata, itulah yang harus saya kerjakan. bukan sekedar di depan mata, tepat di pelupuk mata. tidak pernah berlaku pepatah “gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang tampak”. asli, pandanganku hanya sebatas kemampuan mata ini memandang.

ajari saya bermimpi, ajari saya memandang jauh ke depan. ajarin saya tertarik untuk mempersiapkan diri menghadapi tuntutan 10 thn – 20 thn yang akan datang, dimana sekarang semuanya tidak melirik dan sepi..

how come? ketika mimpi ini bertabrakan dengan tuntutan isi perut sekarang, bagaimana garis  demarkasi antara keduanya? salahkan menjadi seorang yang pragmatis? salahkan melahap apa yang harus dilahap sekarang? *)

*) meski pragmatis, tentu semua berdasarkan metode yang terverifikasi dan tervalidasi plus terukur dan terencana. ga serabutan lah yaw; ga gue banget itu  mah 😀

Utilitarianisme

December 8, 2009

Merupakan teori etika klasik. Aliran ini berasal dari tradisi pemikiran etika di Inggris dan kemudian hari  berkembang meluas ke negara-negara lain. Aliran ini dipelopori olah tokoh Empirisme Inggris David Hume (1711-1776) dan mendapat bentuk yang lebih matang dalam pemikiran Jeremy Bentham

Jeremy Bentham

(1748-1832). yang dituangkan dalam karyanya yang berjudul Introduction to the Principles of Morals dan Legislation (1789). Bentham  memulai pemikirannya dengan mengatakan bahwa manusia menurut kodratnya tunduk pada dua penguasa, yaitu kesenangan dan ketidaksenangan. Menurut kodratnya manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Siapa yang tidak setuju dengan rumus Bentham ini justru akan membenarkannya.

Karena menurut kodratnya menusia terarah pada kebahagiaan, maka suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk sejauh dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Bentham meninggalkan prinsip kesenangan individual dengan menekankan bahwa kebahagiaan menyangkut seluruh umat manusia. Bentham mengemukakan prinsip utilitarian yang berbunyi the greatest happiness of the greates number, kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Berdasarkan prinsip itu, ia mengembangkan kalkulus kebahagiaan dengan menerapkan prinsip kegunaan secara kuantitati. Sumber-sumber kesenangan dapat diukur dan diperhitungan menurut  intensitas dan lamanya perasaan yang ditimbulkan,  kepastian akan timbulnya perasaan itu, jauh dekatnya perasaan kemurnian dan jangkauan perasaan dan lain sebagainnya. Sebagai absah secara moral apabila kesenangan melebihi ketidaksenangan secara kuantitatif. Moralitas semua perbuatan menurut Bentham dapat diperhitungkan secara matematis-statistik.

Etika Bentham yang sangat kuantitatif diperhalus oleh Jonh Stuart Mill (1806-1873). Mill juga seorang utilitarian namun ia mengeritik pandangan Bentham bahwa kesenangan dan kebahagiaan  harus diukur secara kuantittatif.

Jon Stuart Mill

Ia berpendapat bahwa kualitas perlu dipertimbangkan juga karena ada ksenangan yang lebih tinggi mutunya dan ada yang lebih rendah. Selain itu, Mill juga berpendapat bahwa kebahagiaan yang menjadi norma etis adalah kebahagiaan semua orang dan monopoli satu individu saja. Kebahagiaan satu orang tidak boleh dianggap lebih penting dari kebahagiaan orang lain. Mill mengemukakan satu rumus moral: everybofy to count for one, nobody to count for more than one. Perbuatan dinilai baik apabila kebahagian melebihi ketidakbahagiaan, dimana kebahagiaan semua orang yang terlihat dihitung dengan cara yang berbeda.

Deontologi Kant

December 8, 2009

Deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarati apa yang harus dilakukan, kewajiban. Pemikiran ini dikembangkan oleh filosof Jerman,Immanuel Kant (1724-1804). Sistem etika selama ini yang menekankan akibat sebagai ukuran keabsahan tindakan moral dikritik habis-habisan oleh Kant. Kant memulai suatu pemikiran baru dalam bidang etika dimana ia melihat tindakan manusia absah secara moral apabila tindakan tersebut dilakukan berdasarkan kewajiban (duty) dan bukan akibat. Menurut Kant, tindakan yang terkesan baik bisa bergeser secara moral apabila dilakukan bukan berdasarkan rasa kewajiban melainkan pamrih yang dihasilkan. Perbuatan dinilai baik apabila dia dilakukan semata-mata karena hormat terhadap hukum moral, yaitu kewajiban.

Kant membedakan antara imperatif  kategoris dan imperatif hipotetis sebagai dua perintah moral yang berbeda. Imperatif kategoris merupakan perintah tak bersyarat yang mewajibkan begitu saja suatu tindakan moral sedangkan imperatif hipotesis selalu mengikutsertakan struktur “jika.. maka.. “.

Kant menganggap imperatif hipotetis lemah secara moral karena yang baik direduksi pada akibatnya saja sehingga manusia sebagai pelaku moral tidak otonom (manusia bertindak semata-mata berdasarkan akibat perbuatannya saja). Otonomi manusia hanya dimungkinkan apabila manusia bertindak sesuai dengan imperatif kategoris yang mewajibkan tanpa syarat apapun. Perintah yang berbunyi “lakukanlah” (du sollst!). Imperatif  kategoris menjiwai semua perbuatan moral seperti janji harus ditepai, barang pinjaman harus dikembalikan dan lain sebagainya. Imperatif kategoris bersifat otonom (manusia menentukan dirinya sendiri) sedangkan imperati hipotetis bersifat heteronom (manusia membiarkan diri ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan dan emosi).

Berkenaan dengan pemikiran deontologinya, Kant mengemukakan duktum moralnya yang cukup terkenal: “bertindaklah sehingga maxim (prinsip) dari kehendakmu dapat selalu, pada saat yang sama, diberlakukan sebagai prinsip yang menciptakan hukum universal. Contoh tindalah moral “jangan membunuh” adalahbesar secara etis karena pada saat yang sama dapat diunverasalisasikan menjadi prinsip umum, (berlaku untuk semua orang dimana saja kapan saja).

Eudaimonisme

December 8, 2009

Merupakan teori etika klasik. Dikemukakan oleh filosof besar Yunani, Aristoteles (384-322 SM). Dalam bukunya, Nicomachaean Ethics, ia mengemukakan bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengerja suatu tujuan sedang tujuan tertinggi terakhir hidup manusia adalah kebahagiaan (Eudaimonia).

Namun Aristoteles beranggapan bahwa tidak semua hal bisa diterima sebagai kebahagiaan. Banyak orang menganggap kesenangan sebagai kebahagiaan, ada yang menganggap uang sebagai kebahagiaan, dan ada pula yang menganggap nama tenar sebagai kebahagiaan. Menurut Aristoteles kesemuanya itu bisa disebut tujuan tetapi bukan tujuan akhir. Kita berupaya memperoleh uang untuk mencapai tujuan lain, supaya kelihatan mapan misalnya. Pertanyaan “apa itu kebahagiaan” masih tetap tak terjawab.

Seseorang, menurut Aristoteles, mencapai tujuan terakhir apabila apabila menjalankan fungsinya dengan baik. Jika manusia menjalankan fungsinya sebagai manusia dengan baik, ia dapat mencapai tujuan terakhirnya yaitu kebahagiaan. Dari situ muncul pertanyaan, “apa fungsi yang khas dari manusia”, “apa keunggulan manusia dibanding makhluk-makhluk lain”. Aritoteles menjawab “akal budi atau rasio”. Karena itu manusia mencapai kebahagiaan dengan menjalankan dengan sempurna kegiatan-kegiatan rasionalnya.

Kegiatan-kegiatan rasional manusia harus disertai keutamaan. Bagi Aritoteles ada dua macam keutamaan, keutamaan intelektual dan moral. Keutamaan intelektual menyempurnakan langsung rasio itu sendiri, sedang dengan keutamaan moral rasio menjalankan pilihan-pilihan moral yang perlu dalam hidup sehari-hari.

Dalam menentukan pilihan-pilihan moral, rasio menentukan jalan tengah antara dua ekstrem yang berlawanan. Dengan kata lain, keutamaan adalah keseimbangan antara kurang dan terlalu banyak. Misalnya, keberanian adalah keutamaan yang memilih jalan tengah antara sikap gegabah dan pengecut, kemurahan hati adalah keutamaan yang mencari jalan tengah antara kekikiran dan pemborosan. Keutamaan yang menentukan jalan tengah itu oleh Aristotles disebut “phronesis” (Kebijaksanaan praktis). Menurut Aristoteles, manusia adalah baik dalam arti moral jika selalu mengadakan pilihan-pilihan rasional yang tepat dalam perbuatan moralnya dan mencapai keunggulan dalam penalaran intelektual.

taken from “Menyoal Objektivitas Ilmu Pengetahuan”.

link terkait:

http://forumkuliah.wordpress.com/2009/01/23/perkembangan-teori-etika/

http://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/15/akhlak/