Python in NetBeans IDE 8.0.2

November 21, 2016

Manja 😤 . Iyya sih..  😜

Programming yang bisa dilakukan dengan editor biasa dan dijalankan melalu command prompt; saya tetap gunakan IDE untuk mempermudahnya. Kurang cool ya? 😈

Meskipun saya bukan fanatik, tapi saya ini kalo sudah suka (Java) ya suka; ga tertarik lagi untuk melihat yang lain. Da aku mah gitu orangnya. Tapi berhubung Python ini terus digembar gembor sebagai bahasa kekinian, minimal menurut http://www.tiobe.com/tiobe-index/ (5 besar), menurut http://spectrum.ieee.org/computing/software/the-2016-top-programming-languages (ranking 3), dan menurut  http://pypl.github.io/PYPL.html (dia ranking 2!). Mau ga mau, suka tidak suka, saya harus sekedar tahu dan bisa say “Hello World!” Dengan python ini. Literate ya 😄

Meskipun bahasa ini sudah lama rilisnya, 20 February 1991; 25 years ago, oleh Guido van Rossum , Python semakin popular belakangan ini. Eh penasaran bagaimana menghitung popularitas suatu bahasa? Bisa dicek di sini https://en.wikipedia.org/wiki/Measuring_programming_language_popularity. Atau mungkin dia pake buzzer robot sehingga indeks popularitasnya menaik 😂😂

Hush 🙊

Kembali ke Python. Semua resource ada di https://www.python.org/. versi stabil bisa diambil di https://www.python.org/downloads/; saya lebih suka versi 2.7.x don’t ask ya, kenapa dia ada keluarga 3.5.x sementara 2.7.x pun tetap dikembangkan. Bedanya apa? Tanya mas Guildo aja ya. Atau baca-baca di sini. https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Python.

Berhubung ini bahasa scripting dengan interpreter, nah loh; dulu saya tahunya script ya script; ga bisa dibilang bahasa. Jadi kalo saya bilang “bahasa scripting” koq jadi tampak suka suka saya ya? Ya jadi kita bisa jalankan kodingan kita (nah loh, ada kodingan dan skriptingan) langsung dengan interpreter melalui command prompt.

Di situlah saya merasa malas 😴😴 . Manja! Saya mau pake IDE. Manja ya 😚😚. Sterotipe kodingan line of code itu kayaknya sok keren banget ya (apalagi kalo dia hitam putih), dibandingkan pake IDE yang warna warni centil dan dilengkapi autocomplete. Biarin. Ini masalah preferensi 💆.

Dari sekian pilihan IDE for python (baca sendiri di sini https://wiki.python.org/moin/IntegratedDevelopmentEnvironments) saya akhirnya memilih.. Netbeans 😏. Don’t ask why, itu krn udah ada aja di komputer aku 🐣. dan diam-diam aku mempelajari “How to porting Python to Java”, vice versa 😎. Begitulah. Sekalinya Java tetap Java! #sikap. Oh ya. Sebetulnya orang-orang menggunakan PyCharm, sepertinya lebih mudah.  http://www.jetbrains.com/pycharm/

Nah. Ketika memilih Netbeans IDE itu; saya menyimak video ini.

Ga susah koq. Caranya:

  • Siapkan netbeans (8.0.2). jangan lupakan JRE dan JDK sudah include; silahkan cek di situs Netbeans atau di situs Java. Pokoknya, please Get the Correct Version of NetBeans IDE.
  • Siapkan python (download dan ekstrak); ambil di situs python, bisa juga di http://plugins.netbeans.org/plugin/56795. Pastikan, Get the Python Plugin for NetBeans IDE 8.0.2.
  • Add sebagai plug in, buka plug in manager (dari menu Tools, pilih sub menu Plugins, pilih tab Downloaded, Tekan tombol Add Plugins; add seluruh file Python Plugin for Netbeans yang telah diekstrak)

netbeanpython

  • Buat projek baru dg Python
  • Siapkan program Hello World!

Udah.

Ini contoh program “Hello World!”

__author__ = "pbasari"
__date__ = "$Nov 15, 2016 12:06:21 PM$"

f __name__ == "__main__":
   print "Hello World"

Untuk menjalankannya, cukup tekan tombol Run. Easy. Dan cukup mudah untuk koder Malas Manis Manja seperti saya.

Oh ya. Python tidak mengenal Begin – End; tapi dia menggunakan indentasi untuk setiap blok pemrogramannya. Saya sih senang, karena membuat programmer mau ga mau, harus tertib indentasi!

Selanjutnya. Belajar Python, bisa dicek di https://www.youtube.com/watch?v=N4mEzFDjqtA (sebenernya saya nonton X Factor; Astaga! Honey G masih bertahan!!). Ups. Kembali ke video tutorial; dia menggunakan PyCharm sebagai IDE. Gampang banget lho.

Untuk Dokumentasi Python tutorial lengkap bisa dilihat di  https://docs.python.org/2/tutorial/index.html. Ke depan, saya akan membuatkan Tutorial OOP dengan Python. Tentu tetap dengan IDE Netbeans😚.

__Manja__

 

 

 

Advertisements

JSon: Pengenalan

March 12, 2016

EH. Di post sebelumnya, saya hanya curcol tentang kzl nya harus mengkoding mengikuti teknologi. Jangan gitu dong, jelek-jelek, hidup saya dari perkembangan teknologi itu. Seharusnya saya memberi contoh dan motivasi hihihi.. HATE turns into Love, semoga. Then jadi love and hate collide. Baiklah, kita mulai lagi dari awal.Iya saya mah begitu, suka memulai dari awal lagi.

Belajar JSon bisa dari situsnya: json.org

JSon itu JavaScript Object Nation. Format untuk data-interchange. Dari sisi manusia, mudah dibaca dan ditulis. Dari sisi mesin, mudah untuk diparse dan dibangkitkan. JSon berbentuk format teks, language independent tetap dengan konvensi yang biasa digunakan programmer dari keluarga C. Sudah tahu siapa saja keluarga C? Itulah. C, C++, C#, Java, JavaScript, Perl, Python. Dan juga PHP. (dasar kamu, PHP!)

Struktur JSon ada dua macam:

  • A collection of name/value pairs. In various languages, this is realized as an object, record, struct, dictionary, hash table, keyed list, or associative array.
  • An ordered list of values. In most languages, this is realized as an array, vector, list, or sequence.

Contoh JSon

{“employees”:[
{“firstName”:“John”, “lastName”:“Doe”},
{“firstName”:“Anna”, “lastName”:“Smith”},
{“firstName”:“Peter”, “lastName”:“Jones”}
]}

 

Bandingkan dengan XML

<employees>
<employee>
<firstName>John</firstName> <lastName>Doe</lastName>
</employee>
<employee>
<firstName>Anna</firstName> <lastName>Smith</lastName>
</employee>
<employee>
<firstName>Peter</firstName> <lastName>Jones</lastName>
</employee>
</employees>

 

Sebetulnya JSon itu secara format is syntactically identical to the code for creating JavaScript objects.

 

Sebagai contoh:

<!DOCTYPE html>
<html>
<body><h2>JSON Object Creation in JavaScript</h2>

<p id=“demo”></p>

<script>
var text = ‘{“name”:”John Johnson”,”street”:”Oslo West 16″,”phone”:”555 1234567″}’;

var obj = JSON.parse(text);

document.getElementById(“demo”).innerHTML =
obj.name + “<br>” +
obj.street + “<br>” +
obj.phone;
</script>

</body>
</html>

akan menghasilkan:

JSON Object Creation in JavaScript

John Johnson
Oslo West 16
555 1234567

ok ok

Sekarang saya tahu kenapa saya ga suka JSon. Karena saya ga suka JavaScript meski dia sama2 Java ya 😪

JSon, duh harusnya aku tulis JSON ya?

Seperti XML, karena:

  • Both JSON and XML is “self describing” (human readable)
  • Both JSON and XML is hierarchical (values within values)
  • Both JSON and XML can be parsed and used by lots of programming languages
  • Both JSON and XML can be fetched with an XMLHttpRequest

Sangat berbeda dengan XML, karena:

  • JSON doesn’t use end tag
  • JSON is shorter
  • JSON is quicker to read and write
  • JSON can use arrays

Perbedaan yang sangat mendasar:

XML has to be parsed with an XML parser, JSON can be parsed by a standard JavaScript function.

Ngerti? Enggak 😁😁😁

WHY JSON. Begini katanya:

For AJAX applications, JSON is faster and easier than XML:

Using XML

  • Fetch an XML document
  • Use the XML DOM to loop through the document
  • Extract values and store in variables

Using JSON

  • Fetch a JSON string
  • JSON.Parse the JSON string

Bukan-bukan. Saya bukan mau menuliskan tutorial tentang itu semua :D. Saya cuman mau bilang: I HATE THEM ALL! *hush..

Nah padahal para motivator itu selalu bilang: do what you love, love what you do. What a nonsense thing ya? :D.

Mereka membuat hidup saya eh kodingan saya bak Spaghetti code. Ruwet. KRIBO. Tapi itulah teknologi. Ikuti, atau dirimu punah. *damn.

Baiklah, kurangi tidur; kurangi beres-beres, kurangi masak (jangan!!), kurangi hal2 yang membuat distrak (ok, stop stalking Harry Styles), stop fb, wag, telegram, youtube boleh? wp boleh ya buat curhat?

 

 

 

how-to-stop-writing-spaghetti-code-1-638

 

Kementerian Perhubungan RI menyelenggarakan Survei Asal Tujuan Nasional Penumpang dalam rangka mengetahui jumlah kebutuhan pergerakan masyarakat Indonesia. Hasil survei ini memiliki peran penting dalam merumuskan berbagai kebijakan di bidang transportasi untuk memenuhi kebutuhan pergerakan. Survei ini dilaksanakan secara online dengan mengunjungi laman berikut:

http://penumpang.attn-survey.net/

Partisipasi seluruh masyarakat Indonesia dalam survei ini memiliki nilai yang sangat penting untuk mewujudkan sistem transportasi Indonesia yang lebih baik. Oleh karena itu, kami mengajak Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sekalian untuk dapat berperan aktif dalam kegiatan ini dengan mengisi dan menyebarkan informasi ini ke seluruh masyarakat Indonesia. Selain itu, 1000 pengisi pertama selama kurun waktu 26 November – 27 November 2015 berkesempatan untuk memperoleh pulsa tanpa diundi.

Mari berpartisipasi dalam rangka mewujudkan transportasi Indonesia yang lebih baik.

Saya menemukan tulisan tentang gaji lulusan ITB dari blog milik mas Rully. Saya tidak kenal beliau, saya ijin mengambil data langsung dari blog beliau (hai mas :D). Blog tersebut merangkumkan data hasil tracer study yang bisa diunduh di sini. Dokumen yang sangat menarik! Tak hanya tentang penghasilan saja, tetapi banyak informasi lain yang digali dari kegiatan tracer study tersebut. Baiklah, kita lihat saja dari sisi penghasilan. Berikut gaji (termasuk bonus) lulusan ITB dengan masa kerja 2-3 tahun, angkatan 2007, responden 2.828 orang, pengisi kuestioner 2.268; saya copy paste kan dari blog mas Rully:

  1. Teknik Perminyakan, Rp 20.564.663/bulan.
  2. Teknik Metalurgi, Rp 20.403.125/bulan.
  3. Teknik Elektro, Rp 16.528.734/bulan.
  4. Teknik Tenaga Listrik, Rp 16.228.730/bulan.
  5. Teknik Geofisika, Rp 15.309.259/bulan.
  6. Sistem Informasi, Rp 13.895.834/bulan.
  7. Teknik Geologi, Rp 13.770.218/bulan.
  8. Teknik Kimia, Rp 13.564.000/bulan.
  9. Teknik Industri, Rp 13.550.512/bulan.
  10. Manajemen, Rp 13.536.300/bulan.
  11. Teknik Pertambangan, Rp 13.444.197/bulan.
  12. Teknik Mesin, Rp 13.061.677/bulan.
  13. Teknik Fisika, Rp 12.943.352/bulan.
  14. Teknik Telekomunikasi, Rp 11.178.504/bulan.
  15. Teknik Informatika, Rp 11.151.712/bulan.
  16. Teknik Material, Rp 11.052.346/bulan.
  17. Teknik Sipil, Rp 11.007.053/bulan.
  18. Astronomi, Rp 10.889.743/bulan.
  19. Teknik Kelautan, Rp 10.537.616/bulan.
  20. Teknik Lingkungan, Rp 10.373.951/bulan.
  21. Teknik Penerbangan, Rp 9.799.924/bulan.
  22. Teknik Geodesi dan Geomatika, Rp 9.770.107/bulan.
  23. Meteorologi, Rp 8.843.750/bulan.
  24. Biologi, Rp 8.698.611/bulan.
  25. Matematika, Rp 8.612.096/bulan.
  26. Desain Komunikasi Visual, Rp 8.422.483/bulan.
  27. Perencanaan Wilayah dan Kota, Rp 8.305.831/bulan.
  28. Kimia, Rp 7.641.755/bulan.
  29. Fisika, Rp 7.588.215/bulan.
  30. Oseanografi, Rp 7.537.745/bulan.
  31. Sains dan Teknologi Farmasi, Rp 7.400.576/bulan.
  32. Arsitektur, Rp 7.257.169/bulan.
  33. Desain Interior, Rp 6.622.080/bulan.
  34. Mikrobiologi, Rp 6.526.389/bulan.
  35. Desain Produk, Rp 6.224.265/bulan.
  36. Farmasi Klinik, Rp 5.529.490/bulan.
  37. Kriya, Rp 4.946.818/bulan.
  38. Seni Rupa, Rp 4.143.750/bulan.

Rata-rata penghasilan untuk alumni ITB tahun 2007 di tahun 2014 adalah Rp 10.706.936 per bulan. Agak bingung dengan tulisan mas Rully. Urutan 6, lulusan Sistem Informasi. Apakah yang dimaksud adalah Sistem dan Teknologi Informasi (STI)? Dari buku laporan tracer study, tertuliskan STI koq. Berbeda lho :). Kemudian, berdasarkan tulisan pak Rinaldi Munir , program studi STI baru ada di kurikulum 2008-2013, dengan demikian angkatan 2007 tersebut adalah alumni STI angkatan pertama? Respondennya berapa orang ya? Hehe saya harus melototi sumber datanya langsung, buku tracer study yang 161 halaman itu 😛 Dari data terlihat, lulusan STI urutan 6 sedangkan lulusan Informatika ada di urutan 15 dengan selisih angkat sekitar 2.6jt.  Apa yang bisa disimpulkan dari data tersebut? 🙂 Dari STEI, lantas pilih STI atau IF? Eh tapi jangan dari sisi penghasilan saja ya. Ada lagi yang menarik dari dokumen langsung tracer study yang tebal itu (hal. 90):

Pada Grafik 6.16, tampak besar penghasilan maksimum dan minimum bagi alumni 2007. Alumni 2007 yang bekerja ada yang memiliki penghasilan per bulan sebesar Rp115.000.000 dan paling kecil sebesar Rp.1.000.000. Mereka yang bekerja dan wiraswasta penghasilan per bulan paling besar adalah Rp.31.000.000 dan paling kecil Rp.1.000.000. Sementara yang menjadi wirausaha memiliki penghasilan per bulan paling besar Rp.125.000.000 dan paling kecil Rp.100.000. Dari ketiga kategori ini kembali tampak bahwa alumni 2007 yang bekerja ternyata dari sisi penghasilan per bulan tidak kalah dengan mereka yang menjalankan usaha.

Lihat penghasilan wirausaha 🙂 100jt-125jt. Hebat! Sementara untuk pekerja dan wiraswasta 1jt-31jt. Saya kutip lagi:

Grafik 6.19 menunjukkan besar maksimum dan minimum bonus penghasilan per tahun alumni 2007. Alumni 2007 yang bekerja memiliki bonus penghasilan maksimum Rp.600.000.000 dan minimum Rp.100.000. Sementara yang bekerja dan wiraswasta memiliki bonus penghasilan per tahun maksimum Rp.70.000.000 dan minimum Rp.500.000. Untuk wirausaha memiliki bonus penghasilan per tahun maksimum Rp.650.000.000 dan minimum Rp.2.000.000.

Oh ternyata dari sisi bonus, wirausaha masih jauh lebih tinggi, 650jt berbanding 70jt untuk mereka yang bekerja. Great, sudah siap berwirausaha? Harus berani! Btw. Melihat jumlah digit berderet membuat saya ingin segera diadakan sanering rupiah :(. Saya sendiri merasa janganlah kita memilih jurusan berdasarkan penghasilan; broker saham juga penghasilannya besar, pemilik toko material sebelah rumah saya pun penghasilannya setara dengan bonus para wirausahawan itu. Kembalikanlah kepada passion masing-masing. Juga apakah wirusaha atau pekerja, tergantung kepada tujuan dan roadmap  hidup masing-masing. Meski wirausaha memperlihatkan bahwa lulusan adalah sang pemberi kerja, bukan sekedar pencari kerja; akan tetapi tidak semua orang berbakat menjadi seorang wirausahawan. Harus kuat berdarah-darah dulu bukan? 🙂 Baiklah, semoga menjadi informasi yang bermanfaat. Betul-betul dokumen tracer study yang sangat bagus! Selamat, dan turut berbangga kepada tim penyusunnya. Barangkali bisa dijadikan acuan kami di Unpas untuk menyusun laporan tracer study. Oh ya. Bagaimana dengan gaji (alumni ITB) dengan profesi dosen? Barangkali saya harus melakukan survei tersendiri untuk mendapatkan informasi tersebut. Masalahnya, katanya, dosen itu tabu berbicara tentang penghasilan. Tugasnya mengabdi pada negeri (ahik). Tak apa jika ga bisa makan (ah ga lah) atau ga bisa mendapatkan pendidikan anak dan kesehatan yang layak (nah ini) atau tas hermes (hush).

Sumber:
http://widyadharma.ac.id/kumpulan-info-penting-untuk-dosen/

Terima kasih 🙂

Kumpulan Info Penting untuk Dosen

A. TENTANG DOSEN

  1. UU 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
  2. UU 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
  3. UU 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Penjelasannya)
  4. PP 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan
  5. PP 37 tahun 2009 tentang Dosen
  6. PP 32 Tahun 2013: Perubahan Atas PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  7. Perpres 8 tahun 2012 : Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan Lampirannya
  8. Permendikbud no. 84 Tahun 2013 tentang Pengangkatan Dosen tetap

B. NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional)

Pengajuan NIDN Baru harus dilenkapi dengan dokumen penunjang yang lengkap:

  1. Ijasah minimal berkualifikasi S2 atau S1 yang memiliki jabatan fungsional
  2. KTP Terbaru yang masih berlaku, dianjurkan berwarna/asli (bukan photocopy)
  3. SK sebagai Dosen Tetap Ketua Yayasan/Ketua BPH yang memuat hak dan kewajiban antara calon dosen dengan yayasan (Contoh SK dosen tetap Yayasan)
  4. Ijazah Lengkap (mulai S-1/D-4), Bagi Lulusan PT Luar Negeri disertakan SK Penyetaraan dari DIKTI / PTN yang ditunjuk DIKTI
  5. Surat Pernyataan sesuai dengan SK Dirjen Dikti Nomor : 108/DIKTI/Kep/2001, seperti ini
  6. Jika memiliki Jabatan Fungsional, maka wajib melampirkan SK Jabatan Fungsional terakhirnya
  7. Status Kemahasiswaan Terdaftar di PDPT
  8. Hasil/Sertifikat Tes Potensi Akademik dan Kemampuan Dasar
  9. Sertifikat Kemampuan Bahasa Inggeris

Peraturan terkait Pengangkatan dosen tetap dan Pengajuan NIDN:

  1. Permendikbud no. 84 Tahun 2013 tentang Pengagkatan Dosen Tetap Non Pegawai Negeri Sipil pada Perguruan Tinggi Negeri dan Dosen Tetap pada Perguruan Tinggi Swasta
  2. Kebijakan Baru NIDN (Edaran no. 2899.1/E4.1/2011) Kebijakan Baru tentang Jadwal Usulan NIDN: Pengajuan Dapat Dilakukan Setiap Saat
  3. Kebijakan Baru NIDN dan Pindah Homebase Dosen (Edaran no. 3387/E4.1/2012,
  4. Persyaratan Pengajuan Data Dosen bisa baca di sini

C. NUPN (Nomor Urut Pengajar Nasional)

Nomor Urut Pengajar Nasional (NUPN) adalah nomor identifikasi nasional untuk Dosen Junior (Pendidikan Masih S1 dan Tidak Memiliki Jenjang Kepangkatan) serta Dosen Tidak Tetap

NUPN ada disinggung di Surat Edaran Direktur Diktendik no. 2844/E4.1/2012 tentang Penataan Sistem Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan juga di Surat Edaran Direktur Ditendik no. 72/E/KP/2013 tentang Status, Penataan dan Penetapan Jabatan Akademik Dosen Tidak Tetap.

D. NUPN Baru

  1. SK dari Yayasan/Pimpinan PT sebagai Dosen Kontrak/Tidak Tetap yang menyatakan hak dan kewajiban dosen
  2. Ijazah lengkap (mulai S-1/D-4), bagi lulusan PT luar negeri disertakan SK penyetaraan dari DIKTI atau PTN yang ditunjuk DIKTI
  3. Surat pernyataan dosen yang bersangkutan yang sesuai dengan SK Dirjen Dikti Nomor : 108/DIKTI/Kep/2001
  4. Melampirkan SK jabatan fungsional dosen (jika ada)
  5. Hasil/Sertifikat Tes Potensi Akademik dan Kemampuan Dasar
  6. Sertifikat Kemampuan Bahasa Inggeris

Perubahan NUPN ke NIDN

  1. Ijasah minimal berkualifikasi S2 atau S1 yang memiliki jabatan fungsional
  2. Jika dosen asing, maka dikontrak minimal 2 tahun dengan syarat sebagaimana NIDN butir C
  3. KTP Terbaru, dianjurkan berwarna/asli ( bukan photocopy)
  4. SK sebagai Dosen Tetap Yayasan yang memuat hak dan kewajiban antara calon dosen dengan yayasan
  5. Ijazah Lengkap (mulai S-1/D-4), Bagi Lulusan PT Luar Negeri disertakan SK Penyetaraannya
  6. Surat Pernyataan sesuai dengan SK Dirjen Dikti Nomor : 108/DIKTI/Kep/2001
  7. Jika memiliki Jabatan Fungsional, maka wajib melampirkannya
  8. Hasil/Sertifikat Tes Potensi Akademik dan Kemampuan Dasar
  9. Sertifikat Kemampuan Bahasa Inggeris

E. BEBAN KERJA DOSEN, BEBAN KERJA NORMAL DOSEN

  1. Pedoman Beban Kerja Dosen 2010
  2. Lampiran beban kerja Dosen
  3. Beban Kerja Normal
  4. BKD Dosen versi 27 Mei 2013
  5. BKD Dosen versi 14 Januari 2013
  6. Web Evaluasi Kinerja Dosen
  7. BahanPaparan Evaluasi Kinerja Dosen
  8. Panduan Pengisian Form Evaluasi Kinerja Dosen
  9. Faq tentang Evaluasi Kinerja Dosen
  10. Draft Penugasan dosen PNS ke PTN Sasaran

F. PEMBINAAN KARIER JABATAN DOSEN

SIPKD (Sistem Informasi Pengembangan Karir Dosen)

Portal SIPKD : http://sipkd.dikti.go.id

  1. Bahan Paparan Konsep SIPKD
  2. Bahan Paparan Petunjuk Pengisian SIPKD
  3. Bahan Paparan Ketua Tim SIPKD 14 November 2013
  4. Bahan Paparan Petunjuk Pengisian Data pada Laman PAK
  5. Bahan Paparan Pengajuan NIDN 20 Nov 2013
  6. Bahan Paparan Dirjen Pencanangan SIPKD 14 Nov 2013
  7. Petunjuk Verifikasi Asesor BKD
  8. Verifikasi Asesor BKD dan Registrasi TPJA
  9. Pencanangan Sistem Pengembangan Karid Dosen / SIPKD

Pengusulan Kenaikan Jabatan Akademik Dosen Online

Semoga bermanfaat bagi teman-teman dosen sekalian.

Sumber : Kopertis dan Dikti

Karena pernah menulis tentang PPDB di SMA 3 Bandung, beberapa menanyakan terkait hal tersebut secara pribadi. Syukurlah, kalo blog (yang jarang diupadte dan dikunjungi ini) ada yang membaca dan merasa mendapat informasi. Karena sudah tidak SBI lagi (meski SPP nya Kaka koq tetap SPP SBI ya?), SMAN 3 meniadakan jalur ujuan tertulis mandiri atau SERU3. Sekarang, hanya ada 1 jalur penerimaan, yaitu jalur akademis melalui nilai UN. Saya tidak keberatan dengan penghapusan SBI (meski berharap kalau begitu SPP nya juga bukan SPP SBI dan moga angkatan berikutnya ada penyesuaian SPP) tapi saya menyayangkan penghapusan jalur test mandiri, SERU3. Satu-satunya jalur, yaitu nilai UN, akan sangat riskan untuk anak-anak dari sekolah yang “tidak mendewakan nilai UN_dengan berbagai cara”. Barangkali hal ini akan menjadi pertimbangan strategi tersendiri. Read the rest of this entry »