Membaca beberapa kasus, yang ngaku-ngaku profesor suatu institusi (padahal asisten / bimbingan saja); sebenernya bukan ybs nya yang mengaku. Tapi ntah media atau panitia yang membuat salah kaprah; dan ybs tidak klarifikasi dan membiarkan saja.Β πŸ™„

Kebetulan juga sedang sign up ke suatu situs konferensi; ditanya posisi. Biasanya saya isi dengan Mrs. atau Lecturer. Padahal ternyata bisa lho diisi sesuatu yang tampak lebih keren he he. Biasanya saya malu kalo dipanggil dengan sesuatu yang ga sesuai kapasitas, tapi ini malah sebenernya ketahuan lamban dalam jabatan akademik 🀣. Masih Lektor.

Berdasarkan Keputusan Senat Akademik Institut Teknologi Bandung Nomor : 043/SK/K01-SA/2002 Tentang Sebutan dalam Bahasa Inggris Jabatan-Jabatan Fungsional Dosen Institut Teknologi Bandung. yang saya dapatkan dari hasil googling dan itu SK 2002 (belum tahu ada update atau tidak, maafkan); beginilah sebutan dalam bahasa Inggris untuk Jabatan Fungsional Dosen (tapi dosen ITB, dosen Unpas boleh ga ya? 😚). Jadi begini:

  • Asisten Ahli = Instructor;
  • Lektor = Assistant Professor;
  • Lektor Kepala = Associate Professor;
  • Guru Besar = Professor

Nah, karena saya Lektor, berarti saya bisa menyatakan diri sebagai Assistant Professor. Sounds cool, huh? Tapi karena saya ga mau dipanggil Prof. (belum pantas); apa saya jadi dipanggil Ass. ? Duh koq ga asyik sih 🀦

 

jabatan fungsional

Advertisements

Ada 5 tahap untuk mengkoneksikan aplikasi java dengan database dengan manggunakan JDBC. Yaitu:

  • Register the driver class
  • Creating connection
  • Creating statement
  • Executing queries
  • Closing connection

Udah, gitu aja? πŸ€”

Di Sabuga kemarin, di kala jeda, unit angklung memainkan lagu “You’ll be in my heart” 🎢🎢. Itu OST film Tarzan, tahun 1999. Saya pun tersenyum, itu “lagunya si kakak” 😍. Iyya, usianya baru 3th kala itu, dan suka sekali lagu (dan gamenya 😑). Mother-son-moment antara Tarzan dan ibunya (yang Gorila), buat saya mengesankan. (Dan tetiba saya jadi merasa menjadi Gorilla 😳).

mother-moments-tarzan-kala-and-tarzan

Ingatan saya mundur ke belakang ketika kakak masih kecil.. dia saya carikan sekolah terbaik, agar saya punya partner dalam membesarkannya πŸ˜‡. Sebetulnya dia sudah kelas 1 SD, sayang sekolahnya menjadi tidak kondusif, pindah menjadi jauh dari rumah dan semakin menjauh dari rute kerja saya. Saya harus pindahkan. Saya lalu lakukan survey sekolah, dengan mendatangi satu persatu sekolah yang masuk area pilihan. Dan saya langsung jatuh hati pada satu sekolah pada langkah jejak kaki saya yang pertama di sana πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜.

Read the rest of this entry »

Keren! Sebuah kata yang mendefinisikan mahasiswa TIF UNPAS ini. Pasalnya mereka telah menjuarai sebuah perlombaan/kompetisi Cyber Security yang diadakan oleh Cyber Lab Forensics ( http://www.cyberlab-aoh.com/ ) Bandung pada hari minggu, 19 Maret 2017 di Gedung Sasana Budaya Ganesha atau yang lebih dikenal dengan Gedung Sabuga. Tidak Tanggung, Tim dari Teknik Informatika UNPAS ini memboyong 2 piala sekaligus Piala Juara 1 dan Juara 2, keren banget kan?

allteam

Ada 2 Tim dari TIF UNPAS yang mengikuti perlombaan ini, masing-masing tim terdiri dari 3 orang. Tim Silicium terdiri dari ; Saeful Abdul Hamied, Yuda Maulana (Menggantikan Ridwan Fauzan) dan Dwi Angga Gumelar yang mendapat Juara 1. Kemudian Tim Aurum, terdiri dari; Wenda Fajar, Muhammad Ilham Firdaus dan Pernandi Imanuddin yang mendapat Juara 2. Lomba berskala Nasional ini diikuti oleh mahasiswa dari beberapa Universitas Ternama di Kabupaten dan Kota – di Indonesia, sebut saja Palembang, Solo, Jakarta Cirebon, Bali dan Bandung. Namun dikarenakan lokasi lombanya digelar di Bandung, mayoritas pesertanya pun dari Jawa Barat. Read the rest of this entry »

http://www.pasundanradio.org/news/unpas-corner/183-pelantikan-prodi-di-lingkungan-unpas

Python in NetBeans IDE 8.0.2

November 21, 2016

Manja πŸ˜€ . Iyya sih..  😜

Programming yang bisa dilakukan dengan editor biasa dan dijalankan melalu command prompt; saya tetap gunakan IDE untuk mempermudahnya. Kurang cool ya? 😈

Meskipun saya bukan fanatik, tapi saya ini kalo sudah suka (Java) ya suka; ga tertarik lagi untuk melihat yang lain. Da aku mah gitu orangnya. Tapi berhubung Python ini terus digembar gembor sebagai bahasa kekinian, minimal menurut http://www.tiobe.com/tiobe-index/ (5 besar), menurut http://spectrum.ieee.org/computing/software/the-2016-top-programming-languages (ranking 3), dan menurut  http://pypl.github.io/PYPL.html (dia ranking 2!). Mau ga mau, suka tidak suka, saya harus sekedar tahu dan bisa say β€œHello World!” Dengan python ini. Literate ya πŸ˜„

Meskipun bahasa ini sudah lama rilisnya, 20 February 1991; 25 years ago, oleh Guido van Rossum , Python semakin popular belakangan ini. Eh penasaran bagaimana menghitung popularitas suatu bahasa? Bisa dicek di sini https://en.wikipedia.org/wiki/Measuring_programming_language_popularity. Atau mungkin dia pake buzzer robot sehingga indeks popularitasnya menaik πŸ˜‚πŸ˜‚

Hush πŸ™Š

Kembali ke Python. Semua resource ada di https://www.python.org/. versi stabil bisa diambil di https://www.python.org/downloads/; saya lebih suka versi 2.7.x don’t ask ya, kenapa dia ada keluarga 3.5.x sementara 2.7.x pun tetap dikembangkan. Bedanya apa? Tanya mas Guildo aja ya. Atau baca-baca di sini. https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Python.

Berhubung ini bahasa scripting dengan interpreter, nah loh; dulu saya tahunya script ya script; ga bisa dibilang bahasa. Jadi kalo saya bilang β€œbahasa scripting” koq jadi tampak suka suka saya ya? Ya jadi kita bisa jalankan kodingan kita (nah loh, ada kodingan dan skriptingan) langsung dengan interpreter melalui command prompt.

Di situlah saya merasa malas πŸ˜΄πŸ˜΄ . Manja! Saya mau pake IDE. Manja ya πŸ˜šπŸ˜š. Sterotipe kodingan line of code itu kayaknya sok keren banget ya (apalagi kalo dia hitam putih), dibandingkan pake IDE yang warna warni centil dan dilengkapi autocomplete. Biarin. Ini masalah preferensi πŸ’†.

Dari sekian pilihan IDE for python (baca sendiri di sini https://wiki.python.org/moin/IntegratedDevelopmentEnvironments) saya akhirnya memilih.. Netbeans 😏. Don’t ask why, itu krn udah ada aja di komputer aku 🐣. dan diam-diam aku mempelajari β€œHow to porting Python to Java”, vice versa 😎. Begitulah. Sekalinya Java tetap Java! #sikap. Oh ya. Sebetulnya orang-orang menggunakan PyCharm, sepertinya lebih mudah.  http://www.jetbrains.com/pycharm/

Nah. Ketika memilih Netbeans IDE itu; saya menyimak video ini.

Ga susah koq. Caranya:

  • Siapkan netbeans (8.0.2). jangan lupakan JRE dan JDK sudah include; silahkan cek di situs Netbeans atau di situs Java. Pokoknya, please Get the Correct Version of NetBeans IDE.
  • Siapkan python (download dan ekstrak); ambil di situs python, bisa juga di http://plugins.netbeans.org/plugin/56795. Pastikan, Get the Python Plugin for NetBeans IDE 8.0.2.
  • Add sebagai plug in, buka plug in manager (dari menu Tools, pilih sub menu Plugins, pilih tab Downloaded, Tekan tombol Add Plugins; add seluruh file Python Plugin for Netbeans yang telah diekstrak)

netbeanpython

  • Buat projek baru dg Python
  • Siapkan program Hello World!

Udah.

Ini contoh program “Hello World!”

__author__ = "pbasari"
__date__ = "$Nov 15, 2016 12:06:21 PM$"

f __name__ == "__main__":
   print "Hello World"

Untuk menjalankannya, cukup tekan tombol Run. Easy. Dan cukup mudah untuk koder Malas Manis Manja seperti saya.

Oh ya. Python tidak mengenal Begin – End; tapi dia menggunakan indentasi untuk setiap blok pemrogramannya. Saya sih senang, karena membuat programmer mau ga mau, harus tertib indentasi!

Selanjutnya. Belajar Python, bisa dicek di https://www.youtube.com/watch?v=N4mEzFDjqtA (sebenernya saya nonton X Factor; Astaga! Honey G masih bertahan!!). Ups. Kembali ke video tutorial; dia menggunakan PyCharm sebagai IDE. Gampang banget lho.

Untuk Dokumentasi Python tutorial lengkap bisa dilihat di  https://docs.python.org/2/tutorial/index.html. Ke depan, saya akan membuatkan Tutorial OOP dengan Python. Tentu tetap dengan IDE Netbeans😚.

__Manja__

 

 

 

Sampah digital

November 7, 2016

Barusan. Saya lihat FB seseorang, yang kabarnya ditemukan meninggal pagi ini dalam kondisi tidak semestinya πŸ˜”. Mahasiswi cantik. Dan saya pun menyesal telah membuka FB ybs. Betapa tidak nyamannya, membuka FB seseorang yang telah tiadaΒ πŸ˜–πŸ˜– . Am sorry, so sorry.. πŸ˜₯πŸ˜₯

Lalu terbayang oleh saya, ketika saya meninggal nanti. Orang bisa melihat FB saya, mengambil kesimpulan (sesuai presepsinya) tentang saya berdasarkan postingan saya yang random dan geje. Lalu menggoogling nama saya, dan menemukan blog ini penuh dengan mumble tak berarti. Ha! πŸ˜ͺ

Meaning, bahwa kita (kita? Elo, kalee πŸ˜“) akan mewariskan artifak tak berguna di dunia maya ini, ketika kita nanti telah tiada. Ais, google selalu mencatat ya? Damn you! Sudah lama saya ingin sekali memiliki blog yang bermanfaat bagi banyak pihak, lalu status FB yang menginspirasi, dan Twitter dengan quote yang indah masuk ke dalam hati. Nyatanya? Ha! Saya cuman bisa berkontribusi nyampah. #shameonme.

Begitulah. Ketika para penggiat lingkungan disibukkan oleh sampah organik dan non organik, saya disibukkan oleh sampah digital ini. Mungkin secara kapasitas, storage tak akan terbatas. Tapi secara kebermanfaatan data, kebayang, jutaan sampah (data dan informasi) terpampang nyata di depan mata kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, dan jutaan generasi berikutnya (Eh sampai jutaan?) Yang dengan mudahnya ditemukan berkat deep learning dari mesin pencari yang dilengkapi dengan kemampuan natural language processing.

Inilah dunia nyata yang saya harus hadapi. Ya. Meski maya, buat saya ini adalah masalah yang nyata.

Seorang teman membayangkan, bahwa anak-anaknya akan merasa bahwa kehidupan dunia maya itu lah dunia nyatanya. Bingung kan? Maksudnya, generasi z sekarang berhadapan langsung dengan serba maya berkat internet yang tak terbatas jarak dan waktu. Mereka bercakap-cakap via line, ngobrol via snapchat, stalking instagram, menonton fb go live atau youtube. Lalu ngobrol dengan google assistant via google Allo (itu mah gue!)

Less humanis? Don’t know. begitu kan generasi berikutnya ini? Ketika teknologi menguasai dunia (sebenernya sih, katanya kucing yang menguasai dunia ini; tapi ini rahasia); bukankah tugas kita untuk tak takluk begitu saja dengan teknologi? Kita yang harusnya mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya! (lalu aku panik karena dari kemarin hp ku ngehang! Puasa hp? Iyya, makanya nge blog lagi πŸ˜‚). See? Seorang aku pun, tak kuasa berdaya menghadapi kebergantungan pada hp dan internet. Gimana anak-anak ya?

Penelitian temanku tentang penggunaan gadget menunjukkan, orang menggunakan HP / internet lebih dari 12 jam sehari. Selain game, chat, medsos, dan belanja online.. tentu mereka menggunakannya untuk update informasi. Kebayang? Ragam data dan informasi. Lalu bumbu hoax, ocehan geje, gambar rekayasa, dan broadcast an mesg yang semua hal yang tak bisa ditelusuri kebenarannya. Bahwa, sejatinya kebenaran itu tak pernah ada. (Sebentar.. Am dizzy). Ribuan wacana tentang cyber army, perang informasi, dan semua hal terkait di dalamnya. (Lalu aku sibuk kepoin Donald Trumph).

Itu. Itu yang akan dihadapi oleh kita dan anak-anak kita. Bagaimana kita membekali mereka? PR besar πŸ’¬πŸ’¬

PS: Bahagialah mereka yang bergelut di bidang big data, open data, mesin pencari dan mesin pembersih; text mining, opinion mining, deep learning. Dan lain lain lain sebagainya. Semoga bisa termanfaatkan untuk kebaikan dunia, bukan kebalikannya. Aku? Aku mah nge blog aja ga bener gini.. πŸ˜£πŸ˜‚